
Tidak peduli sekarang atau nanti kau menjawabnya, akan aku tunggu sampai kau mengatakan kau "Bersedia!"
^^^Jill.^^^
___
Aliyah sudah menangis, Ummi Hana dan Ibunya berusaha menenangkan, Ummi Hana juga heran karena ini sudah ketiga kalinya Raiz menyebutkan nama Jilly saat ijab qobul, benar-benar di luar dugaan. Bukankah jika Raiz mengatakan tidak bersedia menikahi Aliyah kemarin maka dia dan sang suami tidak akan memaksa, karena meskipun mereka ingin menikahkan anak mereka dengan Aliyah namun perasaan Raiz lah yang paling mereka dahulukan.
"Nak... Tenangkan dirimu!" ujar Kyai Ahmad, dia mengusap punggung Raiz.
Sementara Raiz, ia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya tidak siap menikah namun lidahnya sudah kelu duluan karena merasa tidak mungkin.
"Mari kita mulai sekali lagi!" ujar Pak Penghulu.
"Baik!"
Raiz mengangguk, ia menarik napasnya dalam lalu hembuskan, mencoba membenarkan pikirannya, jangan melulu tentang Jill, karena nanti dipastikan dia akan salah lagi menyebutkan nama calon istrinya.
"Saudara Raiz Hanif Al-Haaqi bin Kyai Haji Muhammad Asrun, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Aliyah Difta Qhistina binti Januar Haidir dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
"Saya..."
"RAIZ!"
Suara itu berhasil menghentikan Raiz, langsung saja spontan Raiz melepaskan jabatan tangan calon mertuanya, ia sangat mengenali suara siapa yang memanggilnya. Matanya membulat kala melihat Jill datang bersama keluarganya.
Jason Ares Adrian, seseorang yang sangat dihindarinya itu juga hadir di sana membawa serta istrinya juga, apa maksudnya ini pikir Raiz.
"Jilly!" ujar Raiz, nama itu meluncur saja dari mulutnya, sehingga membuat Kyai Ahmad mengetahui siapa gadis yang tadi disebut namanya oleh Raiz.
"Ini nggak bisa!" Jill mendekati Aliyah, dengan tangannya ia mencengkram lengan Aliyah dan memaksa wanita itu untuk bangkit, mata Jill benar-benar memancarkan kemarahan.
"Lo, beraninya boongin Raiz gue, dengan cara murahan kek gini!"
"Aaa... Apa?" gugup Aliyah, sekarang dia ingat wanita mana yang bernama Jilly, karena nama itu sempat viral di media sosial beberapa bulan lalu, dan sialnya dia juga pernah mengangumi gadis yang tengah mencengkram erat lengannya ini. Terlihat sangat cantik meski dalam keadaan marah.
"Hentikan!"
"Lepaskan! Kamu sudah gila ya?"
Lerai Ummi Hana dan Ibunya Aliyah, keduanya panik, mengapa bisa terjadi kekacauan seperti ini.
Jill semakin menguatkan cengkramannya, sampai tangannya itu dilepas paksa oleh Pak Januar.
"Siapa kamu? Mengapa tiba-tiba datang membawa keributan?" Januar benar-benar emosi, sudah cukup perbuatan Raiz yang memalukan tadi, salah terus menyebutkan nama anaknya, lalu apa ini kedatangannya seseorang yang disangkanya adalah Jilly, benar-benar memalukan.
"Saya Jilly, calon istrinya Raiz, kenapa?" tantang Jill.
Jason diam saja meskipun Shirleen sedari tadi mencubit pinggangnya, mengisyaratkan suaminya itu untuk menenangkan suasana, namun tampaknya Jason tidak mau, sehingga membuat Shirleen harus mengelus dadanya pelan, benar-benar bapak dan anak sama aja pikirnya dongkol.
"Jilly, Jilly, kamu kenapa di sini?" bisik Raiz panik, ia juga bangkit dan mencoba menenangkan Jilly.
"Jangan takut! Aku udah datang nyelamatin kamu!" Jill memegang tangan Raiz cepat dan lalu mengedipkan matanya genit.
"Apa?"
Bagaimana dia bisa tau kalau gue emang lagi butuh diselamatkan?
"Apa maksud kamu? Jelas-jelas Raiz akan menikah dengan anak saya!" tegas Pak Januar, ia semakin marah.
"Tapi Raiz juga akan menikah denganku, jadi gimana dong Pak?"
"Apa maksudnya ini Raiz?" Kyai Ahmad bangkit, dengan lembut ia berkata menanyakan masalah yang terjadi pada Raiz.
Jill gugup, dia merasa bersalah telah bermain-main dan membuat malu, apa lagi di depan calon mertuanya itu.
Kenapa juga harus bersikap lembut, gue kan jadi ngerasa bersalah? Gimana coba gue bakal ngadepin ini calon mertua? Apa gue kasiin ke Papa aja ya?
Plakkk!
Tiba-tiba saja saat Jill sedang menghadapi Ayahnya Aliyah, sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya hingga memerah, Aliyah benar-benar tidak bisa menahan emosinya mendengar perkataan Jill, dia tidak rela Raiz menikah dengan orang lain.
Padahal selama ini Aliyah adalah gadis yang terkenal dengan kesabarannya, namun ia tidak bisa lagi berpura-pura, sedari tadi dia juga sudah emosi kala Raiz sampai tiga kali menyebutkan nama wanita di hadapannya ini menggantikan namanya yang harusnya disebutkan.
"Lo!" berang Jill, matanya menatap nyalang Aliyah.
Bersambung...