Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
(Bukan) Salah Jio.



Kalau rasa ini beneran ada! Gue cuma minta siapapun nantinya yang berhasil dapetin lo, jangan pernah sekalipun bikin lo sakit!


Karena hari ini, gue udah ngancurin idup gue sendiri dengan keputusan gue yang ngelepasin lo, Jill!


^^^Jio.^^^


___


"Lo kenapa sih?" tanya Jio, ia mendekati adiknya itu dan kemudian bergelayut manja.


"Gak papa!" sahut Jill.


"Beneran?" selidik Jio.


Jill hanya diam tidak berniat menanggapi, kemudian ia melirik lagi ponsel di tangannya, sebenarnya Jill sudah menyimpan nomor Raiz namun rasanya mendengar Raiz akan menikah ia jadi ragu untuk menghubungi.


"Jill, lo kenapa sih? Aneh, nggak biasanya deh!" tanya Jio lagi.


Jill melihat sekilas ke arah Jio, matanya menatap sendu saudara kembarnya itu.


"Yo, kalau misal nih ya, lo itu suka sama orang, tapi orang itu nggak suka sama lo, kira-kira lo bakal ngapain? Nyerah ato merjuangin?" tanya Jill.


"Hah? Lo apaan sih? Lo lagi suka sama orang?" tanya balik Jio.


"Ya kan cuma misal!"


"Jill, jujur sama gue, lo lagi suka sama orang? Siapa?" selidik Jio.


"Gue nggak ada Jio, gue cuma nanya!" bantah Jill.


"Lo nggak bisa suka sama orang! Gue nggak rela!" bentak Jio.


Jill hanya bisa menghempaskan napasnya kala Jio sudah berkata begitu, itu berarti tidak mungkin dirinya berbagi masalah dengan saudara kembarnya ini.


"Bilang sama gue, siapa cowok itu?" tanya Jio lagi, yang belum puas karena Jill yang dianggapnya tidak berterus terang.


"Jio kita ini kembar, lo nyadar nggak sih semakin ke sini lo itu semakin aneh tau nggak!" bentak Jill tak kalah.


"Gue tau, gue udah bilang gue tau, tapi gue nggak rela kalau lo sama orang lain!" tegas Jio.


Mendengar itu, Jill langsung saja membawa Jio ke kamarnya, tidak akan baik jika pertengkaran mereka nantinya didengar oleh Jason, apa lagi dengan kondisi rumah mereka yang saat ini sedang banyak tamu, Jill benar-benar harus menjaga nama baik keluarganya. Sudah cukup masalah bully kemarin.


"Jill, lo berubah tau nggak, jadi benar dugaan gue, lo berubah karena ada cowok lain!" berang Jio saat sudah berada di kamar Jill. Dia sudah bagai menyergap seorang pacar yang sedang ketahuan berselingkuh.


"Jio, dengerin gue!" bentak Jill.


"Apa? Lo mau bilang apa hah?" tantang Jio.


"Kita ini sodara kembar, lo nggak bisa ngembatasin gue kek gini Yo!" keluh Jill, padahal ini adalah keluhan pertamanya, sebelum dirinya kenal Raiz malahan dirinya juga sama selalu cemburu jika Jio didekati oleh gadis lain.


Plakkk!


"Sarap lo ya!" Jill menampar pipi Jio untuk menyadarkannya. "Lo gila hah?" napas Jill naik turun, dia juga emosi.


Kali ini tidak bisa dibiarkan, Jio sudah semakin melewati batas, Jio tidak bisa lagi diberi pengertian, salahnya juga dulunya terlalu memanjakan Jio.


Yah, dulunya Jill memang selalu memanjakan Jio, pernah berada dalam rahim yang sama mungkin membuatnya ikut merasakan bagaimana dulunya Jio berjuang untuk hidup, mungkin Jill juga merasakan bagaimana kesakitan Jio. Jio yang awalnya tidak bisa beraktivitas layaknya anak-anak lain, membuat Jill selalu menjadi orang nomor satu yang selalu ada di samping Jio, Jill selalu memberikan yang terbaik untuk Jio, bahkan Jill rela untuk melepas nilai-nilai di pelajaran sekolahnya hanya untuk Jio yang menjadi nomor satu, hanya supaya Jio bisa merasa senang, bisa mendapatkan pujian, yah meski sebenarnya Jio memang juga layak untuk mendapatkan itu karena didukung oelh kecerdasan otaknya juga.


Sejak kelas 4 di sekolah dasar, nilai sekolah Jill berangsur menurun, hal itu semata-mata ia lakukan hanya untuk membuat jarak antara kepandaiannya dan Jio begitu terlihat, di pikiran anak usia sepuluh tahun sepertinya, waktu itu Jill pikir mungkin hanya dengan begitu Jio akan merasa puas.


Namun, semakin lama sayangnya Jio semakin salah mengartikan pengorbanannya. Dan Jill menyadarinya saat ini, saat Jio tidak lagi memandangnya sebagai seorang saudara. Rasa nyaman yang diberikannya kini sudah menghanyutkan Jio kepada sebuah perasaan yang salah.


Jio bertambah marah karena itu artinya Jill terang-terangan menolaknya, lalu tangan Jio dengan kasar menghempaskan tubuh Jill di ranjang.


"Jio!" bentak Jill saat Jio menghempaskan tubuhnya.


"Gue nggak pernah salah, gue nggak pernah salah!" racau Jio bagai orang yang hilang kesadaran.


"Jio! Lo apa-apaan sih, Jio kita ini sodara, kita ini kembar!"


"Persetan dengan kembar! Gue nggak pernah minta terjebak di rahim yang sama bareng lo!" ucapnya meracau, tubuhnya dengan sigap mengungkung tubuh Jill.


Jio mengapit tangan Jill dan menaruhnya di atas kepala, lalu perlahan wajahnya mendekati wajah Jill yang terus memberontak.


"Jio sadar!" teriak Jill. Namun kamarnya itu sudah di design kedap suara, jadi sayangnya Jill hanya bisa berteriak untuk menyadarkan Jio.


Jio semakin mendekati wajah Jill, namun saat bibir keduanya hendak bertemu entah kenapa tiba-tiba saja rasanya Jio merasakan sesak yang teramat.


"Hiks hiks!" suara tangis itu seolah memberitahunya sesuatu, perlahan cengkraman tangan Jio melemah, sungguh dirinya sangat-sangat sadar, bahwa yang dirinya cintai ini adalah adik kandungnya sendiri.


"Jio... Lo nggak boleh kek gini Jio, gue adik lo!" tangis Jill semakin membuat dada Jio sesak.


"Sadar Yo!"


"Aaarrggghhh!" teriak Jio sembari meninju ranjang Jill kasar tepat di samping kepala Jill.


Jill langsung saja bangkit dan memeluk Jio, Jio terlihat memberontak, ia benci... Sungguh benar-benar benci.


"Jio, dengerin gue!"


"Kalau rasa itu nyatanya memang ada, tentunya itu adalah sebuah kesalahan, sebisa mungkin lo harus hilangin rasa itu, please! Bukan salah kita, bukan... Tapi kita nggak bisa ngelawan takdir!"


"Lo pasti bisa Yo! Gue yakin! Lo pasti bisa!"


Bersambung...