
"Bunda bahagia banget kan?" tanya Jill, dia mengusap lembut perut Shakira.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya salah satu keinginan Bunda tercapai!" sahut Shakira.
"Jio mana sih Ma?" tanyanya lagi beralih pada Shirleen karena dari tadi sore semenjak sampai Jill memang tidak pernah melihat kembarannya itu.
"Nggak tau, tadi sih abis dari Butik nganterin Cel, tapi nggak tau deh nggak ada pulangnya sampe jam segini." jawab Shirleen, jarinya sudah dengan lincah mengetik nomor Jio, menghubungi anaknya itu supaya bisa segera kembali, ada Shakira dan Roy yang ingin berbagi kebahagiaan.
"Itu anak gimana sih Ma? Emangnya diterima ya sama Cel, Celia gimana nanggepin pernikahannya dan Jio ntar minggu?" kepo Jill. Dia benar ingin tau, kemarin sebanyak yang dirinya lihat, Cel memang tidak terlalu menyukai Jio, nah kena kan sekarang batunya. Bagi Jill, akhirnya ada juga cewek yang tidak menyukai kembarannya itu, dan sekalinya ada langsung akan menjadi pasangan hidup, gila nggak tuh?
"Celia baik, Om Afik juga, Tante Zalin udah terima kok!" jawab Shirleen.
"Bunda bilang katanya Jio ya yang suka sama Cel?" tanya Jill lagi.
Shrileen mengangguk, entahlah dirinya harus jujur atau tidak mengenai Jio yang telah merusak Celia. Tapi, yang jelas Jio sendiri yang mengatakan kalau anak itu memang menyukai Celia.
"Aku kok kayak nggak percaya ya Ma?"
"Nggak percaya apanya Jill?" tanya Shakira.
"Ya nggak percaya aja Bun, Ma, Jio sama Celia itu awalnya bahkan enggan buat tegur sapa, eh tiba-tiba aja mau nikah, aneh aja aku!"
"Ya gimana orang dia bilang dia cinta!"
"Hemmm, tapi aneh aja, Jio kayak nyembunyiin sesuatu gitu? Apa jangan-jangan Mama memang udah tau ya kenapa?" selidik Jill.
"Tau apanya?" kaget Shirleen. Lah kenapa ini anak bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu. Benar-benar duplikat Jason.
"Ya kali aja kan!"
"Ada apa lo mau tau tentang gue?" tanya Jio cepat yang ternyata saat lewat di ruang keluarga, mendengar pertanyaan Jill tentangnya dan Celia.
"Jio!" Jill langsung bangkit dan memeluk Jio, aaahhh Jio rasanya dia benar-benar rindu.
"Jill..." Jio malah berusaha melepaskan pelukan Jill, dan itu membuat Jill heran, tidak biasanya.
"Kamu dari mana aja sih Bang?" tanya Shireen.
"Abis dari Cel Ma, ditahan sama Om Afik!" jawab Jio, dari raut wajahnya sih meyakinkan, namun entahlah apa yang sebenarnya terjadi.
"Yo, kamu benar-benar suka ya sama Cel?" tanya Jill.
"Kenapa nanyain? Peduli?" cueknya.
"Abang... Sini dulu sama Bunda!" ajak Shakira, ia ingin berbagi kebahagiaannya pada Jio, jadi segera memanggil putranya karena selain itu dia juga memang kangen Jio.
"Bunda! Bunda udah lama?" tanya Jio. Ia tidak menghiraukan Jill, rasa sakit hati karena ditinggal nikah itu masih ada. Entahlah, saat ini Jio juga sedang bingung memposisikan perasaannya bagaimana, dia seperti ingin marah pada Jill tapi tak bisa, karena meski bagaimanapun mereka tidak akan pernah bisa untuk bersama. Lagi pun untuk saat ini sebagian hatinya mungkin telah dihuni oleh Celia, orang baru dalam hidupnya yang benar-benar membuat hidupnya jungkir balik, karena dari sekian banyak wanita, hanya Celia lah yang terang-terangan bersikap menolak pesonanya, Jio benar-benar tidak mengerti standar pasangan ideal untuk seorang Celia.
"Udah dari sore nungguin kamu, pas Nona Shirleen bilang kalau Jill ke rumah utama, Bunda langsung kepikiran untuk nemuin kalian, eh taunya Abang belum pulang-pulang, seneng banget keknya yang mau nikah!" goda Shakira pada anak bujangnya itu, yang beberapa hari lagi juga akan melepas masa bujangnya.
"Maaf ya Bunda!" Jio langsung mengambil tangan Shakira dan menciumnya lembut, dibandingkan dengan Shirleen bahkan Jio lebih lebih dekat dengan Shakira. Karena Shakira, sedari dulu memang selalu menuruti apapun yang dirinya inginkan.
"Hemmm, ada Bunda kek gini, Mama benar-benar nggak dianggap!" sindir Shirleen.
Shakira, mendengar itu langsung menunduk, "Maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud, mungkin saya..."
"Shakira... Mulai deh, aku itu bercanda ya ampun..." Shirleen lagi-lagi harus mengaku salah bicara, ia lupa Shakira akan merasa tidak nyaman jika dia berkata begitu.
"Maafkan saya Nona!"
"Sudah sudah, Jio... Bunda kamu mau ngomong sesuatu sama kamu, kamu simak itu baik-baik!"
Shakira sedikit malu dan merasa bersalah, namun keinginannya untuk segera berbagi kebahagiaan dengan Jill dan Jio juga tidak bisa dirinya tunda.
"Oh ya? Apa Bun? Mau ngomong apa?" antusias Jio, dia penasaran.
Shakira tersenyum, lalu ia menarik napas dalam sebelum memulai pembicaraan.
"Sebentar lagi kalian, dua kesayangan Bunda ini... Bakalan punya adik!" jawab Shakira cepat.
"Hah?" ekspresi terkejut dilayangkan Jio, sementara Jill di belakangnya yang sedang duduk santai karena memang sudah tau, hanya bisa turut menyaksikan.
"Iya! Bayi tabung Bunda berhasil, dia udah ada di rahim Bunda!" lanjut Shakira lagi.
"Apa benar?" tanya Jio, arah pandang matanya tertuju pada perut Shakira yang masih rata, benarkah sudah ada nyawa di sana? Lalu tiba-tiba saja dirinya langsung teringat akan Celia, bagaimana jika nanti Celia juga hamil.
Shakira mengangguk, ia senang karena sudah berbagi kebahagiaan pada putra dan putrinya.
Setelah sadar, Jio langsung saja memeluk Shakira, dia tidak bisa menahan harunya, karena begitu mengetahui kalau Bundanya memang sudah lama menginginkan anak kandung.
"Selamat ya Bunda, Jio ikut seneng, selamat..." ucapnya lirih di pelukan Shakira.
Bersambung...