
"Kau seharusnya mempercayai apa yang kau dengar!" ujar Jason, matanya menatap nyalang seorang gadis yang saat ini sedang terikat di kursi.
"Ya aku memang mempercayai, heh!" dengus gadis itu kesal, sontak berhasil membuat Jason tertawa geli akan keberaniannya.
Pelan, wajah itu mendekat, Jason menunduk untuk melihat betapa menyedihkannya gadis itu.
"Kau mau apa?" teriak sang gadis ketakutan.
"Menurutmu?"
"Apa yang akan kau lakukan?" teriaknya lagi.
"Aisshhh menyebalkan! Bukankah sudah kukatakan, kau lebih baik mempercayai saja apa yang kau dengar, satu hal yang selalu tidak aku sukai adalah aku tidak suka menjelaskan betapa buruknya aku ini! Karena mungkin, akulah yang terburuk dari banyaknya manusia di dunia ini! Hahahaha!" berbicara dengan tanpa dosa mengakui betapa buruknya dia.
"Tuan..."
Tiba-tiba saja Roy masuk ke ruangan itu, membisikkan sesuatu yang membuat Jason menjadi tidak bersemangat.
Jason mengalihkan tatapannya lagi pada si gadis, lalu dengan menahan kesal dia berkata, "Ya, aku tidak akan melakukannya, meski aku kesal setengah mati!"
"Heh..." gadis itu menyunggingkan senyumnya, bukankah dia merasa keadaan ini sungguh begitu tepat. Selain mendengar rumor bahwa Tuan Jason Ares Adrian adalah seseorang yang mengerikan, namun kabar lainnya juga tak kalah mengagetkan, banyak yang bilang seorang Jason Ares Adrian hanya akan tunduk pada satu orang saja, yaitu istrinya.
Dan dirinya bisa menebak, mungkin saja kabar yang baru saja diberitahukan tadi adalah menyangkut sang istri.
"Tapi aku bisa bermain-main kan?" lanjut Jason.
"Apa Tuan yakin?"
"Jiwa merundungku berkobar Roy, kau tau, itu masih lebih baik dari pada aku yang terpikir untuk membunuh sampah ini!"
"Tapi..."
"Orang alim sepertimu tidak akan mengerti, sudahlah... Aku hanya mau sedikit bermain, sangat tidak penting untuk mencemaskan dia!"
"Nah, kalau begitu biarkan aku memberinya pelajaran berharga! Aku janji tidak akan melibatkanmu." kekeh Jason dengan kerlingan matanya. Sepertinya dia tidak cukup sabar kali ini.
Janji? Tidak akan melibatkan? Saya yang melihat semua ini bagaimana bisa Tuan begitu yakin mengatakan tidak akan melibatkan saya?
Roy hanya bisa membatin frustasi, mengapa juga gadis itu harus membuat masalah dengan keluarga Tuannya, sehingga Tuannya ini sepertinya akan kumat lagi.
"Hei gadis, aku bisa memastikan setelah dari sini, kau pasti akan menjadi orang yang sangat berbeda!" lanjutnya mantap.
"Dasar gila!" berang gadis itu.
"Sudah tau kalau aku gila, seharusnya kau percaya saja kan, bukan malah datang sendiri untuk membuktikannya!"
"Heh, dasar bajingan! Lepaskan aku!"
...***...
Jill baru saja menyelesaikan tugas pendidikan agama Islamnya, dia juga tidak menyangka bahkan jantungnya saja masih berdetak tidak beraturan, entahlah... Jill hanya merasa begitu terharu, selama ini dirinya selalu menghindari saat di suruh belajar agama, namun setelah diajari oleh Raiz semalam mengapa ia bahkan begitu tertarik. Dan begitu mampu menyelesaikan hapalan seperti ini, ada rasa yang juga tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata baginya, rasanya seperti ada kepuasan tersendiri.
"Bisa?" tanya Raiz saat Jill mengunjungi ruangannya untuk makan siang.
Jill mengangguk, ia membuka kotak makan siang untuknya dan Raiz, lalu menyusun satu persatu di meja.
"Makasih yaaa!" ucap Raiz, ia merasa Jill mulai berubah, yang awalnya tidak begitu peduli namun sekarang malah bisa saja memperhatikan hal-hal kecil semacam ini.
"Kamu suka aku yang kayak gini Ay?" tanya Jill.
Raiz tidak menjawab, dia hanya bisa tersenyum kemudian mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.
Bersambung...