
"Kamu... Kenapa bisa ada di sini?"
"Apa sih Pak yang nggak aku bisa? Jangankan rumah Bapak, hati Bapak aja bisa kok aku datengin!"
___
"Apa Tuan Muda ingin menemuinya?" tanya Roy, ia melihat Tuan Mudanya tampak berpikir, mungkin saja tengah memikirkan Jill yang telah dengan gilanya menjatuhkan hati pada Raiz.
"Aku akan melihat bagaimana nantinya dulu!"
Jason menarik napasnya dalam, "Suruh Darwin tetap mengawasi anak itu, dan juga cari tau tentang keluarganya!" perintah Jason.
"Baik Tuan Muda!" sahut Roy.
Jason masih memikirkan Jill, rasanya sulit sekali untuk mengerti anak-anak.
Apalagi Jill, putri bungsunya itu benar-benar keras kepala, sebenarnya Jason tidak bisa menyalahkan Jill tentang itu karena dirinya pun kadang sama saja, mungkin Jill juga begitu karena menuruni sebagian sifatnya. Namun saat melihat hal itu terjadi pada orang lain, pada anaknya entah mengapa Jason merasa bolehkah dia tidak terima? Jill masih terlalu muda untuk mencintai lawan jenis.
"Raiz Hanif Al-Haaqi!" gumam Jason, nama itu seolah akrab saja beberapa hari ini di telinganya.
...***...
Jill begitu senang saat kembali ke apartemen, dari salinan yang diberikan oleh Shakira ia bisa mengetahui bahwa ternyata Raiz tinggal tidak begitu jauh dari apartemennya ini. Hal itu sungguh akan memudahkan dirinya untuk melakukan pendekatan.
Dan sampai lah Jill di sini, di depan sebuah rumah minimalis yang sudah dirinya pastikan bahwa rumah itu benar adalah milik Raiz. di salinan itu tertulis bahwa guru BK-nya itu hanya tinggal sendiri sementara keluarganya berada di Bandung. Memang terlihat tidak etis saat seorang anak gadis mengunjungi pria asing di malam hari, namun mau bagaimana lagi, Jill tidak bisa menahannya, Raiz terlalu menggemaskan dan berhasil membuatnya selalu rindu.
"Apa Pak Raiz ada di rumah? Perasaan rumahnya kayak sepi!" gumam Jill, ia mengedarkan pandangannya, benar-benar sepi.
Tok tok tok,
Jill mulai mengetuk pintu, beberapa kali tidak juga terdengar jawaban. Namun setelah sekitar sepuluh menit berlalu, akhirnya pintu itu dibuka juga setelah terdengar sahutan dari dalam.
Ceklek! pintu dibuka,
"Astagah!" Raiz malah terkejut seolah baru saja melihat setan.
"Selamat malam Pak!" sapa Jill tanpa dosa.
"Kamu... Kenapa bisa ada di sini?" tanya Rais bingung, mengapa tiba-tiba saja ada murid pembuat onar ini di depan pintu rumahnya, pikir Raiz.
"Apa sih Pak yang nggak aku bisa? Jangankan rumah Bapak, hati Bapak aja bisa kok aku datengin!" ucap Jill sembari menampilkan senyum termanisnya, dan lagi pula ia semakin jatuh cinta kala Raiz yang membukakan pintu saat ini sedang memakai sarung dan baju koko. Sungguh lelaki idaman pikir Jill.
"Sial!"
Sial, gue senyum karena digombalin bocah!
"Nggak!" tolak Raiz cepat.
"Bapak takut yaaa?" tanya Jill lagi.
"Enggak, takut kenapa? Kenapa saya harus takut sama kamu?"
"Oohh, kirain! Kali aja kan Bapak takut jatuh cinta!"
Raiz sebisa mungkin menahan senyumnya, bagaimana bisa dia malah senang saat Jill menggodanya.
"Bapak nggak keluar? Apa kayak gini cara Pak Raiz nyambut tamunya?"
"Jilly, lebih baik kamu pulang! Saya hanya tinggal sendiri dan kamu adalah seorang gadis, tidak baik menemui saya seperti ini!"
"Jika ada yang ingin dibicarakan, lebih baik besok saja di sekolah!" ucap tegas Raiz, ini tidak bisa dibiarkan menurutnya, semakin hari nampaknya Jill semakin tidak ada rasa takut dan segan padanya.
"Tapi aku maunya sekarang, gimana dong Pak!" tanya Jill lagi, ia rasanya tak puas jika belum bisa membuat Raiz tersipu malu karena di godanya.
"Lagian besok juga libur! Pak Raiz gimana sih, sama hari aja lupa! Kalau aku jangan dilupain ya Pak!" enteng Jilly.
"Jilly!" berang Raiz setengah berteriak.
"Jangan keras-keras Pak! Bapak mau kita dinikahin lebih cepat?"
Raiz semakin pusing karena ulah Jilly, ia menggaruk tengkuknya tidak gatal, sebenarnya apa sih maunya anak didiknya itu.
"Jalan yuk!" ajak Jill santai.
"Hah?" bengong Raiz.
"Iya jalan, yuk..." Jilly sudah menarik tangan Raiz tanpa persetujuan, namun dengan cepat Raiz tersadar kalau saat ini dirinya sedang memakai sarung karena baru saja selesai sholat isya.
"Tunggu... Tunggu bentar!" cegah Raiz. Baiklah, ia akan menuruti apa keinginan anak muridnya ini, sekalian juga ia bertanya apa sebenarnya yang terjadi tadi siang di kantin, apakah benar bukan sebab biang masalah yang tengah memegang tangannya ini. Tapi itu sungguh mustahil kan!
"Apa?" tanya Jill.
"Sebentar aku mau ganti sarung dulu!" ucap Raiz. Lalu ia kembali ke rumah untuk mengganti setelan sholat yang dipakainya itu dengan pakaian biasa.
"Gimana ceritanya dia bisa tau rumah gue?" gumam Raiz bertanya sembari mengambil bajunya di lemari.
Bersambung...