Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Ketahuan bermain ponsel.



Aku yang semenjak mengenalnya bahkan bisa melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, dan sayangnya aku juga tidak bisa menyalahkannya.


^^^Raiz.^^^


___


"Pak Raiz, dia ketahuan bermain ponsel saat di jam pelajaran saya!" ucap Pak Randa, terlihat menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak, kalau saja dia tidak ingat yang dirinya bawa itu adalah anak dari Tuan Penguasa, tentunya dia tidak akan segan-segan memarahi Jill habis-habisan.


"Sabar Pak sabar... Anak-anak memang seperti itu, biar nanti saya yang bicara!" ujar Raiz menenangkan, Jill bahkan tersenyum melihat dirinya yang hampir tertekan.


"Pak Raiz bayangkan saja, dia bahkan asik berkirim pesan dengan pacarnya! Jilly, saya akan memberikan ponsel kamu ini pada Pak Raiz, setelah itu terserah Pak Raiz mau diapakan." ujar Pak Randa emosi.


"Baik Pak!" Jilly mengangguk menyetujui.


"Kamu setuju saja? Tidak ada penolakan? Tidak protes?" heran Pak Randa. Duh anak Tuan penguasa ini kenapa malah bikin gondok.


"Ya tadi kan Bapak sendiri yang bilang akan menyerahkannya pada Pak Raiz, aku kan sebagai murid teladan hanya bisa menyetujui saja, memangnya aku bisa protes?" tanya Jill.


Pak Randa tampak berpikir, benar juga sih apa yang dikatakan Jill. "Ya sudah, pokoknya saya tidak mau tau Pak Raiz, terserah Bapak mau diapakan anak ini atas kesalahannya yang bermain ponsel saat di jam pelajaran saja.


"Pake ngajakin makan siang itu lagi pacarnya, Pak Raiz juga sepertinya harus menyelidiki, siapa anak murid di sekolah ini yang pacaran dengannya, tolong kalau mau pacaran jangan di jam pelajaran saya, dan juga yaaaa, jangan di pelajaran guru lainnya, bukankah kalian saat masuk di sekolah ini sudah diberitahukan standar kedisiplinan sekolah ini!"


"Iya Pak, pasti akan saya selidiki!" jawab Raiz, sungguh tertekan.


"Dan juga panggil pacarnya, kasih peringatan, itu berarti keduanya mungkin sama sedang bermain ponsel di jam pelajaran."


"Berikan juga hukuman yang setimpal untuknya!" kata Pak Randa lagi-lagi mengusulkan.


"Baik Pak, akan saya selesaikan nanti!"


"Ya sudah, saya masih harus mengajar. Jilly, Bapak harap kamu tidak mengulanginya lagi, Pak Raiz, tolong nasihati dia dan buat dia jera!"


"Baik Pak, baik!"


Akhirnya Pak Randa kembali ke kelas, kemudian Raiz dan Jill beradu pandang dan setelahnya tertawa kecil. "Ini benar-benar gila!" ujar Raiz.


"Ayo cari Ay, siapa sih cowok aku? Siapa cowok yang ngirimin aku pesan ngajakin makan siang?" goda Jill.


"Aku benar-benar lupa Ay kalau ini masih jam pelajaran, duh aku benar-benar nggak nyaman karena udah boongin Pak Randa!" sesal Raiz.


"Hahahaha! Si cowoknya harus diselidiki, mau dipanggil, di kasih peringatan, aduuhhh aku susah banget bahan ketawa las denger dia ngoceh!" aku Jill.


"Kamu tuh yaaa!" Raiz tidak habis pikir, semenjak mengenal Jill dia bahkan sering sekali melakukan hal tanpa berpikir terlebih dahulu, contohnya seperti ini, Raiz benar-bebar tidak ingat kalau ini masih jam pelajaran.


"Jadi Ay, kamu bakalan hukum aku nggak? Hukuman apa yang cocok buat aku, eh salah maksudnya buat kita berdua?" ledek Jill lagi.


Bersambung...