Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Mangsa baru.



“Dia yang memulainya, jadi aku hanya meladeni apa yang dia inginkan!”


“Tapi mengapa harus membuat keributan lagi Jill?”


“Kadang ada hal yang tidak membutuhkan alasan untuk kita menyukainya, seperti aku yang juga suka sama Pak Raiz!”


___


Jill masuk kelas, di kelasnya itu tidak satu pun ada orang yang berani mendekatinya, baik cowok maupun cewek. Dikarenakan sifat Jill yang bar-bar jadi mereka akan berpikir dua kali untuk menjalin hubungan dengan Jill.


Tapi itu bukan sungguh masalah bagi Jill, Jill juga tidak suka memiliki banyak teman, Jio adalah saudara kembarnya yang begitu pas untuk dijadikan kawan selama ini, ia tidak butuh apapun. Kadang sebagian orang yang ingin berteman dengannya bukan karena hatinya benar-benar ingin, ia muak dengan tipe pertemanan yang semacam itu.


Bisik-bisik mulai terdengar, Jill tau pastilah berita tentang dirinya yang menjambak kasar rambut Winda di ruangan BK kemarin sudah menyebar, banyak teman sekelasnya yang mengatakan kalau dirinya tidak memiliki sopan santun, Jill membiarkan umpatan itu memenuhi gendang telinganya, untuk apa membela diri dan memangnya apa pedulinya.


Dulu saat ia masih bersekolah di sekolah yang sama dengan Jio, Jill bahkan jarang sekali berinteraksi dengan orang banyak.  Memang ada satu orang siswi yang sering dirinya ajak bicara, Erika namanya, siswi itu adalah siswi beasiswa yang sering sekali di-bully oleh anak-anak lainnya karena bisa dikatakan tidak mampu, sedang sekolah Guna Bhakti adalah sekolah favorit yang benar-benar elit. Namun pertemanan mereka pun tidak sedekat orang yang berteman seperti biasanya, Jill hanya sesekali menyapanya karena Erika yang begitu takut untuk berinteraksi dengannya. Paling sesekali memberi pelajaran berharga jika ada siswa atau siswi lain yang membully Erika, dan itupun sering ia lakukan tanpa diketahui oleh Erika.


Jill mengikuti pelajaran dengan khidmad, sebenarnya Jill itu pintar sama seperti Jio. Jika Jio pantas mendapatkan gelar si jenius keluarga Andrian itu dikarenakan  prestasi yang Jio dapatkan begitu mencolok, lain halnya dengan Jill, gadis itu mudah mengerti dengan pelajaran menyerap apa saja yang diajarkan, namun sayang sekali karena Jill tidak suka mengamalkannya.


Entahlah, dulu hal itu hanya ia lakukan semata-mata untuk menyenangkan hati Jio, namun semakin lama hal itu seolah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Dia senang saat Jio dipuji oleh Papa dan Mamanya, Ayah dan Bundanya juga selalu memuji Jio untuk masalah pelajaran, Jill hanya senang saja rasanya melihat Jio tersenyum, karena yang ia tau, Jio berbeda.


Tak terasa tiga setengah jam pelajaran berlalu, waktu istirahat pun sampai, Jill yang merasa perutnya memang sedang membutuhkan perhatian langsung saja bergegas menuju kantin, tadi saat sarapan ia memang hanya makan sedikit karena jarak antara rumah utama dan sekolahnya memang cukup jauh.


Jill mendekati rombongan ciwi-ciwi yang sedang asik mengobrol, dilihatnya makanan sisa yang memenuhi meja, seharusnya ciwi-ciwi ini sudah beranjak dari sana bukan, dasar menyebalkan umpat Jill dalam hati, membuat mood-nya kembali memburuk.


“Apa kalian bisa pergi? Gue mau duduk di sini!” tanya Jill santai.


“Apa?” tanya balik salah satu dari ciwi-ciwi itu, mereka adalah anak kelas lain, mungkin bagi mereka tidak semengerikan itu saat berhadapan dengan Jill. Atau mereka masih penasaran ingin melihat bukti validnya.


“Gue mau duduk, bisa pergi kan! Bukannya kalian udah?”


“Wah parah, gaes... Apa kalian denger anak baru ini bilang apa?” ledek salah satunya. Sebagian lainnya menatap remeh Jill.


“Nggaaaakk...” jawab yang lainnya serempak, ada sekitar lima orang, dan yah Jill akan menandai itu, sudah terekam dalam memori otak Jill wajah-wajah seperti apa yang saat ini sudah dengan begitu berani berurusan dengannya.


“Gue masih berbaik hati, satu kali lagi, gue mau duduk sebelum lapar gue ilang!” ucap Jill lagi, nadanya terdengar acuh namun sarat akan ancaman.


“Duduk ya duduk aja kali, noh di lantai juga bisa kan kalau di sini udah penuh!” sahit cewek yang bernama Putri itu mengejek, ia sungguh gemas dengan Jill, karena ternyata selama tiga hari Jill pindah ke sekolah mereka, Jill begitu populer, banyak siswa di sekolah itu menatapnya dengan mendamba, namun sikap Jill yang acuh membuat para siswi lainnya berbanding terbalik menatap benci padanya.


Namun bak gayung bersambut, Jill sungguh senang akan perkataan Putri yang seperti menghinanya itu, akhirnya ia bisa mendapatkan mangsa baru setelah empat bulan menghadapi masa tenangnya.


Bersambung...