
Hari -hari yang akan kita lalui nantinya, apapun itu asalkan berdua denganmu, aku akan selalu menikmatinya.
^^^Jill.^^^
___
"Hai!" sapa seseorang.
Jill mendongak, seragam pemuda ini nampak sama dengannya, tapi mungkin karena Jill tidak pernah memperhatikan sekeliling jadi dia tidak mengenali cowok itu.
Jill tidak menyahut, ia mengabaikan cowok itu dan matanya masih melirik ke arah Raiz yang jauh di sana, calon suaminya itu tampak mengambil sembarang beberapa bahan makanan.
"Lo Jilly kan?" tanya cowok itu lagi, sudah duduk di sebelahnya, membuat Jill semakin tidak suka.
"Kenalin gue Ramond!" Ramond mengulurkan tangannya untuk salam perkenalan. Namun sayang sekali tangan itu harus tergantung tanpa Jill berniat menyambutnya.
Menarik, dia mengabaikan di pertemuan pertama.
"Hei, lo liatin apa sih?" tanya Ramond lagi.
Jill bangkit saat melihat Raiz sudah menuju kasir untuk membayar, ia mengetikkan pesan untuk mengabarkan pada Raiz kalau dia pulang duluan, gadis itu berlalu tanpa memedulikan Ramond.
Gila, baru kali ini gue dikacangin!
Bener-bener menarik nih cewek, liat gue aja enggak, sumpah ya!
"Lo ngapain bengong di sini?" tanya Rian, menepuk pundak Ramond sedikit keras, mereka sedang membeli beberapa snack untuk teman nongkrongnya nanti malam di apartemen Ramond, tidak sengaja melihat temennya itu tampak keheranan duduk sendiri.
"Ah, ga da, gue cuma kayak liat seseorang yang gue kenal, tapi keknya bukan!" jawab Ramond.
"Siapa?"
"Bukan urusan lo!" ketus Ramond.
Raiz menekan bel unit apartemen Jilly, tak lama pintu pun terbuka, ia langsung disuguhkan wajah Jill yang cemberut namun sayangnya masih saja terlihat menggemaskan.
"Cemburu lagi?" tanyanya, padahal pertanyaan itu malah akan semakin menyulitkannya nanti.
"Nggak! Seneng banget kok, aku seneng banget lihat kamu sama ulat bulu, hobi banget tebar pesona." sindir Jill.
Raiz tersenyum gemas, orang kasmaran memang beda, nyatanya sepanjang hari malah lebih terlihat banyak senyumnya.
"Uh ngambek, jadi makin sayang kan kalau gini!" ujar Raiz, ia menoel sedikit pipi Jill, suka sekali rasanya di pelangalaman pertamanya punya pacar ini.
Jill masuk ke kamar, dia masih kesal, biarkan saja Raiz mengobrak-abrik rumahnya sesuka hati, dia itu gimana ya, kesel tapi juga nggak mau kalau Raiz sampai pulang.
"Lah kok balik ke kamar sih?" tanya Raiz.
"Bodo!" ketus Jill.
Raiz tersenyum lagi, ah calon istrinya itu manja sekali.
Kemudian ia berkutat di dapur, membuat makan malam untuknya dan Jill, hanya sup daging dan makaroni saja, ia juga sudah sedikit lapar jadi tentunya ingin membuat makanan yang ringkas saja.
Jill baru saja selesai mandi saat ini, hidungnya langsung mengendus sesuatu yang menggoda, aroma masakan Raiz bahkan tercium sampai ke kamarnya.
Setelah mengeringkan rambutnya Jill gegas menuju dapur, hilang sudah kekesalannya pada Raiz, mungkin otaknya yang kurang beres tadi sudah terkontaminasi oleh air, jadi kepalanya yang sudah dingin itu bisa memaklumi kejadian di supermarket tadi.
Sekarang dia akan menemui calon suaminya itu dan bermanja lagi, ada untungnya juga dia tinggal sendiri di apartemen. Jill yakin Raiz tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, jadi dirinya tenang-tenang saja.
Mata Raiz membola kala melihat kedatangan Jill, gadisnya itu tengah berjalan dengan santainya menuju kulkas, mengambil air dingin dan lalu menenggaknya, celana pendek sepaha berbahan katun yang berhasil membalut sempurna paha mulus itu, baju kaos oversize putih tulang dengan rambut digerai indah, ya Tuhan... Ini benar-benar cobaan untuk seorang Raiz.
"Jilly..." serunya, mengambil paksa botol air mineral itu dan tangannya dengan cepat menyeret Jill kembali ke kamar.
Bersambung...