Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Perkataan Jill.



Ucapkan selamat malam pada sisa kehidupan ini, aku menunggunya dalam diam dan ketenangan.


^^^Jill.^^^


___


"Aku belum bisa mengatakan kalau aku suka sama kamu, tapi aku akui, yaaa... Saat ini aku gugup jika kamu nanyain itu." ungkap Raiz, dia terbilang gentle dengan beraninya mengatakan itu, mengakui perasaannya terhadap Jill seperti apa, dia bisa memberi gambaran tentang bagaimana perasaannya saat ini.


"Tapi Jill, akan lebih baik jika kita menyudahi ini, aku pun akan berusaha untuk tidak menganggap lebih kedekatan kita ini, dan aku harap kamu juga!" lanjutnya.


Raiz bersikap santai saja saat mengatakan itu, ia bahkan menganggap Jill seperti seorang teman baginya, usia mereka juga sebenarnya hanya terpaut tujuh tahun, di jaman ini banyak sekali pasangan dengan rentang usia seperti itu sebenarnya, namun dikarenakan Raiz merasa dirinya akan menikah maka sudah semestinya ia menyadarkan Jill, dan berusaha untuk mengakhiri semua.


"Bapak lagi-lagi menolak?" tanya Jill, dia tersenyum smirk.


"Maaf!" ucap Raiz.


Beruntung saja mereka membicarakan itu saat sudah selesai makan, kalau tidak tentunya Raiz tidak akan mempunyai selera makan lagi.


"Bapak tau kan kalau aku tidak akan mudah menyerah!" Jill memberi peringatan.


Raiz tersenyum manis, lalu dengan pasti ia berkata, "Jika sudah jodoh maka apapun yang kamu lakukan tidak akan bisa merubah kehendak-Nya, aku akan menikah, dan aku rasa karena niat ibadahku ini karena Allah, bukankah lebih baik turunkan egomu sedikit dan menyerahlah!"


"Heh!" Jill berdiri, lalu ia bangkit dan memberikan uang merah satu lembar, ia tidak mau lagi pulang di antar Raiz, dia benci. Jill pergi meninggalkan Raiz, ini sudah cukup dekat dengan apartemennya, dia bisa naik taksi sebentar atau berjalan kaki.


"Jill!" seru Raiz, ia segera membayar pesanan itu, dan sedikit berlari menyusul Jill.


"Jilly!"


Raiz membalikkan badan Jill, alangkah terkejutnya ia karena melihat Jill sudah menangis.


Sedang Jill, air matanya semakin tumpah kala melihat wajah Raiz yang menyusulnya, ini adalah pertama kalinya ia mencintai lawan jenisnya, dan dia tidak pernah mencintai sedalam ini, ia tau Raiz berbeda, dari pertama kali saja Jill melihat Raiz, Jill tau Raiz adalah sumber kebahagiaannya, namun apa persepsinya itu salah, karena yang ada sekarang ini malah Raiz lah yang telah berhasil membuatnya menangis.


"Kamu nangis?" tanya Raiz.


Jill diam, dia tidak bisa menjawab itu, karena rasanya Raiz terlalu menyakiti hatinya dengan penolakan itu.


"Jangan nangis, aku ini bukanlah satu-satunya cowok yang bakalan jatuh cinta sama kamu, kamu itu nggak pantes nangisin aku Jill, masih banyak cowok yang lebih segala-galanya dari aku." ujar Raiz namun Jill hanya bisa tersenyum kecut.


"Bapak tau? Aku nggak pernah jatuh cinta sama orang sebelumnya, Pak Raiz adalah yang pertama! Jantung aku nggak pernah sulit dikondisiin tiap kali hanya dideketin cowok, Bapak tau, semenjak hari itu, Bapaklah yang pertama bikin aku salting, bikin aku gugup, dan begonya aku malah bersikap terang-terangan kalau aku suka sama Bapak."


"Aku ini nggak bakalan tunduk sama siapapun, tapi anehnya Bapak bisa nenangin aku."


"Mungkin Bapak bisa nerima gitu aja, meski Bapak bilang kalau Bapak juga jatuh cinta sama aku, dan akhirnya aku tau kalau aku nggak ngerasain hal itu sendirian, tapi sayangnya Bapak lebih milih untuk nepis rasa itu sesegera mungkin." Jill menjeda ucapannya, ia menatap wajah tampan Raiz lamat-lamat, benarkah dia harus merelakan pemuda itu?


"Tapi aku adalah Jilly, aku enggak bisa ngelakuin apa yang Bapak lakuin! Karena banyak banget orang yang mau ngambil hati aku, tapi bahkan sekelas Tuan Jason Ares Adrian aja kadang sulit buat dapetin itu."


Setelah mengatakan itu Jill berlalu pergi, Raiz terbengong karena masih mencoba memahami semua yang Jill katakan, sehingga tanpa sadar ia tidak lagi mencegah Jill untuk pergi.


Bersambung...