
Cinta kadang tidak membutuhkan logika atau hal apapun untuk berpikir. Hanya perlu kecepatan yang tepat di dalam hati, bahwa aku merasakannya.
^^^Jill.^^^
___
"Kamu yakin dia benar-benar jadi pendiam kayak gitu karena cowok?" tanya Raiz sekali lagi. Saat ini keduanya sedang berada di parkiran, Raiz berencana untuk mengantarkan Jill pulang, tentunya saat sekolah sudah sepi.
Raiz hanya memakai motor sport untuk bekerja, jadi rasanya tidak nyaman saja jika banyak orang yang melihatnya membonceng Jill.
"He'em!" sahut Jill dengan anggukan, gadis itu sedang menghabiskan eskrim-nya cepat karena takut ditinggal oleh Raiz, terang saja ia tidak mau hal itu terjadi, dia yang meminta Raiz mengantarkannya dengan alasan membicarakan perihal Anisa, jadi akan lebih baik dia tidak ia menyia-nyiakan kesempatan.
"Di mana kamu liat?" tanya Raiz lagi.
"Di cafe seberang jalan itu, dih nggak percayaan banget!" dengan Jill.
"Aku tadi sempat tanya sama Bu Winda, katanya sudah sekitar satu minggu dia diem-diem gitu!" lanjut Raiz.
"Cari bukti aja, atau datengin rumahnya!" usul Jill.
"Kayaknya apa kesannya nggak terlalu ikut campur?" tolak Raiz menimbang.
"Lah, bukannya udah tugas Bapak ngurusin siswi bermasalah?"Jill naik ke motor, tangannya terulur ingin memeluk Raiz namun sayangnya sudah ditepis duluan.
"Tanganmu Jill!" Raiz mengingatkan.
"Baru juga mau peluk!" kesal Jill.
"Aku ini calon suami orang lho!"
"Dih, yang bilang Bapak calon suami kambing siapa?" Jill semakin sewot saat Raiz menegaskan status mereka. Dia tidak suka dan seakan tidak mau mendengarnya.
"Jilly kamu ini ya!" bentak Raiz sembari menghidupkan motornya, dan lalu bergegas meninggalkan sekolah.
Keduanya melewati dua lampu merah, Raiz baru tau kalau rumahnya dan kediaman Jill itu searah.
"Pak! Aku laper!" ujar Jill, sebenarnya itu hanya alasannya saja karena masih ingin berlama-lama dengan Raiz. Namun boleh juga karena nanti di apartemen Jill juga tidak bisa menemukan sesuatu apapun untuk dimakan.
Raiz menghela napasnya, jantungnya saja sudah sulit dikondisikan karena seharian ini seringnya berdekatan dengan Jill, namun mau bagaimana lagi sepertinya Jill tidak akan melepaskannya dengan mudah, lagi pula entah karena Raiz memang perlahan-lahan sudah menyukai Jill, pak Guru itu menurut saja saat Jill menyebutkan kata lapar.
Mereka berhenti di sebuah kedai pecel lele, sekalian juga Raiz ingin membeli lauk untuknya di rumah.
"Katanya laper?" tanya Raiz.
"Iya tapi kenapa ke sini?"
"Ini enak kok! Kamu harus coba!" pinta Raiz.
Karena melihat Raiz begitu yakin akhirnya Jill mau tidak mau menurut, padahal ini adalah yang pertama baginya.
"Kamu belum pernah makan di tempat gini?" tanya Raiz saat mereka sudah selesai memesan.
Jill menggeleng, dia jujur saja.
"Rugi banget, padahal makanan di tempat kek gini itu enak lho, awas nagih ntar..."
"Aku nggak pernah diajak ke tempat gini, paling maksa ya cuma di cafe anak muda yang outdoor gitu." sahut Jill.
"Oh ya?"
Raiz tidak percaya ternyata seorang putri memang tidak berbaur dengan rakyat jelata.
"Bapak benar mau nikah?" tanya Jill lagi, mengatakan tidak ingin membahas pernikahan Raiz, namun dia cukup penasaran.
"Ya!" sahut Raiz pasti.
"Bapak yakin?"
"Ya, kenapa enggak?"
"Emang Bapak cinta sama ceweknya?"
"Haaahhh!" Raiz menghela napasnya sebelum menjawab, "Cinta itu perihal belakangan, mungkin jodohku sudah sampai, jadi untuk apa menunda ibadah!" ujarnya.
"Tapi Bapak punya perasaan sama aku, kenapa nggak mau aku ajak nikah?" tanya Jill langsung.
"Jill..." Raiz benar-benar tidak habis pikir, lagi lagi nikah, mengajaknya menikah, memangnya apa gadis di hadapannya ini sudah siap nikah muda?
Bersambung...