Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Gadis-gadis.



"Sebenarnya ada banyak hal yang mau aku coba di dunia ini!"


"Apa? Kamu jangan aneh-aneh deh, tiap hari bikin keributan!"


"Salah satunya, pacaran sama Bapak! Kalau Bapak mau!"


___


"Kak Jilly..." seru Celia memberanikan diri lagi, "Emhh, terimakasih yaaa!" lanjutnya.


"Iya, terimakasih ya kak!" tambah Oliv.


Jilly tersenyum ramah, "Nyantai aja kali!" ucapnya.


"Kak Jilly sekarang sekolah di mana?" tanya Celia mulai mengakrabkan dia memang pernah satu sekolah dengan Jill, kasus bullying itu terjadi saat dirinya baru masuk kelas satu dan Jill naik kelas tiga, tapi itu sungguh hanya sebentar karena Jilly yang terpaksa harus menerima konsekuensi atas perbuatannya yaitu di keluarkan dari SMA Guna Bhakti.


"Gue di SMA 55, Lo anak Guna Bhakti juga kan?" tanya Jill.


Celia mengangguk ia senang karena itu berarti Jill mengenalnya.


"Lo nanti masuk SMA mana, lo kan baru pindah ya?" tanya Jill pada Oliv.


"Oliv sih rencananya mau samaan sama Cel Kak, tapi gak tau deh masih diurus sama Papa soalnya!" jawab Oliv.


"Kelas berapa?"


"Kelas dua kak!"


"Hemm, kirain kelas tiga juga!"


Jill kemudian berbincang santai dengan kedua gadis itu, ia seolah ingin menghilangkan pemikirannya yang tak jauh-jauh dari Raiz saja.


"Kakak udah punya pacar belum sih?" kali ini Celia, sifatnya yang periang seolah tidak akan kehabisan pertanyaan dalam kesempatannya berbicara dengan Jill.


"Menurut kalian?"


"Pasti banyak yang mau, Kak Jill keren banget gini!" lanjut Cel dengan kagumnya.


"Lo bisa aja deh, eh Liv gabung dong, dari tadi diem mulu!" ucap Jill mengajak Oliv bicara lagi.


"Oliv sih gitu, dia itu kata Tante Weni orangnya pemalu Kak!" adu Celia.


"Ah yaa?" Jill antusias.


"Iya, tadi tuh kan Tante Weni minta gua buat nemenin Oliv karena katanya di sini Oliv nggak kenal siapa-siapa, terus Oliv itu orangnya pemalu sulit buat temenan sama orang baru! Eh taunya Bokap gue malah nyambung tanpa izin, gila banget!" adu Celia.


"Gila? Gila kenapa Om Afik?"


"Masa dia bilang katanya gue sama Oliv cocok banget, yang satunya pemalu yang satunya suka malu-maluin, dasar Papa nggak ada akhlak, pengen gue giveaway aja tuh orang tua!" seloroh Celia.


"Masa? Hahahaha!" Jill tergelak mendengar pengaduan Celia, benar-benar terhibur berkawan dengan dua gadis ini. Selama ini, mungkin baru kali ini saja Jill mau mengakrabkan diri dengan sebayanya, itupun karena kedua gadis ini adalah anak dari sahabat-sahabat Papanya.


"Eh Kak Jill, jawab dong, udah punya pacar belum sih?" selidik Celia lagi.


"Gue belum!" jawab Jill jujur.


"Ah masa? Nggak percaya!"


"Lo emangnya udah punya pacar?"


"Hehe... Belum sih Kak, nggak ada yang mau, padahal gue mah udah siap pacaran!" ucap Celia percaya diri.


"Apa sih enaknya pacaran?" tanya Jill, ia ingin mendengar pendapat orang lain tentang pacaran, selama ini kan dirinya belum pernah sama sekali menjelajahi status seperti itu.


"Serius Kakak nggak tau?" tanya Celia.


Jill mengangguk, "Emangnya apa?"


"Ya, kalau pacaran itu enak aja ada yang merhatiin, ada yang dipanggil ataupun manggil sayang-sayang, kemana-mana ada yang nemenin!" jawab Celia mengenai pacaran versinya.


"Kalau ada yang merhatiin, gue juga udah biasa diperhatiin banyak orang, kalau dipanggil sayang atau manggil sayang, gue sering dipanggil Mama kayak gitu, gue juga sering manggil Jio, Kak Jack, sama Kak Misca sayang, kalau kemana-mana ada yang nemenin, Jio sama Pak supir juga siap nganterin dan nemenin gue kemana aja!" ungkap Jill yang seolah ingin membuat kesal Celia dengan jawabannya.


"Ihhh kak Jill nggak variatif banget, itu mah bukan pacaran, ketauan banget jomblo dari lahir!" kesal Celia.


Bersambung...