
"Bagaimanapun gue harus segera menghalalkannya!"
^^^Raiz.^^^
___
Raiz membawa Jill ke kamar, gadis itu terlihat memberontak, baru saja dia begitu percaya kalau Raiz tidak akan berbuat macam-macam padanya, namun apa ini? Raiz malah membawanya ke kamar, apakah dia akan habis hari ini.
Meski pernikahan mereka akan dilangsungkan sebentar lagi, tapi kenapa Jill rasanya tidak rela jika Raiz melakukan sesuatu padanya.
"Raiz... Kamu apa-apaan sih!" kesalnya.
Raiz menghempaskan tubuh Jill di tepian ranjang, kemudian langkahnya menuju lemari pakaian, mulai mencarikan pakaian yang kiranya cocok dikenakan Jill sembari menahan sesuatu yang juga ikutan bergejolak di bawah sana.
Sial, Jill ini benar-benar sulit dikendalikan lebih dari ujian.
Jangan salahkan Raiz, bukannya dia begitu mudah tergoda, dia hanyalah lelaki normal yang akan merasa bergairah jika disuguhkan pemandangan demikian, apa lagi yang dilihatnya adalah seseorang yang juga dirinya cintai dan sebentar lagi akan dinikahinya.
Namun di samping itu, Raiz juga masih berbuat sewajarnya, dia lebih mengutamakan beribadah kepada-Nya, tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya, bahkan dia hampir setiap malam mengerjakan sholat malam, entahlah mungkin ada benarnya jika banyak orang yang bilang bisa karena biasa, Raiz pun demikian, sedari kecil hidupnya sudah seperti itu, jadi saat tengah malam biasanya dia akan terbangun dengan sendirinya untuk melakukan ibadah rutinnya itu, dan dia merasa tidak nyaman saat mengabaikannya.
"Ini pake, jangan pake yang gitu, kamu ini apa-apaan sih, aku ini cowok ya!" ujar Raiz, memberikan celana panjang untuk Jill, dia hanya asal memilih suka atau tidak Jill harus memakainya.
Jill cemberut, dia sudah terbiasa berpakaian seperti itu, selama ini tidak ada yang melarangnya, jika di rumah tentunya dia akan berpakaian sesantai mungkin, dan santai menurut Jill ya seperti itu.
Dengan terpaksa Jill mengambil celana yang disodorkan Raiz, namun matanya membulat kala tidak sengaja melihat sesuatu yang menyembul dari balik celana Raiz, "Aaaahhh! Dasar m*sum!" teriaknya terkejut.
Raiz menoleh kebawah, benar saja anak didiknya itu malah sudah dalam mode on karena sang empu yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari paha mulus Jilly, Raiz dengan geram berbalik lalu menuju kamar mandi, tidak lagi mempedulikan teriakan Jilly yang memanggilnya m*sum, dia hanya ingin membebaskan anak didiknya yang mulai sesak dibalik celana.
Sementara Jilly, dia malu sekali, apa tadi itu, seumur-umur baru kali ini saja dia melihat sesuatu seperti itu menyembul begitu kentara, dia menarik napasnya dalam lalu hembuskan, mencoba tetap berpikiran tenang, setelah ini tentunya akan ada kecanggungan antaranya dan Raiz.
"Katanya anak ustadz tapi benar-benar mesum!" gerutu Jill, padahal bukan salah Raiz, salahkan saja dirinya yang sudah dengan tanpa dosa memperlihatkan paha putih mulus itu, siapapun tak terkecuali Raiz jika dihadapkan dengan yang seperti itu pasti akan tergoda, tentunya sang hasr*t akan segera bergejolak.
Bersambung...