Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Aku cinta kamu!



Apa sudah bisa kita melakukannya?" tanya Raiz hati-hati, terdengar begitu canggung apa lagi semburat merah begitu tercemar menghiasi wajah keduanya.


"Bukankah kamu sudah lama menunggu hari ini?" tanya balik Jill.


"Jilly Almas, aku cinta kamu!"


Lalu keduanya yang sedari tadi memang sudah mempersiapkan diri untuk malam pertama pun hanyut akan suasana yang tercipta, Raiz mulai membawa Jill ke dalam kungkungannya, setelah melafalkan doa untuk memulai ibadahnya, ia pun mencumb*i bibir Jill lembut sebagai serangan pertama.


Dalam hatinya, Raiz benar-benar berharap pernikahannya dan Jill akan menjadi pernikahan yang dirahmati, bahagia dunia akhirat.


...***...


Hari ini adalah hari pernikahan Jio dan Celia, begitu sederhana karena Jason dan Afik mau tidak mau harus menuruti permintaan Celia, wanita yang sudah sah menjadi istri dari Jio Adskhan Putra Adrian itu menginginkan pernikahan yang tidak seharusnya diketahui banyak orang.


Jadi, selain keluarga kedua mempelai berikut keluarga kecil Yudha dan Angga, tidak ada lagi yang bisa hadir di pernikahan itu. Bahkan Celia melarang Afik saat ingin membuatkan kartu undangan untuk pernikahan.


"Gue nggak nyangka Fik, Cel bisa sekeras ini?" ujar Yudha, dia menyayangkan sikap Celia yang sepertinya tidak begitu peduli tentang pernikahan.


"Mau gimana lagi? Dia bahkan sempet nggak mau nikah, gue nggak tau alasannya apa, beneran cuma karena dia nggak suka sama Jio atau mungkin ada hal lain, keknya beberapa hari ini si Jio udah nunjukin rasa tanggung jawabnya sih, gua bahkan malu sama Junedi sama Ilen." sahut Afik, seraya matanya melihat Jill yang sedang berada di pelaminan sederhana bersama Jio, anak gadisnya itu terlihat murung.


Membuat Afik benar-benar merasa bersalah dan sedikit meragu, benarkah keputusannya menikahkan putrinya dan Jio, apa sebegitu tidak ada perasaannya Celia terhadap Jio, bahkan untuk senyum dipaksakan saja Celia enggan melakukannya.


Mendengar itu Afik tertunduk, "Gue masih belum sampai situ mikirnya, mana anak gue baru masuk sekolah taun ini!"


"Tapi kalau emang udah terjadi, mungkin Cel bakalan homeschooling, tau deh liat aja ntar gimana." lanjutnya.


"Lo yang sabar yaaa..." Yudha memegang pundak Afik, tak lama setelahnya Yudha melihat pundak Afik bergetar. Sepertinya Afik sedang menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Gue cuma punya Cel Yud, kalau bukan karena dia anak Jason gue nggak bakalan bisa rela anak gue digituin." ucap Afik.


"Gue pernah nemuin dia yang mungkin lagi mimpi buruk, bulir keringatnya banyak banget Yud, dia nangis bilang jangan, jangan... Pas sadar, dia langsung meluk gue, dan saat gitu gue cuma bisa bilang maaf. Maaf... Karena udah lalai jagain dia, maaf karena gue bukan Papa yang baik!"


"Gue rasa, itu lah alasan dia nggak bisa nerima Jio dengan mudah, jadi sejak malam itu gue putusin, gue nggak bakalan terlalu maksa dia, dia udah mau nikah sama Jio aja udah sukur, semoga aja kedepannya ada jalan buat hubungan dia sama Jio!"


"Semoga aja, gue juga bakalan terus berdoa buat kebaikan Celia, kalau gue liat dari cara Jio natap Cel sih, kayaknya yang Jio bilang kalau dia suka sama Cel itu nggak bohong deh.


"Yaaaahh, gue harap Jio bisa jadi suami yang baik lah, terlepas karena apa pernikahan ini terjadi." bijak Yudha.


"Semoga aja sih!" sahut Afik, dalam hatinya dirinya benar-benar mempunyai harapan besar pada Jio untuk membahagiakan putrinya.


Bersambung...