Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Makan malam..



"Eh ada Bunda!" sapa Jilly saat sudah sampai di ruang makan, terlihat di sana juga hadir Ayah dan Bundanya.


"Jio mana Ma?" tanya Shirleen lagi.


"Habis dari fitting baju, tau deh belum pulang juga, mungkin masih di rumah Cel!" jawab Shirleen seraya tangannya mulai menyendokkan kari daging untuk lauk suami.


Raiz lalu duduk di ikuti Jilly, masih terlibat canggung saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Jason, namun sebisa mungkin ia menepis itu.


"Makan makan, nanti ada yang mau Papa omongin, ah enggak lebih tepatnya Ayah kamu!" ujar Jason, yang semakin membuat jantung Raiz berdetak kencang, apa lagi ini?


"Jilly, ambilin makan itu suami kamu!" perintah Shirleen, karena dilihatnya Jill sama sekali tidak ada pergerakan untuk melayani Raiz.


"Eh iya Ma!"


Jill langsung saja meniru apa yang dilakukan Shireen tadi pada Jason, namun karena ini adalah hal pertama bagi Jill tentunya akan menimbulkan masalah.


"Ay, udah ini kebanyakan!" bisik Raiz, karena Jill menambahkan satu sendok penuh lagi nasi di piringnya. Sementara Jill, entah mungkin karena terlalu bersemangat atau memang tidak berpengalaman, sayangnya bisikan Raiz ternyata tidak sampai di gendang telinganya. Raiz hanya bisa menunduk dalam kala setelahnya Jill juga memenuhi piringnya itu dengan lauk pauk, cukup banyak hidangan yang tersaji di meja makan dan hampir semuanya hadir di piring Raiz karena ulah Jilly.


Pada saat Jill ingin menuangkan sup, Raiz segera menghentikan itu, sudah cukup! Ini saja dirinya belum tentu bisa habis memakan semuanya. Raiz memegang lembut tangan Jill, namun Jill yang tidak terkejut malah menumpahkan satu sendok sup itu ke arah baju Raiz.


"Aahhh!" desis Raiz tertahan, ia memejamkan matanya sebentar karena rasa panas yang sedikit membakar dadanya.


"Ay... Maaf maaf!" ucap Jill langsung.


Shirleen yang melihat itu dengan sigap langsung memberikan tissue, Jill langsung membantu membersihkan baju koko Raiz yang terkena tumpahan sup.


"Gimana bisa tumpah sih Jill?" tanya Shirleen, aduh memalukan sekali rasanya, anaknya ini kentara sekali seperti tidak pernah mengurus suaminya. Kalau begini ceritanya, Shirleen sepertinya tidak akan bisa membiarkan Jill berkunjung ke Bandung, bisa-bisa si bungsu malah akan menjadi tertawaan di sana, Shirleen lagi-lagi khawatir.


"Tidak apa Ma, tadi Raiz yang langsung pegang tangan Jill, jadi mungkin Jill terkejut!"


"Iya! Lagian kamu kenapa sih Ay, udah tau aku lagi ngurusin kamu!" gerutu Jill kesal, benar-benar tidak memahami kesalahannya.


"Nggak papa, cuma maksud aku udahan, ini udah penuh!" jawab Raiz yang membuat semua orang yang berada dalam satu meja makan itu seketika langsung saja menoleh ke arah piringnya. Dan yah, memang benar, piring Raiz dengan berbagai lauk di atasnya malah tak ubah seperti miniatur gunung Merapi.


"Astagah Jilly!" ucap Shirleen tak percaya. Jason malah sudah meneguk air ludahnya sendiri, ikut merasakan kesusahan Raiz. Begitupun Roy yang terlihat sedang mengelus dadanya karena kelakuan Jill.


"Lah kenapa Ma?" tanya Jill tanpa dosa telah memberikan Raiz makanan porsi kuli, itupun plus plus.


"Kamu ini gimana sih, itu kalau udah sebanyak itu gimana Raiz ngabisinnya coba?" tanya Shirleen, memijit pangkal hidungnya pelan, ya Tuhan Jilly!


"By..." Jason mengusap punggung Shirleen pelan, sedikit canggung dengan Raiz, karena taulah jika Shirleen sudah ngomel, akan panjang urusannya jika tidak segera dihentikan.


"Maafin aku ya Ay!" ujar Jill sedih, lagi lagi dia merasa gagal menjadi istri yang baik, matanya sudah mengembun, Shakira yang menyaksikan itu selalu saja tidak tega.


"Anak Bunda, Bunda mau dong daging yang ada di piring Raiz itu!" ucap Shakira tiba-tiba, Jason langsung menatap heran ke arah Shakira.


"Ah yaaa, orang hamil kan kadang memang suka aneh-aneh yaaa!" Roy menambahkan, ia mengerti tentunya sang istri melakukan itu supaya Jill tidak terlalu bersedih, dan supaya Raiz juga tetap bisa menghabiskan makanannya kalau sudah dibagi.


"Bunda hamil?" tanya Jill.


"Emmm, yah ketahuan deh! Padahal Bunda mau ngasih taunya selesai makan, tapi Bunda beneran nggak tahan liat daging di piring Raiz, Raiz boleh yaaa bagi Bunda dikit!" ujar Shakira semakin melancarkan aktingnya.


"Ah, iya iya Bunda, boleh kok!" jawab Raiz, dia tidak tau kalau orang hamil bisa melakukan hal begitu, untung saja dia belum sempat memakan apapun yang tersedia di piringnya ini. Jadi bisa dipastikan menu makan malamnya ini memang masih bersih.


Roy langsung saja membagi menu makan malam Raiz untuk Shakira, tanpa rasa canggung yang ada dirinya malah bangga, istrinya itu akan melakukan apapun untuk putri dan putra mereka. Dia juga membagi nasi Raiz di piringnya, untuk lebih memudahkan Raiz.


Jason yang melihat itu pun terharu, Shakira tak ubah seperti perisai bagi Jill, wajar saja Jill bisa menerima Shakira dengan baik dari dulu hingga kini.


Sementara Shirleen, dia sedikit menyesal, faktor usia kadang membuatnya cepat lelah dan juga mudah terbawa emosi, dia menyadari tak seharusnya ia memperlakukan Jill begitu, apa lagi di hadapan Raiz, dan juga ada Ayah dan Bunda putrinya itu di sini.


"Bunda beneran hamil? Berarti bayi tabungnya berhasil dong?" tanya Jill antusias, meskipun masih ada sedikit kesedihan karena masalah menu makan malam porsi kuli tadi, namun sedikit terobati kala mendengar kabar Bunda kesayangannya itu tiba-tiba saja mengatakan hamil.


"Udah, makan dulu ya! Nanti kita bicarain, yang tadi Papa bilang Ayah kalian yang mau bicara ya mau bilang kalau Bunda kalian hamil, jadi sebentar lagi kamu bakalan punya adik!" jawab Jason, ia menganggap masalah sudah selesai, beruntungnya bisa langsung diatasi.


Lalu, semua orang makan malam dengan santai, walau sempat terjadi ketegangan di awal namun harus Raiz akui, keluarga Jill benar-benar hangat, sungguh apa yang dirinya dengar dari rumor yang mengabarkan Tuan Jason Ares Adrian ini begitu kejam nyatanya kali ini bisa dibantah olehnya, yang dilihatnya Jason adalah seorang Ayah yang penyayang, seorang suami yang sangat mencintai istrinya, seorang Bos yang sangat wellcome. Sama sekali tidak terlihat keburukan apapun untuk waktu yang memang masih singkat kala ia mengenal mertuanya itu.


"Mau tambah By?" tanya Shirleen, menawarkan nasi untuk suaminya.


"Nggak usah!" jawabnya lembut, lalu menatap Roy, "Nambah Roy, ayok! Udah lama kita nggak makan-makan kek gini, kamu Shakira! Ibu hamil harus banyak makan karena udah ada dua nyawa!"


"Kamu Raiz, Jill, nambah nambah!" lanjutnya lagi.


"Iya Tuan Muda!"


"Iya Tuan Muda!"


Roy dan Shakira menyahut bersamaan, sementara Raiz hanya bisa mengangguk untuk menghargai.


Bersambung...