Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Salah lagi kan!



Mari berjalan bersamaku, akan kubuat kau tidak akan pernah menyesali, karena telah membuat cerita indah bersama denganku, sekarang ataupun nanti!


^^^Raiz.^^^


___


"Aku mau ngajak Bunda ketemu, di cafe depan sana, kamu bisa ikut kan?" tanya Jill saat makan siang bersama. Raiz hanya mengkerutkan keningnya tidak mengerti, untuk apa menemui Bunda!


"Kamu ada urusan sama Bunda?" tanya Raiz.


"Iya, masalah Anisa!" jawab Jill.


"Lho, kenapa sama Bunda?"


"Kayaknya kalau minta bantuan Papa atau Ayah, takutnya dua orang itu sibuk, tapi kalau sama Bunda biasanya lebih banyak waktu luang!" jelas Jill.


"Memangnya Bunda bisa bantuin?"


"Hemmm, kan udah aku bilang, aku aja dapet informasi tentang kamu semuanya dari Bunda, Bunda aku itu hebat banget malah, lebih hebat dari Ayah, kata Papa sih gitu!" jujur Jill, ia polos sekali, merasa Bundanya itu sangat keren, padahal tidak tau saja kalau Bundanya mantan rampok.


"Hemm, jam berapa ketemunya?" tanya Raiz.


"Sore, sepulang sekolah!"


"Ya udah, nanti kita ke sana bareng! Bunda jauh banget padahal Ay kalau nyampe sini, belum lagi kalau macet, kamu jangan terlalu sering nyuruh Bunda ke sini nanti ya, kasian... Biar kita aja yang ke sana, sekalian nginep di rumah Papa kan bisa!" ujar Raiz memberi pengertian.


"Hemmm, maaf ya aku nggak tau, biasanya aku emang selalu gitu sama Bunda!" lirih Jill.


"Nggak papa kok Ay, nanti kamu tanyain gimana ya sama aku, kalau aku nggak terlalu capek mending kita aja yang dateng!"


"Iya, Ay, ini yang terakhir!"


Jill merasa bersalah, sebenarnya bukan masalah bagi Bundanya itu untuk datang menemuinya, taulah bagaimana Shakira menyayangi putri dan putranya yang adalah anak angkatnya itu, tapi yah itulah Jill, merasa Bundanya akan selalu menuruti kemauannya ia dengan tanpa ragu menyuruh Bundanya datang, meski jarak antara rumahnya dan rumah Bundanya memang lumayan jauh.


"Makan dulu, bentar lagi jam istirahat selesai!" ujar Raiz, ia menata makanan yang dirinya bawa di meja, jam istirahat memang sebentar lagi berakhir, mereka hampir melewatkannya karena Raiz yang harus mengikuti rapat bulanan.


"Kamu masih sempet bikin bekal, padahal kan kamu bisa bangunin aku juga, aku ngerasa gagal banget jadi istri!" ujar Jill, ia menyesal karena kebiasaan tidurnya yang kayak kebo.


"Emangnya kamu udah bisa masak?" tanya Raiz.


"Enggak sih, tapi kan aku jadi kayak ratu kamunya malah..."


"Ya kan kamu emang ratu, ratu di hatiku!"


"Eh, receh lagi kan!"


"Nah, selalu aja gitu, orang nggak ada niatan ngerayu sama sekali malah dibilangin receh, nggak percayaan banget sama suami!" ucap Raiz.


"Bukannya nggak percaya, tapi aku itu kayak aneh aja dengernya!" jujur Jill.


"Geli ya?" terka Raiz.


"Nggak juga, lebih kayak ke suasana yang baru, mungkin belum biasa aja kali ya!"


"Ya udah nanti aku akan jadi suami yang dingin aja, nggak ada rayu-rayu lagi! Mungkin istriku ini maunya gitu, oke!" ancam Raiz.


"Eh, kok gitu, bukannya gitu ihhh, mudah banget berubah haluan!"


"Lah kenapa? Tiap kali nyoba romantis malah dibilang receh, saya ini sedang usaha lho padahal!" ungkap Raiz.


"Salah lagi kan!"


...***...


"Masih punya nyali lo lewat depan gue?" tanya sinis Ariana.


"Masih nanya lo? Serius lo nggak tau?"


Ariana semakin mendekatkan wajahnya, matanya menatap Celia nyalang, "Ternyata lo ini nggak cantik-cantik amat! Heh j*lang, apa sih yang udah lo jual sama Jio? Bisa-bisanya Jio malah milih lo dari pada gue!"


"Dari mana-mana juga cantikan gue, montokan gue, se*yan juga gue, udah ngapain aja lo sama Jio!"


Pedih, saat ditanya seperti itu, meskipun malam itu Jio yang melakukan pemaksaan terhadapnya, namun Celia benar-benar tersinggung, ia tidak suka dikatakan begitu, bukan dirinya yang menjual diri ini pada Jio, justru Jio lha yang telah tega merusaknya.


Celia masih mencoba bersabar, ia diam saja saat Ariana mengatainya. Hingga suaranya itu harus beraksi saat tangan Ariana sudah dengan gila menjambak rambutnya.


"Arrrgghhh!" erang Celia.


"Kak lepasin kak!" keluhnya.


"Kalau orang tanya itu di jawab, gimana sih, j*lang emang ni anak!" maki Ariana.


Oliv yang melihat itu hanya bisa menjadi semakin takut. Ia benar-benar menghindari hal seperti itu.


Namun karena merasa dirinya terancam dan beberapa kali memohon, Ariana tidak juga menghiraukan, Celia langsung mengambil pergelangan tangan Ariana dan menancapkan kuku panjangnya di sana, hingga Ariana menjerit kesakitan dan jambakkan itupun terlepas.


"Sakit! Dasar j*lang!" maki Ariana semakin kesal.


"Lo, dasar bit*h!"


Ariana langsung saja menyuruh ke empat dayangnya untuk mengambil alih Celia, Oliv yang melihat itu memberanikan diri untuk memohon, "Kak... Jangan gangguin temen aku kak!" ujarnya memohon.


"Diem lo!" bentak Ariana dan sejurus langsung saja membuat nyali Oliv menciut. Dia anak baru di sini, dia tidak mau membuat masalah.


"Lo mau ngapain!" bentak Celia tak kalah garang, ketika keempat dayang-dayang Ariana mendekatinya.


"Mau ngasih pelajaran sama lo, jadi j*lang aja belagu!" ucap salah satu dari mereka.


"Lepasin!" berontak Celia, kedua tangannya kini sudah berhasil di ambil, keempat dayang-dayang Ariana itu langsung saja membawa Celia ke tembok.


Celia benar-benar harus melawan, namun mana bisa dia melawan jika Ariana berniat mengeroyoknya seperti ini.


"Lepasin gue! Lepasin!" teriaknya.


Oliv langsung saja berlari, ia akan memanggil guru BP, tapi di perjalanan karena terburu-buru ia malah tidak sengaja menabrak Jio. Pusat dunianya itu berhasil membuatnya mematung sesaat.


Jio mendengar suara yang memang mulai akrab di telinganya berapa hari ini, teriakannya itu membuatnya peka.


Tanpa berniat menyapa Oliv ia langsung menuju sumber suara, lalu memang benar dilihatnya Celia yang tengah ditampar oleh Ariana.


"Hentikan!" teriakannya berhasil mengalihkan perhatian Ariana dan keempat dayang-dayangnya.


"Ji... Jio!" gagap Ariana.


Dia kira, Jio sudah selesai makan di kantin, karena dia melihat sendiri gebetannya itu meninggalkan kantin, tapi kenapa Jio bisa berada di sini lagi pikirnya.


"Lepasin dia, lo!" Jio menatap Ariana dengan garang, itu bukan akting atau semacamnya, entah kenapa Jio pun tidak tau apa yang terjadi padanya, melihat Celia di sakiti seperti itu, darahnya langsung mendidih, ia benar-benar naik pitam.


"Plaakkk!" tangan Jio malah sudah dengan kasar menampar pipi Ariana, dia kalut dan tidak menyadari kalau ini masih di lingkungan sekolah.


Lalu, tanpa pikir panjang Jio langsung saja mendekap tubuh Celia, mengusap pipi calon istrinya itu perlahan, "Lo nggak papa Cel?" tanyanya, tidak peduli Celia memberontak minta dilepaskan.


"Dengar! Gue bakal tegasin sekali lagi, Celia ini cewek gue, kalau lo lo pada masih mau sekolah dengan tenang, jangan berani sekali lagi gangguin dia, atau kalian semua harus berurusan sama gue dan nggak bakalan ada kelarnya!" ancam Jio pada Ariana dan dayang-dayangnya, dan juga untuk semua orang yang menyaksikan itu.


Tanpa tau dan menyadari, perkataannya itu sayangnya harus sangat menyakiti hati seseorang yang saat ini juga tengah menyaksikannya.


"Kak Jio sama Cel? Pacaran?" gumam Oliv tidak percaya.


Bersambung...