
"Kamu udah siap Ay?" tanya Raiz, matanya menatap Jill lamat, apakah mereka akan melakukannya malam ini, malam pengantin mereka?
Jill tidak bilang, Raiz merasa seharusnya ia mempersiapkan segalanya, menghias kamar mereka menjadi sedikit bernuansa romantis misalnya, anggap saja sebagai menambah gairah saat mereka melakukan malam pertama.
Jill mengangguk, namun bersamaan dengan itu tiba-tiba saja dirinya juga teringat akan suatu hal yang harus dituntaskan terlebih dahulu.
"Tapi Ay..." cegah Jill saat Raiz sudah ingin menggapainya.
"Ada apa?" tanya Raiz.
"Aku, sebenarnya aku..."
"Apa?"
"Bisa nggak aku belajar agama dulu dari kamu?" tanya Jill kemudian.
"Belajar agama? Tentang? Cara sunah Rasul?" tebak Raiz, belajar apa coba saat mereka sedang dalam posisi begituan. Jangan mengada-ngada Jill, aku mau buka puasa, Raiz membatin dalam hati.
Wajah Jill semakin memerah mendengar itu, namun kewarasannya ternyata masih terjaga karena kepalanya mulai menggeleng pelan.
"Terus?"
"Tayamum!" jawab Jill cepat, selain memang dirinya gugup tentunya ia ingin segera menyadarkan diri dari posisi yang sangat mengasikkan ini.
"Hah?"
"Sebenarnya aku ada tugas, tentang pelajaran agama, ayat dalam Al-Qur'an yang membahas tentang Tayamum, dan juga berikut cara bacanya. Besok, harus udah bisa!" jelas Jill sembari membetulkan posisinya, sudah tidak berada di bawah kungkungan Raiz, karena suaminya itu sejurus kaget saat dia mengatakan pembahasan mengenai Tayamum.
Jill sebenarnya sedikit merasa bersalah sih, mengingat Raiz mungkin sudah begitu lama mengidamkan malam pertama mereka yang juga belum tayang, namun mau bagaimana lagi, jika tugas rumah kali ini hanya mendiskusikan tentang Tayamum, tentu saja bukan hal sulit bagi Jill di zaman yang sudah serba canggih ini, tanpa bantuan Raiz pun dirinya bisa menuntaskan sendiri, namun mengenai membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, tentu saja Jill sangat sangat meragukan kemampuannya. Bahkan Jill sudah merasa gagal sebelum berperang.
Kalau sudah begini, memang ada sesal saat di masa kecilnya ia selalu membolos kala Papanya menyuruhnya mengaji.
Sementara Raiz, hanya bisa menghela napasnya dalam, tentu saja mana mungkin dirinya bisa menolak.
Segera dirinya bangkit lalu menunju rak yang berisikan buku-buku tentang Islam, membaca sampulnya dan sedikit membuka helai demi helai buku mana yang mungkin bisa membantu Jill.
Raiz mengambil tiga buku yang membahas tentang Tayamum, lalu memberikan buku itu pada Jill yang tampak canggung duduk di ranjang.
"Ay, kamu nggak marah?" selidik Jill.
Kemudian, Raiz menyuruh Jill untuk memperlihatkan apa saja tugas sekolahnya, ini harus segera diselesaikan.
...***...
"Kamu jadi By, suruh Raiz ngelola perusahaan?" tanya Shirleen, suaminya itu baru saja pulang kerja karena lembur, Shirleen sedang memijat pelan kepala Jason, mencoba merilekskan tubuh suaminya itu.
"Nggak tau, kayaknya Raiz nggak mau!" jawab Jason seraya merasakan nikmat pijatan Shirleen di kepalanya, beruntung Shirleen bisa dikatakan istri serba bisa jika dalam hal mengurus dirinya.
"Lho kok gitu?"
"Ya mau gimana lagi By, kita kan nggak mungkin memaksakan kehendak!"
"Hemmm... Iya juga sih!"
"Cup!" Jason mengambil tangan Shirleen dan langsung menciumnya, "Aku masih punya Abang, masih punya Jio, Jill juga boleh kalau dia tertarik nanti!" ujar Jason lagi, tak mau istrinya merasa cemas.
Belakangan ini, Shirleen memang menyuruhnya untuk sedikit beristirahat, mereka sudah mendiskusikan bagaimana baiknya, Shirleen mengatakan bagaimana jika Raiz diberikan satu tanggung jawab untuk mengelola perusahaan, tepatnya ADRIAN Group, apa lagi perusahaan itu berjarak lumayan dekat dari rumah Raiz, kalau saja Raiz bisa mengerti keinginan mereka tentulah Jason akan merasa lebih baik.
Jacob masih kuliah, baru saja melewati tahun pertama di negeri orang, sedang Misca, sulung mereka itu lebih tertarik untuk menjadi dokter dari pada mengelola perusahaan, Jason dan Shirleen sebenarnya bukanlah orang tua yang bisa memaksakan kehendak pada setiap anak mereka. Tentunya selama ini mereka membebaskan apa saja yang anak-anak inginkan mengenai pendidikan.
Lalu Jio dan Jill, Jason belum bisa berharap pada Jio, apa lagi Jill.
Satu-satunya yang mungkin memang hanya Raiz, namun Jason juga tidak bisa berharap penuh pada Raiz meski menantunya itu memiliki kualifikasi yang sangat sempurna menurutnya.
"Siapa By?" tanya Jason saat Shirleen mengambilkan ponselnya yang berada di nakas terdengar berdering.
"Roy!" jawab Shirleen.
Jason mengambil ponselnya yang disodorkan Shirleen, mengangkat panggilan dari Roy cepat seraya meninggalkan Shirleen menuju balkon.
"Katakan siapa!"
^^^"Aliyah!"^^^
^^^"Ben sudah menyelidikinya, si gempal itu harus kita apakan?"^^^
Bersambung...