Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Dia akan menikah!



Aku tidak pernah merasakan segila ini saat memikirkan seseorang! Pertama kali aku melihatnya pagi itu, setelahnya aku tidak bisa berhenti memikirkannya, dan itu bahkan kulakukan hingga hari ini.


^^^Jill.^^^


___


"Ada apa Nak?" tanya Ummi Hana saat melihat anak bungsunya itu seperti tengah memikirkan sesuatu, namun anehnya malah senyum-senyum sendiri.


"Tidak apa Umi!" jawab Raiz.


"Apa Raiz sudah setuju untuk menikah?" tanya Ummi Hana lagi.


"Apa Aliyah juga mau dijodohkan dengan Raiz?" tanya Raiz, yah gadis yang akan dinikahi Raiz adalah Aliyah, anak dari sahabat karib Kyai Ahmad.


Aliyah dan Raiz memang sudah berteman sejak kecil, namun mereka berpisah saat Aliyah harus pindah ke Jakarta mengikuti Papanya yang saat itu dipindahtugaskan. Raiz bahkan tidak mengetahui bagaimana rupa seorang Aliyah saat ini, rencananya jika Raiz setuju mereka akan melaksanakan salah satu rangkaian proses ta'aruf yang akan dilangsungkan besok malam.


Pagi tadi Kyai Ahmad dan Ummi Hana mengatakan padanya, Aliyah saat ini tengah mengidap penyakit kanker darah. Kedua orang tuanya yang adalah sahabat karib Kyai Ahmad selalu saja menuruti apapun yang Aliyah mau, termasuk saat Aliyah mengatakan ingin menjadikan Raiz sebagai suaminya.


Sebenarnya Kyai Ahmad tidak pernah memaksakan kehendaknya, terutama dalam ibadah pernikahan, meski dia adalah orang yang taat dalam hal agama, namun untuk masalah pendamping hidup anak-anaknya, Kyai Ahmad selalu menyerahkan semuanya pada yang bersangkutan, bukan hanya Raiz, kedua kakaknya pun ia bebaskan untuk memilih pendamping hidup sendiri, hanya saja Kyai Ahmad tentunya menentang istilah pacaran, ataupun pendekatan yang sama sekali tidak mengacu pada syariat Islam.


Raiz akan dipertemukan dengan Aliyah, mereka akan saling mengenal satu sama lain namun tentunya dengan didampingi keluarga mereka.


"Tentu sayang, karena Aliyah sendiri yang menginginkannya!" jawab Ummi Hana dengan menampilkan raut kesedihan.


"Ummi..." Raiz menghapus air mata Ummi Hana yang sudah menggenang di pelupuk. "Semuanya akan baik-baik saja!"


"Maafkan Umi ya Nak! Kami bahkan harus mengabaikan perasaanmu. Jika Raiz tidak bersedia, Raiz katakan saja pada Abi, percaya... Abi pasti mengerti!"


"Tidak Ummi, Raiz bersedia menikahi Aliyah!" jawab Raiz yang setelahnya mampu membuat Ummi Hana mengembangkan senyum.


"Benar?" tanya Ummi Hana memastikan.


Raiz mengangguk pasti.


"Raiz tidak terpaksa?"


"Sama sekali tidak Ummi, mungkin sudah saatnya juga Raiz menikah!" sahut Raiz tenang.


Sedang di kediaman utama Jason Ares Adrian,


"Ada aja!" sahut Jill enteng.


"Pa anakmu ini lho!" adu Shirleen pada Jason.


"Biarin aja Ma, mungkin dia tadi abis mastiin sesuatu!" sindir Jason yang sebenarnya sudah mengetahui habis dari mana anak bungsunya itu.


"Papa!" Jill langsung saja mengambil tangan Papanya itu dan membawa Jason menjauh dari Shirleen dan keramaian.


"Papa tau dari mana?" selidik Jill.


"Apa sih Jill?" tanya Jason pura-pura tidak mengetahui apapun, ia mengambil ponsel dari sakunya dan menjadikan benda canggih itu sebagai obtions yang lebih menarik dari pada harus melihat Jill.


"Papa? Papa mata-matain aku ya?" tanya Jill sekali lagi.


"Memangnya kenapa kalau iya?" santai Jason.


"Papa iihhh!" geram Jill, dirinya baru tau kalau gerak-geriknya selama ini di mata-matai Jason.


"Papa, awas jangan bilangin Mama ya!" Jill mengambil tangan Jason dan membawanya ke dalam dekapan.


"Nanti juga malah kamu yang bakalan bilang sendiri!" ucap Jason penuh arti.


"Apa?"


"Nak, apa kamu tidak punya pilihan lain?" tanya Jason mencoba berbicara serius dengan Jill.


"Sayangnya enggak!" sahut Jill pasti.


"Kamu benar-benar menginginkannya?" tanya Jason lagi.


"Dia nggak mau sama aku Pa!" keluh Jill.


"Dia akan menikah!" ungkap Jason kemudian.


Bersambung...