
Semakin lo benci gue, maka semakin gue nggak bakalan nyerah! Ada kalanya cewek itu suka kalau dipaksa. But okay! As you want Baby!
^^^Jio.^^^
___
Jio hanya bisa melihat punggung Celia yang semakin menjauh, nyatanya menaklukan hati Celia tidaklah semudah yang dirinya pikirkan. Selama ini dia terlalu percaya diri bahwa Celia akan tunduk padanya, ia kira saat Celia mengatakan tidak menyukainya waktu itu cuma bualan, namun nyatanya mungkin benar, kini dia harus terjerat pada kisah mengambil hati calon istri.
Calon istri, yah Jio tampaknya sudah membulatkan tekad, tidak akan menyerah begitu saja dan lagi pula keluarganya memang sudah sepakat untuk menikahkan mereka minggu depan. Bagaimanapun Celia membencinya maka begitupun juga dia mencintai gadis itu. Biarlah rasa yang bertolak belakang itu menemukan titik pertemuan yang bernama simpati dan kasih sayang. Jio malah menganggap kebencian Celia adalah daya tariknya, semakin Celia membencinya semakin pula dia menginginkan, menyukai, dan mabuk akan pesona Celia.
"Semakin lo benci gue, malahan gue semakin suka, Celia Celia, lo pikir gue bakalan nyerah, mau bagaimanapun lo nolak gue, pada akhirnya lo bakalan jadi milik gue!"
Sementara itu, Celia menahan sesak di dadanya karena perlakuan Jio, apa lagi matanya tidak sengaja menatap mata Oliv yang mengembun, Celia bahkan tidak mampu untuk menemui sahabatnya itu.
"Cel! Dicariin juga, abis dari mana lo?" tanya Eve, dari tadi dia tidak melihat Celia, padahal dia melihat Oliv si anak baru, tapi Celia juga tidak bersama anak baru itu.
"Gue abis dari UKS!" jawab Celia beralasan.
"Masa sih? Gue nggak beg* ya, UKS kan sebelah sana, kalau sono itu kantin, doyan banget jalan muter!" ujar Eve yang tidak percaya.
"Gue ada perlu tadi bentaran di sana, jadi gue lewat sini ke sana, baru ke sini lagi!"
"Eh, Oliv kok lo biarin sendirian? Bukannya kata lo dia itu sulit bersosialisasi?"
"Tadi sih dia mau kantin, tapi gue udah puyeng banget makanya segera ke UKS!" dusta Celia.
"Eh lo sakit?" Eve menyentuhkan pinggang tangannya pada dahi Celia, karena sahabatnya itu juga terlihat berantakan, jangan-jangan benar lagi kalau Celia agak pusing.
"Iya nih!" angguk Celia, "Eh Eve, gue boleh minta tolong nggak sama lo, sama yang lainnya juga!"
"Apa?"
"Jagain Oliv, liatin dia, ajak dia ngomong, jangan biarin dia sendirian, gue takut dia susah nanti kalau nggak ada gue! Gue mau balik ke UKS aja, sampe mendingan!" pinta Celia.
"Oh itu, sans aja kali kek ke siapa aja lo!" sahut Eve.
Celia berlalu, ia mengambil ponselnya yang ada di tas lalu berniat menuju UKS, tidak berani menunjukkan wajahnya pada Oliv untuk saat ini.
...***...
"Kamu yakin Jio bakalan mau dan betah By?" tanya Shirleen, dia sedang berada di kantor suaminya, mengajak suaminya itu untuk makan siang bersama. Dia memang sering mengunjungi Jason, kalau Jason tidak sempat untuk pulang pastilah Shirleen saja yang mendatanginya.
"Lebih tepatnya harus yakin By!" jawab Jason.
"Aku nggak nyangka padahal yang selama ini bikin masalah mulu ya Jill, taunya..."
"Ya itulah anak-anak By, mereka emang kadang seistimewa itu!"
"Afik pasti bisa kok didik Jio, Afik itu cukup tegas, disiplin, meski tampangnya nggak meyakinkan!" ujar Jason meski membanggakan namun tetap tidak lupa untuk mengoreksi sahabatnya itu.
"Jio juga nggak masalah kan sama syaratnya!" lanjutnya.
"Iya sih... By cepat banget yah anak-anak pisah dari kita, Kakak sama Abang harus kuliah jauh di sana, terus Jill baru aja nikah kemaren pergi juga, Jio juga sudah setuju untuk tinggal di rumah Afik kalau nikah sama Cel!" papar Shirleen.
"Yah itulah kehidupan By, rasanya baru aja kita gendong mereka, manjain mereka, lihat langkah pertamanya mereka, apa lagi Abang, dia itu mungkin karena waktu dia kecil aku masih tahap belajar jadi orang tua, lumayan dadakan, jadi aku ngerasa kurang banget kalau sama dia!" ujar Jason.
"By... Malahan aku beruntung banget lho bisa nikah sama kamu, anak-anak aku dapet kamu, kurang apanya coba, bahkan kamu udah selalu aja mentingin kebutuhan anak-anak kamu, makasih yaaa!"
"Kamu nggak ada niat buat hamil lagi By?" tanya Jason tiba-tiba.
"By..." Shirleen terkejut akan pertanyaan Jason, segera dia mengalihkan tangan Jason yang berada di pahanya. Jangan gila.
"Mau bikin punggung aku patah hah, aku ini udah tua, kamu mah enak masih bugar!" gerutu Shirleen, ia benci sekali setiap kali Jason menanyakan hal seperti itu, baginya sudah tidak mungkin.
"By... Mulai deh!" kesal Shirleen.
"Kamu cantik banget tau By, boleh yaaa!" rayu Jason.
"Enggak!"
"By..."
"Ini kantor, masa..."
Tanpa menghiraukan penolakan Shirleen, Jason malah sudah mengangkat tubuh istrinya itu menuju kamar pribadi di ruangannya, tak lupa dengan bibir yang juga sudah menyatu.
"By, kamu iiihhh..." protes Shirleen saat ci*man mereka terlepas.
"Shuuttt, kita harus bikin adeknya Jill By, biar kamu nggak kesepian!" goda Jason, nggak ada habis-habisnya, paling suka saat melihat wajah istrinya ini bersemu merah.
"By... Jangan gila kamu!"
"Aku nggak gila By, aku malah sedang semangat-semangatnya ini!"
"JASON... DASAR BERONDONG GILAAAKKK!" teriak Shirleen saat punggungnya sudah mendarat di ranjang.
Dan terjadilah sesuatu yang memang sangat Jason inginkan.
Bersambung...
...Epilog:...
"Junedi ke mana sih Roy? Kok nggak ada di ruangan?" tanya Afik, ia ingin membahas event ulang tahun perusahaan ARAD Group dan juga pernikahan putra putri mereka, namun sayangnya setelah masuk begitu saja dia tidak menemukan keberadaan sahabatnya di sana, padahal tadinya mereka sudah janjian.
"Lho, bukannya ada?" tanya Roy bingung, Afik memang sudah janjian dengan Tuannya itu, jadi dia kira Tuannya tentu tidak akan meninggalkan janji, dan Tuannya itu juga tidak mengatakan apapun sebagai perintah padanya.
"Nggak ada?" kesal Afik, dia sudah lima belas menit menunggu, sudah mengetuk pintu kamar pribadi Jason di dalam ruangan itu namun tidak juga menemukan jawaban.
"Masa sih?" Roy segera bangkit dan menuju ruangan Bos nya itu. Benar, Tuannya itu memang tidak terlihat keberadaannya.
Lalu, matanya malah menangkap sebuah benda yang seakan berhasil memberikannya petunjuk, memecahkan pertanyaan ke mana hilangnya Jason. Tas Shirleen yang diberikan Shakira sebagai hadiah ulang tahun Shirleen dua tahun yang lalu itu, terlihat di tepian sofa. Roy sudah tentu tau apa yang terjadi.
"Lebih baik Pak Afik kembali dua jam lagi, atau besok juga bisa!" ucapnya pada Afik.
"Lho kenapa?" tanya Afik bingung.
"Saya tidak bisa menjelaskan apa yang tidak seharusnya saya jelaskan!" jawab Roy tidak mampu menjelaskan.
"Gile lu Ndro, kek ke siapa aja, bilang aja kali!" ngotot Afik.
"Maaf Pak Afik, anda benar-benar harus kembali setidaknya dua jam lagi!" Roy membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, dan permintaan maaf atas tindakan Tuannya di dalam sana.
"Ada apaan sih?"
"Junedi ke mana sih?"
"Pak Aspri, bisa nggak jangan bikin gue bertanya-tanya dan juga bisa nggak kalau ngomong nggak usah ngalahin canggihnya robot, jadwal gue itu lumayan padat, kita udah janjian, ini Junedi ke mana sih?" gedek Afik, bisa-bisanya Jason mengingkari janji.
Dua jam saja aku nggak yakin bakalan selesai!
Roy memijit pangkal hidungnya, entah bagaimana dia menjelaskan pada Afik.
...ðŸ¤ðŸ¤...