Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Masalah Anisa lagi.



Mengapa aku semakin menyukainya? Ternyata benar, pacaran halal itu emang nikmat nggak ada duanya?


^^^Raiz.^^^


___


"Ini masalah Anisa?" ujar Raiz saat ia dan Jill sudah selesai makan siang, waktu istirahat sudah dimulai, orang-orang taunya Jill sedang menjalani hukuman yang diberikan Raiz saat ini, padahal yang sebenarnya Jill tampak menikmati waktu berdua dengan guru BK kesayangannya.


"Cewek itu lagi?" tanya Jill.


"Iya! Kamu bisa kasih tau apa aja yang kamu dengar waktu itu?" tanya Raiz lagi.


Jill mengangguk, "Dia hamil, dan aku dengar cowoknya nggak mau tanggung jawab!" kata Jill.


"Dia mau aborsi tapi kayaknya dia nggak siap!"


"Aborsi?" tanya Raiz.


Jill mengangguk lagi, "Aku nggak tau sih, cewek itu termasuk orang yang nekad apa nggak? Kalau bekas mungkin saat ini bayi itu udah nggak ada!" lanjutnya.


"Ay, ini nggak bisa dibiarin, aku harus ke rumahnya nanti!" ujar Raiz.


"Kalau itu emang udah jadi tugas kamu, ya silakan!"


"Tapi, terus terang aku masih ragu sih, apa sampai urusan pribadi gitu aku harus ikut campur?"


"Menurut aku nggak usah!" ujar Jill.


"Lho kenapa?"


"Malas berurusan sama orang, kalau kamu ngerasa bukan urusan kamu ya ngapain diurusin!"


"Tapi kan..."


"Kalau kamu ngerasa kamu perlu buat tolong dia, keluar dari keterpurukannya ya kamu lakuin dong, nggak peduli semisal kamu harus ikut campur masalah keluarga orang, nggak peduli dia siapa kamu, anggap aja kamu sedang nolongin orang yang salah jalan, lagi tersesat!" ungkap Jill memberikan pandangannya.


Raiz sampai terpana, apakah ini istrinya? Mengapa jadi bijak sekali?


"Kamu cantik deh Ay, aku makin suka lho sama kamu!" puji Raiz, untuk hati Jill yang sudah lama ia yakini, bahwa sebenarnya gadis itu adalah gadis yang baik terlepas dari perlakuannya yang bar-bar tak kenal ampun.


"Gimana kalau malam nanti kita ke rumah Anisa?" tawar Raiz.


"Lho kenapa ngajak aku?"


"Ya kamu harus jadi saksi dong, masa aku nuduh orang tanpa bukti, barang kali aja keluarganya belum tau kalau dia hamil? Mana tau kan!" jelas Raiz.


"Isshhh, aku itu udah berhenti tau bikin masalah sama orang, nanti Papa ganteng ngambek lagi kalau aku ketahuan bikin masalah!" ujar Jill beralasan.


"Ini namanya bukan bikin masalah, tapi bantuin orang, ya kali Ay Papa juga marah!"


"Hemmm, yodah deh boleh!" setuju Jill.


...🍓🍓🍓...


"Kamu masih mau ngikutin jejak Jill?" goda Afik pada anak gadisnya itu.


"Hah? Kenapa?" tanya Celia.


"Ya itu, nikah muda?" ujar Afik sembari tergelak.


"Dih, enggak kalau yang itu, aku masih mau menikmati hari!" sahut Celia.


"Cel, tadi pagi kamu kenapa sih, Mama liat kamu kayak orang abis nangis, matanya sembab gitu, itu aja masih agak kentara? Mana kamu tadi pagi ngelewatin sarapan? Ada masalah?" selidik Zalin.


"Eh!"


"Emang iya Ma?" tanya Afik.


"Iya, anak kamu tuh, kamu ih mana tau orang kesiangan mulu kalau pagi!" keluh Zalin.


"Ya kan aku sibuk Ma kalau malam, waktunya kerja malam aku tidurnya pagi, siang, waktu kerja pagi ya aku tidurnya malem, namanya juga cari nafkah cari money!" bela Afik pada dirinya sendiri. Yah memang sih, akhir-akhir ini jadwal tidurnya benar-benar tidak teratur, pagi tadi saja dia bangun jam sepuluh tepat, mana tau kalau mata anak gadisnya itu katanya sembab.


"Cel nggak papa Pa, Ma, biasa lah Drakor sad ending!" lagi Celia beralasan.


"Hah, sampe segitunya?" heran Zalin tidak percaya, rasanya tidak masuk akal saja.


Bersambung...