
Jika dia memang tidak bisa membalas perasaanku, meski sakit mungkin akan kucoba untuk melepaskan.
Namun sebelum itu, bisakah dia memberikanku satu alasan saja untuk aku mencoba sekali lagi.
^^^Jill.^^^
___
"Jill, ayo salam dulu, ini Tante Weni temennya Mama!" pinta Shirleen saat anak gadisnya itu mulai mendekat ke arahnya, sedari tadi Jill memang tidak terlihat keberadaannya, dan saat ini anak gadisnya itu entah kenapa malah menampilkan wajah yang tidak bersahabat.
Jill menurut, ia menghampiri Weni dan kemudian menyalaminya, "Hai Tante!" sapanya pada wanita yang tidak lagi muda itu namun masih juga cantik.
"Hai sayang!" sapa balik Weni, "Duh cantiknya! Len, ini sih Jason banget, duplikatan Papanya, Jason versi cewek!" puji Weni pada kesan pertama melihat Jill.
"Kan Bapaknya Wen, wajar lah mirip!" sahut Shirleen.
"Ya tapi maksud aku tuh kok bisa nggak ada cela gini!" ucap Weni tidak mau kalah.
"Hemmm, kalau Jio mirip aku, nah kalau Jill emang mirip Jason, eh tapi si Oliv malah mirip kamu lho Wen, biasanya kalau anak cewek kan mirip Ayahnya!" ucap Shirleen.
"Iya, Olive emang ke aku, nggak ada mirip Yudha, sifatnya doang yang mirip!" setuju Weni.
"Nah Jill, ayok salim juga itu sama Tante Zalin, sama Tante Rara!" Shirleen meminta Jill untuk melanjutkan sapaannya.
Jill kemudian lanjut menyalami Zalin dan Rara, setelahnya ia begitu tertarik dengan Baby Ivanna, anak bungsu Angga yang baru saja lahir tiga bulan yang lalu.
"Hai cantik!" sapanya gemas pada Ivanna.
'Hai Kak Jill!" sapa balik Rara, ia gugup saat Jill menyapanya. Meski ia dan Angga sudah membangun rumah tangga setidaknya lima belas tahun, namun rasanya tetap saja jika menyangkut keluarga Jason Ares Adrian dirinya masih sering gugup, terharu, tidak menyangka bisa menjadi bagian dari mereka, ia yang memang pada awalnya bukan berasal dari keluarga yang berada tentulah begitu mengagumi keluarga yang satu ini.
Apa lagi, mereka memang jarang-jarang sekali berkumpul seperti ini, palingan saat ada acara keluarga. Untuk suaminya dan Jason memang sering bertemu, selain hubungan bisnis tentunya suami-suami mereka itu memang kelewat akrab.
"Ihh gemes banget sih kamu!" Jill menguyel pelan pipi Ivanna yang memang tampak chubby, "Siapa namanya Tan?" tanya Jill.
"Namanya Ivanna, Kak Jill!" jawab Rara gemas.
"Hai Ivanna, duh kamu lucu banget sih, aku jadi pengen gendong tapi takut!" ucap Jill.
Perasaan gundah gulana akibat hendak ditinggal menikah olah Raiz pun perlahan bisa dirinya alihkan karena kehadiran Ivanna. Bayi mungil itu nyatanya mampu mengalihkan perhatiannya, yah walaupun mungkin hanya sebentar.
"Hihi, bisa nggak? Kalau bisa ya gendong aja!" ucap Rara, ia akan sangat bersyukur sekali jika anaknya bisa digendong oleh Jill, Rara bahkan berencana akan mengabadikan itu.
Sudahlah cantik, mempunyai badan yang bagus pula, dan setiap kali ia bertemu dengan Jill, anak gadis Jason yang katanya pernah tertimpa kasus bullying itu nyatanya begitu ramah pada mereka semua. Ia merasa Jill bukanlah seseorang yang harus ditakuti, malahan entah mengapa dia begitu mengagumi Jill, mungkin karena sebelum ada Ivanna Rara tidak memiliki anak gadis, jadi dirinya sudah benar-benar menyukai Jill, meski mau seperti apapun Jill rasanya ia tetap suka.
"Nggak berani aku Tante, dia masih kecil banget, ahh lucunya!" Jill menciumi gemas tangan mungil Ivanna.
"Ma, mau yang kek gini juga satu!" adunya pada Shirleen tiba-tiba.
"Jill, ngaco kamu!" kejut Shirleen. Bagaimana bisa anaknya itu berpikiran mau adik lagi. Kalau Jason sih, Shirleen malah berani jamin, suaminya itu masih top cer dalam urusan bikin anak lagi, tapi terus terang kalau dirinya, yah sesuai umur lah yaaa. Di umurnya yang sudah 46 tahun ini, bisa terkena serangan encok yang tidak berkesudahan kalau ditambah setua itu harus masih mengurus bayi. Cukup bayi besarnya saja yang kadang masih suka sering kumat penyakit manjanya.
"Jill bilang gitu Kak Ilen, padahal dulu dianya chubby juga kek Ivanna, pipinya Ampe tumpah sering banget diuyel-uyel Papanya Cel." kali ini Zalin yang bicara, ia lucu juga saat Jill mengadu pada Shirleen hendak memiliki adik.
"Hooh! Aku udah pernah punya yang kek gitu, nggak mau lagi, udahan aja!" sahut Shirleen.
"Nanti aja, kalau kamu udah nikah juga bakalan punya yang kayak gitu Jill!" lanjut Weni.
"Hemmm!" ucap Jill lesu, menyinggung masalah nikah lagi, tidak taukah orang-orang kalau saat ini Jill sedang sensitif dengan kata 'Nikah'.
"Lho kenapa?" heran Shirleen saat melihat perubahan raut wajah Jill. Ia pikir mungkinkah Jill benar-benar menginginkan adik, wah gawat ini.
Jill duduk sedikit menjauh, akhirnya ia kembali galau lagi.
"Lah kenapa tuh anak? Beneran mau apa ya?" gumam Shirleen bertanya heran.
"Masa iya sih Len, waah harus diaduin ini sama Jason, bilangin anaknya mau adik lagi!" ucap Weni sembari tergelak.
"Ngaco kamu Wen, ih sadar umur tau!"
"Aku udah kaya banget ya, anak aja udah empat, kamu tuh kenapa cuma Oliv seorang, nambah dong kali aja kan berhasil!"
"Dih, ogah kali, aku juga ingat umur, kamu becandanya kelewatan deh menyinggung diriku, udah tau kita sama!" sahut Weni tidak terima.
Sementara Zalin dan Rara hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya Jason dan mantan bosnya itu, semoga kebahagiaan seperti ini selalu menyertai mereka semua.
"Udah ah! Jangan mikirin bikin anak lagi, serem tau kalau udah tua gini!" ucap Shirleen menyudahi.
"Eh, aku tinggal dulu ya, Ra, Zalin, kalian lanjutin aja ngobrolnya, aku mau ke Jason sebentar nganterin ini!" lanjut Shirleen sembari membawa satu nampan berisikan daging yang sudah dihidangkan sempurna dan tampak lezat.
Keduanya mengangguk, Zalin kemudian membantu Weni yang saat ini sedang melanjutkan memanggang daging, sementara Rara, dari tadi dirinya tidak diizinkan untuk membantu, karena adanya Baby Ivanna.
Sementara itu, Shirleen berjalan pelan menuju sofa di mana suami dan ketiga sahabatnya itu sedang mengobrol asik.
Namun langkah Shirleen terhenti kala samar-samar dirinya mendengar suara-suara yang menyinggungnya.
"Bayangin aja dia ngancem gue waktu itu, seharian nggak berenti nangis, kalau dia bangsa duyung beh udah koleksi mutiara gue karena dianya nangis mulu!"
"Sayang banget ya bukan duyung!"
"Iya, padahal gue baru aja mau minta!"
"Emang, sayang banget bukan duyung itu bini!"
Mendengar itu, Shirleen melangkah pelan mendekat, ia dengan hati-hati langsung memberikan nampan yang berisikan daging barbeque itu ke tangan Yudha, dirinya mengisyaratkan untuk Yudha tetap diam dan Yudha pun mengangguk paham.
Ini akan sangat menyenangkan, setelahnya Shirleen memegang lembut pundak sang suami dan berkata dengan manja, "Siapa yang duyung By?"
Bersambung...