Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Titik terang masalah Anisa.



"Ini Nak, ini foto Anisa lagi sama Faris!" Jill mengambil foto itu, lalu dia melihat wajah si lelaki, tidak bukan laki-laki ini yang dilihatnya waktu itu. Yang bertengkar dengan Anisa memperdebatkan kehamilan.


"Bukan yang itu cowoknya Ay!" ujar Jill berbisik pada Raiz.


"Kamu yakin Ay?" tanya Raiz.


Jill mengangguk, dia benar-benar sudah gatal ingin mengatakan yang sebenarnya, namun tidak tau caranya dan takut membuat orang tua Anisa tersinggung, atau shock.


"Maaf Bu, saya bukannya mau mencampuri urusan keluarga Ibu atau urusan pribadi Anisa sendiri, tapi teman Anisa ini, yang saya bawa ini kedatangannya adalah untuk mengatakan pengakuan bahwa sekitar satu minggu yang lalu dia pernah melihat atau lebih tepatnya tidak sengaja melihat Anisa sedang bertengkar dengan seorang pemuda, namun katanya pemuda itu bukan dari SMA yang sama dengan mereka terlihat dari seragam yang dikenakan juga berbeda!" Raiz mulai menjelaskan apa yang ingin dijelaskan oleh Jill.


Ibunya Anisa terlihat shock bahkan ia menutup mulutnya dengan tangan, tidak ingin percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.


"Apakah pemuda itu Faris? Soalnya Faris juga bukan berasal dari sekolah yang sama dengan Anisa?" tanya Bu Ratih.


Jill menggeleng, "Sayangnya bukan!" jawabnya.


"Dan maaf, Jilly mendengar bahwa Anisa saat itu sedang hamil, lima bulan!" jujur Raiz, entah kabar itu benar atau tidak, tapi baginya harus segera disampaikan.


"Apa? Hamil?"


"Iya Bu!"


"Pak..." Bu Ratih tampak menyeru suaminya, "Pak, ini lho, kemari, Pak..." serunya berteriak.


"Ada apa Bu..." dengan terengah-engah seorang Bapak-bapak kira-kira seukuran dengan Kyai Ahmad datang dari arah dapur.


"Anisa Pak! Anisa..."


"Kenapa? Ada apa Anisa? Apa udah ada kabar dari anak itu?" tanyanya panik.


"Bukan gitu Pak, Anisa Pak..."


"Anisa hamil Pak!"


"Apa?"


"Pak, anakmu... Masa ada temennya Anisa bilang pernah denger kalau Anisa lagi bertengkar sama seorang laki-laki, masalah kehamilan, dia mendengar kalau Anisa mengatakan dia sedang hamil lima bulan!"


Raiz dan Jill menjadi serba salah, bagaimana pun tidak semudah itu membuat percaya sebuah keluarga, apa lagi ini perihal anak mereka.


"Kalian teman-temannya Anisa?" tanya Pak Ruli tidak sabar.


"Saya guru BK-nya Pak, dan ini Jilly, salah satu teman Anisa yang mendengar itu."


"Di mana kamu mendengar itu Nak?"


"Di cafe dekat sekolah Pak, aku waktu itu tidak sengaja mendengar, namun pertengkaran itu berlangsung lumayan lama, laki-laki itu tidak berniat untuk bertanggung jawab bahkan laki-laki itu malah menyuruh Anisa untuk menggugurkan kandungannya." jelas Jill.


"Apa? Astaghfirullahaladzim Anisa... Kamu di mana Nak? Pulang Nak, Bapak sama Ibu janji nggak akan marah apapun yang terjadi padamu asal kamu pulang, benar Nak!" lirih Pak Ruli, dirinya benar-benar sedih saat mendengar pengakuan Jill, untung saja mungkin beliau tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


"Iya bener Nak, Ibu juga!" tambah Bu Ratih.


"Sebenarnya begini saja Bu, saya juga meyakini kalau apa yang dikatakan oleh Jilly memang benar adanya, meskipun dia tidak memiliki bukti kuat untuk itu. Dan kalau baypak dan Ibu mengizinkan, bagaimana jika besok pagi kami akan melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib sekalian untuk memperjelas lagi sudah sampai di mana laporan yang sudah Bapak dan Ibu ajukan tentang hilangnya Anisa!" ujar Raiz.


"Benar mungkin lebih baik memang seperti itu!" angguk Pak Ruli.


"Ya saya juga setuju, kami minta bantuannya ya pak guru, laporkan saja, kami tidak akan menuntut apapun kami hanya minta anak kami kembali, benar!" ucap Bu Ratih penuh harap.


Bersambung...