Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Jilly siapa gitu ya?



Aku berharap keputusanku tidak salah, maafkan aku jika aku pernah memiliki perasaan terhadapmu, mulai saat ini aku akan menghilangkannya sebisaku!


^^^Raiz.^^^


___


"Jadi murid kamu tadi kemana?" tanya Ummi Hana saat melihat Raiz keluar sendirian sembari menenteng satu stel baju couple berwarna violet.


"Dia udah pergi Ummi, dia kan juga punya urusan, makanya Raiz bilang tadi jangan ngelibatin Jilly!" jawab Raiz.


"Duh, masa iya? Ummi jadi nggak nyaman ini Raiz, dia pasti terpaksa ya?"


"Nggak papa Ummi, ini dia udah pilihin bajunya!" Raiz memberikan baju yang dipilihkan Jill untuknya tadi, entah mengapa rasanya dia senang saja, tidak mungkin kan hanya karena baju itu pilihan Jill.


"Ah ya? Wah, Masyaallah Tabarakallah... Dia baik sekali!" puji Ummi Hana pada Jill.


Raiz melengkungkan senyum malu-malu saat Umminya memuji Jill, tanpa sadar dirinya merasa senang saat Umminya menyukai Jill.


"Baju ini emang cocok banget sih sama Aliyah!" lanjut Ummi Hana, yang tiba-tiba saja berhasil menghancurkan senyum Raiz.


Tidak menyangka saja kalau dirinya akan melamar Aliyah malam ini.


"Ya udah, yuk kita bayar dulu!"


"Iya Ummi!"


Raiz menuju kasir untuk membayar beberapa stel pakaian yang dibelinya, namun saat langkah kakinya sudah akan sampai di kasir ia melihat Jilly yang sedang berdebat dengan seorang pemuda.


Mereka tampak dekat, namun Raiz tidak bisa melihat siapa pemuda yang berdebat dengan Jill itu, seketika hati Raiz sedikit sakit, tanpa sadar merasa dikhianati dan cemburu padahal ia dan Jill tidak memiliki hubungan apapun.


"Kamu lihat apa Raiz?" tanya Ummi Hana, ia melihat Raiz yang tampak bengong.


"Eh!"


"Nggak ada apa-apa Ummi, yuk langsung bayar!"


"Bentar, ini juga mau bayar tapi masih antri!"


___


"Raiz, kayaknya nama Jilly itu seperti Ummi pernah dengar deh!" cetus Ummi tiba-tiba.


"Hah?"


"Iya, Jilly... Kalau tidak salah, Ummi pernah dengar berita tentang Jilly Jilly siapa itu ya, duh Ummi lupa kan, bawaan udah tua ini!" katanya.


Raiz tidak berani menimpali, lebih baik dia fokus mengemudi, Umminya ini meskipun orang yang taat agama namun jika perihal urusan artis dan infotainment di televisi benar-benar akan selalu update. Jadi saat ini, entah mengapa Raiz berharap Umminya tidak mengingat tentang kasus bullying yang pernah viral dan pelakunya adalah Jilly yang baru saja bersama mereka tadi.


"Raiz, bantuin mikir dong!" pinta Ummi Hana lagi, dia tidak suka penasaran, otaknya ia paksa bekerja untuk mengingat siapa Jilly itu.


"Apa Ummi?"


"Itu... Jilly, Jilly siapa ya?"


"Raiz nggak tau Ummi, Raiz kan emang kurang update kalau masalah gosip!" sahut Raiz lagi, berharap Ummi Hana tidak membahas lagi tentang Jilly.


"Ah kamu mah sama aja kayak Abi, nonton tv aja jarang! Kan ada medsos, kamu pasti pernah denger, masa nggak pernah denger sama sekali! Raiz, Ummi itu nggak suka penasaran begini, kalau nggak salah Jilly itu..."


"Astagfirullahhaladzim!" pekik Ummi Hana tiba-tiba saat otaknya mulai memberikan jawaban atas rasa penasarannya, ia sampai mengurut pelan dadanya, karena menyadari sesuatu tentang Jilly.


"Jilly itu yang pernah terlibat kasus bullying sampe korbannya kena gangguan mental! Tapi nggak mungkin Jilly yang tadi kan, anak murid kamu kan baik-baik gitu ya!" lanjutnya berbicara dan bertanya sendiri.


"Ummi, Ummi jangan mikirin gitu ah, nanti jatuhnya malah ghibah!" ucap Raiz mengingatkan.


"Hemmm, iya juga sih, tapi Ummi kan cuma nginget-inget nama Jilly itu pernah Ummi dengar tapi di mana gitu, Ummi nggak maksud ghibah kok!"


"Iya Ummi, udah... Bentar lagi sampai, Ummi istirahat dulu nanti malam kan mau ada acara!"


"Ya bener itu, kamu tuh juga istirahat, jangan capek-capek, apa lagi sampai ngantuk pas acara nanti, siap-siap ketemu calon istri!" goda Ummi Hana pada anak bungsunya itu.


"Iya Ummi!"


Bersambung...