Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kedatangan Yudha.



Aku mulai senyum saat melihatnya, aku mulai suka memperhatikannya, langkahku mulai mencarinya saat mataku tidak bisa menemukan wajah cantiknya!


Ada apa denganku?


^^^Raiz.^^^


___


Raiz melihat punggung Jill yang semakin menjauh, ada perasaan tidak senang saat ia melakukan penolakan, bukan apa... Raiz hanya merasa Jilly dan dirinya memang tidak bisa bersama.


"Gimana gue bisa jagain lo ntar, sedang penjagaan dari orang tua lo aja selama ini bikin orang ketakutan!"


"Gue takut nggak bisa bahagiain lo..."


"Apaan sih gue, seolah-olah kek beneran ada rasa sama tuh anak!" ralat Raiz, mencoba menghalau segala rasa tidak nyamannya.


Raiz pulang ke rumah, ia menghela napasnya dalam saat pemikirannya yang tidak selesai-selesai memikirkan Jill.


Ia mencoba menetralkan perasaannya, bagaimanapun Raiz merasa ia dan Jill tidak pantas bersama.


...***...


Pagi menjelang, Jill menggeliat bangun saat bunyi alarm sudah berhasil mengusik telinganya. Hari ini hari sabtu, tapi Jill sengaja tidak pulang ke rumah utama, ia ingin menghabiskan waktunya sendirian.


Penolakan yang dilayangkan Raiz padanya semalam, seolah menjadi cambuk yang berhasil melukai hatinya namun membuatnya semakin kuat menginginkan Raiz. Jill tidak akan jera hanya satu kali penolakan.


"Hooo Oke, mari kita buat dia menjadi tidak punya pilihan apapun, anggap saja sebagai cerita sejarah kami sebelum bersama..." ucap Jill sembari merentangkan tangannya.


Jill mencari ponselnya yang ia taruh sembarang di tempat tidur, membaca pesan dari Jio yang entah sudah puluhan kali memanggilnya dan mengirimi pesan.


Kembarannya itu menanyakan mengapa dia tidak pulang sedang hari ini adalah hari libur. Si manja bahkan mengancamnya akan menemuinya di apartemen jika dia tidak pulang hari ini.


Dretttt... Drettt...


Ponsel Jill kembali berdering, kali ini Papanya, Jill langsung saja mengangkatnya.


"Hemmm..."


^^^"Baru bangun tidur anak gadis Papa?"^^^


"Ternyata tinggal sendiri nggak begitu buruk!"


^^^"Oh yaaa... Jadi betah gitu?"^^^


"Ada apa Pa?"


^^^"Kamu nggak pulang?"^^^


"Baru mau pulang, aku mau mandi dulu tapi!"


^^^"Oohhh, baguslah!"^^^


"Kenapa?"


^^^"Nggak ada, cuma hari ini ada Om Yudha sama keluarga balik dari Jerman, mereka nginep di rumah... Jadi kalau bisa ya kamu pulang, Papa juga ngadain acara kecil-kecilan!"^^^


"Hemmm, yodah, nanti aku mandi dulu terus langsung pulang!"


^^^"Yaaa, dadah cantiknya Papa!"^^^


"Daaahh, Papa ganteng!"


Sedang di rumah utama,


"Kamu ini kenapa sih By?" tanya Jason saat melihat Shirleen senyum-senyum sendiri.


"Enggak... Aku tuh, tuh liat deh... Anaknya Weni, cantik tau!" adu Shirleen saat melihat anaknya Weni yang baru saja sampai di rumah mereka. Yudha dan Weni memang memilih menginap di rumah Jason untuk melepaskan penat saat mereka sekeluarga baru saja tiba di Indonesia. Jason mengatakan akan mengadakan party kecil-kecilan untuk menyambut mereka, dan nanti malam juga akan ada Angga dan Afik sekeluarga datang ke sini.


"Ya terus kenapa?" tanya Jason tidak mengerti.


"Kayaknya cocok deh kalau sama Jio, apa sama Abang aja?" tanya Shirleen yang ternyata sudah mempunyai niat terselubung.


"Hemmm, kamu ini ada-ada aja ya..."


"Mereka masih kecil! Abang aja lagi kuliah di LN!"


"Ihhh, aku kan cuma bilang, kayaknya cocok, bukan berarti mereka harus dinikahin, Abang masih kuliah, Jio juga masih SMA kamu kira aku mau nyamain anak-anak aku kek Papanya yang udah kebelet nikah!" gerutu Shirleen.


"Etts etts, ngomong apa? Berani yaaa..."


"Ya kan emang gitu, dulunya anda emang kebelet nikah kan Pak!" canda Shirleen.


"Mau aku makan di sini kamu!" tantang Jason.


"Eehh, enggak Pak enggak, ampun!"


"Orang nikahnya juga sama dia, orang dianya juga mau!" gerutu Jason sok kesal.


"Ya kalau yang ngajak nikahnya modelan kek Bapak, pasti mau lah! Siapa juga coba yang berani nolak!" rayu Shirleen.


Ada sedikit senyum yang tertahan, lalu Jason langsung saja memeluk istrinya itu dengan sayang, "Kamu tuh yaaa..." ucap Jason gemas.


"Ihihhii..."


"Ekhmmm!" suara seseorang malah mengagetkan adegan romantis keduanya.


"Ada orang di sini woy, bisa tahan-tahan nggak?" sindir Yudha. Dia baru saja akan menemui Jason di ruang tamu untuk temu kangen, namun yang dilihatnya sahabatnya itu seolah tidak terganggu dengan kehadirannya, masih saja bebas bermesraan.


"Paan sih lo cebong!" kesal Jason karena moment mesranya terganggu.


"Gue pulang lagi nih!" ancam Yudha bercanda.


"Eehh..." Shirleen langsung saja bangkit, ia sungguh merasa tidak nyaman, namun Jason malah menahannya. "Ih By, kamu ini... Malu!"


"Udah biarin aja!" santai Jason.


"Ada apa sih Yud?" Jason merenggangkan pelukannya dan siap mendengarkan Yudha.


"Ya nggak papa, temennya datang bukannya temu kangen ini malah enakan sama bini!" ucap Yudha sembari mengambil satu kaleng soda dari kulkas yang berada di ruang tamu. Sebenarnya ia juga tidak terganggu sih dengan Jason, pasangan beda usia di hadapannya ini memang sudah biasa menanggalkan malu.


"Kamu mau dienakin juga?" tanya Jason bercanda.


"Sialan lo!" umpat Yudha, "Lo keknya ketularan Angga sama Afik deh, ngeri gue!"


"Ya kali lo iri!" enteng Jason.


"Dasar setan!"


Bersambung...