Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Tapi dengan satu syarat.



Gue bakalan buat lo nggak bisa mikirin hal lain di dunia ini, selain gue! Karena mulai hari ini, gue adalah dunia lo!


^^^Jio.^^^


___


"Cel nggak bisa terima Jio Pa, Cel nggak mau nikah sama Jio!" ujar Celia, semua orang di sana tercengang, menatap tidak percaya ke arahnya, bagaimana bisa Celia malah menolak lamaran Jio.


Apa lagi Jio, pemuda itu mengepalkan tangannya keras, apa segitu nggak maunya Celia berhubungan dengannya, bahkan sampai ia merusak kegad*sannya pun, Celia tetap menolaknya. Jio benar-benar penasaran dengan Celia.


"Kenapa? Cel, tapi kamu..."


"Nggak akan ada yang terjadi sama aku Pa, Cel mohon, Cel nggak mau nikah sama Jio!" potong Celia cepat, tidak! Dia tidak mau menikah dengan sebangsa manusia sadis namun dingin bak es batu itu, bisa mati ketakutan nanti dirinya jika benar-benar sudah sah menjadi istrinya Jio, nyatanya kejadian malam itu telah berhasil menyisakan trauma bagi Celia.


Alasan lainnya, tentulah karena Oliv, Cel tidak mau merusak pertemanannya yang baru saja terjalin, Oliv hanya mengharapkannya di sekolah, gadis itu sangat pemalu, Celia tidak sanggup jika harus bermusuhan dengan Oliv.


"Tapi Jio setuju Pa!" lantang Jio. "Jio benar-benar cinta sama Cel! Om Afik, Jio udah bilang sama Cel untuk tanggung jawab tapi Cel tetap aja kayak gini nggak mau!" ujar Jio lagi, baiklah jika gadis itu tidak mau menjadi istrinya, tapi dirinya tetap akan memaksa sampai Celia tidak akan bisa menolak nantinya. Apa lagi, Jio yakin malam itu dia memang membuang benihnya di dalam, memenuhi rahim Celia. Jika Celia dalam masa subur tentu saja kecebongnya akan tumbuh.


"Cel, Papa mohon, Papa benar-benar takut terjadi apa-apa sama kamu, kita tidak tau kedepannya kan!" ujar Afik mencoba meyakinkan.


"Celia... Percaya sama Om, Om udah ngganggep Celia seperti anak Om sendiri, jadi singkirin pemikiran buruk tentang Jio, meskipun Jio bukanlah calon suami yang baik tapi Om sama Tante Ilen tentunya akan selalu sayang sama kamu, Om nggak akan biarin terjadi sesuatu sama kamu, Om bisa janji Cel!" bujuk Jason, Ilen benar-benar bingung, ia sedang menenangkan Zalin yang sudah berurai air mata, Ibu dari Celia itu hanya bisa menangis sesegukan. Mengapa juga nasib mereka bisa seperti ini, kalau Jio benar-benar menyukai Celia, katakan saja pada mereka, dengan cara apapun meski harus memaksa mereka akan merayu Celia untuk menerima perjodohan, setidaknya itu lebih baik ketimbang terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini.


"Om..."


Celia tercekat, bagaimana bisa Papa dari Jio ini seakan tau apa yang saat ini sedang dirinya rasakan.


"Mau yaaa..." ujar Shirleen, ia pun turut membujuk Celia. Kalau lah tidak ada kelakuan bejat Jio yang mewarnai drama lamaran ini, tentunya Shirleen dan semua orang di sini akan sangat bahagia, menjadikan Celia sebagi mantu tentunya adalah hal yang baik, Celia termasuk anak yang sopan, baik dan penurut, sifatnya yang tak ubah seperti Afik, yang selalu ceria dan bisa mencairkan suasana tentang akan membuat Ilen bersyukur bisa mendapatkan mantu seperti Celia.


Celia benar-benar tidak bisa berkata apapun, dia juga tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Jio, ini sulit! Benar-benar sulit.


"Ya udah aku mau, tapi dengan satu syarat!" ujarnya memutuskan setelah banyaknya pertimbangan.


Bersambung...