Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Menghindari Raiz.



Aku merasakannya, aku tidak dapat memilikinya.


Seperti orang bodoh, aku seperti ini hanya jika bersamamu!


^^^Jill.^^^


___


Sudah dua hari Jill menjadi anak teladan, dia sama sekali tidak membolos, tidak membuat masalah apapun, hal itu semata-mata ia lakukan untuk menghindari Raiz, meski masih juga ada rindu yang bersemayam namun sebisa mungkin Jill melepaskan Raiz.


Yah, setelah dipikir-pikir, ada baiknya dia menyerah.


Kembali ke masa dimana dirinya tidak peduli akan perasaan orang lain, tentu seharusnya itu mudah saja jika dilakukan untuk dirinya sendiri. Cukup menjadi acuh seperti biasanya, maka tidak akan ada yang bisa menumbangkannya.


Namun itu hanya ekspektasi Jill saja, nyatanya semakin kuat ia berusaha melepaskan maka semakin kuat juga rasa ingin mengambil Raiz dari wanita itu. Jill segera menepis pemikirannya yang telah lancang menyukai milik orang lain, dan menganggap bahwa dia dan Raiz hanya sekedar cinta monyet saja.


Jill juga berpendapat bahwa mungkinkah karena tidak pernah ada yang bisa mengambil hatinya selama ini, jadi dia terus memikirkan Raiz yang menurutnya berbeda. Dia akan baik-baik saja, Raiz akan menghilang dari pikirannya seiring berjalannya waktu.


"Jilly Almas!" seru Bu Indri, dia tengah menjelaskan tentang koloid di depan, namun dilihatnya salah satu muridnya itu tampak termenung.


Jill tidak menjawab, namun dia kembali memperhatikan, kemudian Bu Indri memanggilnya untuk maju memberinya hukuman.


Jill tidak melawan, ini sama sekali seperti bukan dirinya, jika dulu saat dia ketahuan tidur di kelas dan guru yang tengah mengajar menghukumnya, Jill tidak akan peduli, ia malah pergi meninggalkan kelas dan jangan harap akan kembali.


Kali ini tidak, satu-satunya alasan adalah karena dia tidak mau berurusan dengan Raiz.


"Kenapa melamun?" tanya Bu Indri, setengah berteriak, dan hal itu membuat Jill tidak suka, Shirleen dan Jason saja tidak pernah meneriakinya, padahal Papanya itu telah menghadapi kelakuannya ini selama empat tahun lamanya. Menjadi langganan pemanggilan orang tua murid, namun Jason tidak pernah sekalipun membentaknya, apa lagi berbicara keras.


"Bukan urusan Ibu!" jawab Jill.


Benar-benar pusing menghadapi anak ini, Bu Indri mengambil buku di atas meja dan memberikannya pada Jill, "Jelaskan, menggantikan saya!" pintanya dengan remeh.


Jill melihat ke arah papan tulis, hanya tentang koloid, bukan masalah baginya.


"Mengapa? Kamu keberatan? Makanya jangan pernah tidak fokus jika saya sedang mengajar!" ujar Bu Indri.


"Aku tidak akan menyebutnya sebagai hukuman!" ucap Jill membalas. Kemudian ia melangkah menuju belakang, Bu Indri sempat kaget karena mengira Jill melawan padanya, namun di detik berikutnya dia terperangah.


"Koloid adalah campuran larutan dan suspensi. Dengan kata lain, koloid bukanlah larutan dan bukan pula suspensi!" kata Jill mengawali penjelasannya.


"Apa kalian ingin nanya sesuatu, gue siap aja buat jawab!" lanjutnya yang semakin membuat Bu Indri terperangah, Jill sama sekali tidak gugup dalam menerima hukumannya, gadis itu bahkan menantang teman sekelasnya untuk mengajukan pertanyaan, seolah dia bisa menjawab apapun tentang pembahasan mereka kali ini.


Tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan, mereka lebih takut pada Jill dari pada Bu Indri. Pasalnya kejadian yang di alami Putri dan antek-anteknya sewaktu di kantin beberapa hari yang lalu, memang menyita perhatian mereka, apa lagi terdengar kabar kalau Jill pernah menjambak rambut Bu Winda, meskipun belum di ketahui fakta yang sebenarnya namun tetap saja teman sekelas Jill menganggap Jill adalah gadis yang mengerikan.


Mereka bagai sudah membuktikan bahwa rumor yang beredar memang benar, tukang bully gila itu harus nyasar di kelas mereka, dan usahakan untuk jangan pernah berbuat masalah.


"Kalian nggak mau nanya? Tanya aja, apapun!" pinta Jill lagi.


"Saya yang akan tanya!" ujar Bu Indri.


"Oh, silakan Bu!" santai Jill.


"Sebutkan, 2 contoh efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari!" tanyanya.


Jill mengangguk, lalu dia berjalan semakin mendekat ke arah Bu Indri, "Warna biru langit pada siang hari dan jingga di sore hari!"


"Sorot lampu mobil saat udara berkabut!"


Jill mudah saja menjawab itu, dia itu bukannya bodoh, dia bahkan mengetahui banyak hal, namun selama ini ia sengaja untuk kelewat santai, karena ia memang tidak memiliki minat untuk pelajaran. Namun jika soal yang mudah seperti ini tentu saja Jill bisa menjawabnya, apa lagi koloid memang terjadi di kehidupan sehari-hari.


Meskipun dia seperti tidak menanggapi, namun telinganya terus saja menangkap apapun yang guru jelaskan di depan, dia bisa menyerap itu meskipun fokusnya tidak berada di sana. Itulah Jill dengan kecerdasannya.


Tentunya, anggap saja dia sedang beruntung, karena pembahasan kali ini bukan tentang tabel periodik, karena materi itu dibahas saat dirinya tengah mengalami masalah kasus pembullyan. Dia hanya melihat sekilas yang Jio kerjakan waktu itu, dan Jill belum pernah membukanya lagi, jadi dia belum memahami dengan baik hanya beberapa materi dasar yang ringan saja.


Bersambung...