Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Penolakan.



Bagaimana mungkin aku yang hanya orang biasa bisa-bisanya bermimpi untuk hidup bersamamu...


Buka matamu dengan benar, kau akan menemukan banyak sekali orang yang pantas, dan tentunya bukan aku!


^^^Raiz.^^^


___


"Apa Bapak pernah pacaran?" tanya Jill berani.


"Jilly, saya rasa..."


"Stop!" Jill mencegah Raiz yang lagi-lagi pasti mengeluh tentangnya. "Jawab aja! Bukannya Bapak sendiri yang bilang kalau aku nggak boleh nanya-nanya yang kayak gini kalau di sekolah, sekarang kan udah nggak jam sekolah lagi, berarti udah bisa Bapak jawab kan!" sahut Jill enteng.


"Kamu kenapa sih nanya-nanya gitu mulu?" tanya Raiz yang sudah merubah gaya bicaranya, yah memang benar, mereka sedang tidak berada di sekolah, jadi berbicara santai bukan masalah.


"Bapak mau aku jawab lagi?" tanya balik Jill.


"Kamu tuh ya! Aku ini guru kamu, kayaknya masih banyak deh yang suka sama kamu, aku ini bukan lagi anak kemarin sore yang dengan gilanya mau pacaran sama kamu!" sahut Raiz. Ia bisa berkata seperti itu karena sudah berapa kali Jilly mengatakan menyukainya.


"Hemmm, begitu? Dan sayangnya, aku adalah orang yang bakalan buktiin kalau Bapak memang anak kemaren sore yang gila itu!" jawab Jill pasti.


"Jilly, kamu sadar apa yang kamu bilang?"


"Sangat sadar! Kadang, untuk mencintai seseorang, ada kalanya kita memang tidak membutuhkan alasan, jika Bapak tanya kenapa aku bisa suka sama Bapak, mungkin aku menyukai Bapak ya karena aku menyukai... Pak Raiz, apa saat aku bilang gini... Jantung Bapak deg degan?" tanya Jill langsung. Ia tidak peduli lagi, di salinan yang diberikan Bundanya memberitahukan bahwa Raiz belum pernah pacaran, dan juga guru BK-nya itu penganut paham pacaran setelah menikah, jadi... Untuk itulah saat ini Jill tengah berjuang untuk meluluhkan hati Raiz kalau bisa jika Raiz ingin menikah, maka dia akan menyetujui. Ahhh tapi itu sepertinya sungguh kejauhan, mengingat Raiz saja belum membuka hati untuknya.


Deg,


Deg,


Deg,


Benar, jantung Raiz berdetak tidak normal, hanya karena pertanyaan Jill yang menurutnya terlalu to the point.


"Apa Bapak baru saja menolakku?" tanya Jill seolah tidak percaya, apakah dirinya baru saja ditolak, ohhh mustahil!


"Anggap saja kamu tidak pernah menanyakannya!" jawab Raiz.


"Kenapa?" tanya Jill marah, ia tidak suka apa yang dirinya kehendaki tidak tercapai. keinginannya yang selalu saja dituruti sedari kecil membuat Jill tidak terbiasa akan penolakan.


Raiz diam, dia tidak ingin menyakiti Jill, rasanya hati ini mulai tidak tega.


"Apa karena Bapak nggak bisa pacaran?" tanya Jill lagi, ia belum menyerah.


"Itu salah satunya!" jawab Raiz.


"Salah satunya? Apa itu artinya ada banyak hal yang bisa Bapak jadikan alasan untuk menolakku?"


"Jilly, bagaimanapun rasanya kita tidak memiliki kecocokan, dan lagi suatu hal yang dipaksakan itu tentulah tidak akan menjadi baik!" tolak halus Raiz memberi pengertian.


Jill mengangguk, baiklah... Cukup untuk hari ini, meskipun amarahnya hendak meledak saat itu juga, namun sebisa mungkin masih Jill tahan. Ia masih punya banyak cara untuk mendapatkan Raiz. Ini sungguh baru permulaan!


Jill bangkit dari duduknya, saat ini mereka sedang berada di taman kota dekat dengan rumah Raiz.


"Apa Bapak yakin dengan penolakan Bapak?" tanya Jill sekali lagi.


"Jill, kau pasti bisa menemukan yang lebih baik dariku!" sahut Raiz.


"Kita lihat saja, Pak Raiz Hanif... Kau seharusnya benar-benar memikirkan penolakanmu ini, karena jika aku sudah berkata menyukai maka bagaimanapun caranya kau harus menjadi milikku!" kemudian Jill berlalu meninggalkan Raiz, amarahnya bagai mau pecah saat itu juga, dan rasanya tidak baik jika ia menumpahkannya di hadapan Raiz.


"Sial, beraninya dia!"


Bersambung...