Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Duduk di lantai.



"Jilly! Kamu..."


"Keknya aku udah kangen aja sama Pak Raiz, makanya bikin masalah lagi!"


___


Diluar dugaan Putri, bukannya takut akan gertakannya Jill malah senyum menyeramkan, matanya yang menatap sengit itu seakan bagai pisau yang siap menghunus jantungnya.


"Apa lo nggak takut?" tanya Jill santai, "Gue paling suka saat ada orang yang bikin masalah duluan, itu berarti gue tinggal nyambut kedatangannya dengan senang hati!"


"Lo!" berang Putri.


Jill semakin melangkah mendekati Putri, sementara putri entah mengapa tiba-tiba ia melemah, entah ke mana perginya wajah garang tadi, segala umpatan dan hinaan tadi, apakah saat ini Putri sedang menyesal karena sudah mencari masalah dengan Jill.


Tap!


Tangan Jill sudah lebih cepat mengapit rahang Putri, "Asshhh!" pekik Putri tertahan.


"Buat gue, lo itu nggak lebih dari seekor tikus yang menjijikan di tengah-tengah kubangan sampah!" ucap Jill.


"Gue bakalan dengan senang hati buktiin kata-kata gue ini jika lo mau!"


Keempat teman Putri dengan sigap juga melerai, namun entah mengapa tatapan Jill malah membungkam mulut mereka, hanya dengan tatapan dan mereka bisa berubah dalam sekejap langsung menjadi ketakutan begitu.


"Lee... Lepas, lepaaasin gue!" ucap Putri terbata-bata, ia melihat wajah Jill yang masih juga tersenyum tanpa dosa.


Braakkk!


Jill menghempaskan tubuh Putri ke lantai, sehingga membuat sang empunya terduduk.


Jill lagi-lagi mendekati Putri, lalu ia menunduk dan berkata, "Bukannya lo bilang duduk di lantai juga bisa kan kalau di sini udah penuh!"


"Gimana, gue baik hati kan?"


Putri merasakan hawa panas dalam dirinya, keringat mulai membasahi bajunya, mengapa dia bisa menjadi sangat ketakutan, bahkan hanya dengan menatap mata coklat itu.


Para sahabatnya langsung saja menghampiri, mereka juga sama gemetarnya seperti Putri, kini mereka memang sudah membuktikan rumor yang beredar, kalau putri bungsu keluarga Adrian ini benar-benar mengerikan.


"Lo!" tunjuk Jill pada salah satu temennya Putri. "Pesenin gue makan!" perintahnya.


Dan, sayangnya lidah gadis itu seolah kelu untuk menolak, tidak biasanya mereka seperti ini, mereka yang termasuk squad terpopuler di SMA, selama ini merekalah yang seringnya menjajah, namun kali ini bahkan mereka semua kalah hanya karena satu orang.


"Tunggu apa lagi? Lo mau pilihan lain?" tanya Jill pada Putri yang belum juga mengajak teman-temannya duduk di lantai.


"Gaes, kali ini aja, gue janji... Kali ini aja!" ajak Putri.


"Lo gila Put, nggak mau ih gue... Noh lo liat anak-anak pada ngeliatin kita, ancur udeh reputasi kita setelah ini, nggak mau gue..." protes salah satu dari mereka.


"Sha, gue nggak tau kenapa kek nggak bisa bilang enggak..." ucap Putri lagi, ia juga sama sebenarnya sungguh tidak bisa melakukan itu, tapi seolah tidak punya pilihan lain selain menurut.


"Tapi, aduh Put malu banget, ahhh gila yaaa..."


"Gue mau balik aja ke kelas, dari pada gue mau..."


"Satu!" hitung Jill cepat. Ia keberatan karena Putri masih bisa-bisanya berdiskusi. Bagi Jill yang selama ini tidak pernah ada yang mengabaikan perintahnya tentu saja semakin kesal saat melihat itu.


Tanpa banyak penawaran lagi, Putri dan keempat temannya itu langsung saja terduduk di lantai. Diiringi suara riuh dari semua anak-anak yang berada di kantin. banyak yang menyoraki keberanian Jill namun tidak sedikit juga yang menganggap tindakan Jill sudah keterlaluan.


Sementara Jill, dengan angkuhnya ia sudah duduk seolah tidak pernah melakukan apapun.


Bersambung...