Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Anak istimewa.



Saat kita menyukai seseorang, mengapa rasanya sulit sekali mengendalikan perasaan?


Dia mau seperti apa, aku tetap suka!


^^^Raiz.^^^


___


Jilly dan keluarganya di susul Raiz di belakang juga bersama Ummi Hana dan Kyai Ahmad, sedang menuju rumah Raiz. Mereka akan membicarakan suatu hal, Jason sudah mengiyakan perkataan Raiz yang ingin menjadikan Jill seorang istri, namun untuk itu tentunya mereka harus membicarakan dahulu apa yang perlu dibicarakan.


Apa lagi tentang ibadah yang semua orang berharap bisa satu kali dalam seumur hidup itu.


Sesampainya di rumah Raiz, Jason mengedarkan pandangannya, ia merangkul Jill sembari melemparkan candaan, "Udah mau nikah aja ini? Emangnya udah bisa masak? Emangnya udah siap jadi istri yang baik!" canda Jason.


"Iihh Papa..." keluh Jill.


"Nanti kalau udah nikah udah nggak bisa lagi ya panggil-panggil Papa ganteng, malu sama suami!" lanjut Jason, Shirleen yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum senang, dia juga menginginkan kebahagiaan untuk Jill, apapun itu! Yah meski dianggapnya ini terlalu cepat sih.


"By, kita benar-benar nggak ada persiapan!" ujar Shirleen berbisik.


"Udah santai aja, ini kan baru mau dibicarain!" sahut Jason.


Mereka semua dipersilakan Raiz untuk masuk, Jason yang mengetahui kalau Raiz hanya tinggal sendiripun sedikit kagum karena rumah pemuda itu jujur saja sangat rapi, bersih dan wangi, Raiz sepertinya merawat kediamannya dengan baik. Lagi-lagi dia membayangkan bagaimana nantinya jika putrinya itu tidak bisa melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri.


"Baiklah, Nak Jason, bagaimana jika kami saja yang melamar Nak Jilly, sepertinya agak kurang tepat jika Nak Jilly yang melamar!" ucap Kyai Ahmad, ia sudah memikirkan itu di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Raiz.


"Aku setuju saja!" angguk Jason.


"Kalau Raiz?" tanya Kyai Ahmad, dia menyerahkan keputusan penuh pada putranya.


"Aku... Aku hanya ingin menghalalkan Jilly, segera!" ujarnya menahan malu. Malu karena nyatanya dialah yang sangat ingin bersama Jilly, setelah kemarin padahal sempat menolaknya.


"Ooohhh, kelihatannya benar-benar bersemangat!" goda Jason. Ia juga salut akan keberanian Raiz, tidak lagi seperti pada awal-awal pertemuan mereka, Raiz tampaknya sudah bisa mengimbangi kedekatan mereka, bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi mertua dan menantu.


"Bagaimana Nak Jason? Apakah bisa?" tanya Kyai Ahmad.


"Tentunya Kyai, tapi sebelum itu aku ingin berbicara sebentar pada Raiz!" ujar Jason.


"Silakan silakan!" Kyai Ahmad menghargai permintaan Jason, justru beliau merasa sikap Jason yang seperti itu bisa diartikannya bahwa Jason akan bisa menerima Raiz.


"Iya Pa!" jawab Raiz sembari mulai menatap wajah calon mertuanya itu, ia mencoba menahan gugupnya, apapun yang terjadi dan apapun yang akan dikatakan calon Ayah mertuanya ini nanti, semoga saja ia tidak mundur, karena untuk saat ini ia benar-benar ingin menjadikan Jilly sebagai istrinya.


"Papa ingin berbicara tentang anak istimewa Papa, supaya kamu bisa lebih mengenalinya, Kyai Ahmad juga silakan Kyai bisa menilai bagaimana nanti putri kami, saat aku menjelaskan bagaimana kesehariannya, sifatnya, yang kami pelajari selama tujuh belas tahun ini!" ungkap Jason.


Kyai Ahmad mengangguk, ia juga ingin mendengarkan bagaimana profil dari seorang Jilly, yang katanya telah mampu membuat hati putra bungsunya ini bergetar.


"Namanya Jilly Almas Putri Adrian, kami memanggilnya Jill, dia anak bungsu kami, dan kami sepakat menyebutnya anak istimewa!" ujar Jason memulai memperkenalkan putrinya, di sini dia tidak akan menyaring persentasinya tentang Jilly, baik maupun buruk semuanya akan ia katakan, supaya nantinya Raiz bisa mempertimbangkan lagi keputusannya yang ingin menikahi Jilly, supaya kedua orang tua Raiz mengetahui seperti apa calon menantunya.


"Dia anak ke empat dari empat bersaudara, dan dia mempunyai kembaran, putra kami yang bernama Jio!" lanjut Jason.


"Raiz, Jill juga memiliki dua orang tua, ini..." Jason menggerakkan jarinya untuk Roy maju, "Raiz, Kyai Ahmad, ini adalah Ayahnya Jill, tapi Bundanya tidak ikut!" ujar Jason.


"Itu artinya, Papa dan Mama di sana!" Jason menunjuk Shirleen dan bisa-bisanya mengedipkan mata genit sebentar, "Adalah mertua kamu, dan juga ini Ayahnya Jill dan Bundanya di rumah, juga mertua kamu!"


Roy bangga pada Jason, meskipun sedari tadi dia diam saja menyimak, namun dalam hatinya terbesit rasa ingin Raiz juga mengenalinya sebagai seorang Ayah dari Jilly Almas.


"Anak kami istimewa Kyai! Kenapa kami bilang istimewa, karena saat semua anak seusianya ngejar rangking di sekolahnya tapi dia malah ngejar waktu untuk bolos! Dia adalah anak kami yang paling banyak menorehkan penghargaan, skorsing 17 kali dengan masing-masing waktunya satu minggu, itu terjadi sejak dari dia SMP!"


Jason melirik Jill, anak gadisnya itu tampak cemberut, melayangkan permusuhan padanya, namun sayang sekali Jason tidak peduli.


Raiz menahan tawanya, dia memang sudah melihat bagaimana Jill dengan kelakuan bobroknya, hanya saja dia sedikit ragu, takut kalau kedua orang tuanya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Jill.


"Papa ini adalah orang yang selalu datang saat pemanggilan orang tua, sekalipun Papa tidak pernah absen, begitupun saat kemarin!"


"Jika kalian semua pernah dengar kasus yang melibatkan nama anak kami sebagai tersangka utama, maka saya harus mengakuinya, Jill kami memang seistimewa itu!"


"Dia juga orang yang tidak bisa melakukan pekerjaan apapun, tidak tertarik akan pelajaran, tapi bukan berarti putri kami bodoh, dia hanya tidak suka belajar!" ujar Jason, menegaskan kalau Jill-nya tidak bodoh, dan itu memang benar bukan.


"Setelah menikah dengan Raiz nanti, Papa akan menyerahkan tanggung jawab pada Raiz, Raiz lah yang akan menjadi walinya, ajari anak Papa agama yang baik, caranya untuk lebih baik menyikapi hidup, tapi ingat jangan membentaknya, Jilly paling tidak bisa dibentak, dia akan lebih berlaku kasar jika ada orang yang mengasarinya, dia tidak suka dibantah, jadi jika Raiz tidak menyukai apa yang nantinya dia lakukan, Raiz bisa menjelaskannya pelan-pelan, biasanya dia akan mengerti!"


"Dia anak yang penurut, hanya saja harus tau cara mengambil hatinya saja!" bisik Jason pada Raiz, setelah dia menyudahi penjelasannya tentang Jilly.


Raiz mengangguk, ternyata Jill memang se bar-bar apa yang dirinya bayangkan. Sungguh bagaimana dirinya akan memulai nantinya?


Bersambung...