Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Seterharu itu.



seperti ada yang lepas dari sebagian diriku, tidak hilang memang, hanya seperti aku melepaskan sesuatu namun aku belum sepenuhnya rela.


^^^Jason.^^^


___


Jilly dibawa oleh Shirleen dan juga Weni menuju Raiz, Raiz melongo tidak percaya karena penampilan Jilly, gadis itu memakai kebaya muslim dan hijab syar'i menutupi mahkotanya untuk busana nikahnya, semakin membuat Jilly yang memang sudah cantik bertambah cantik lagi, Raiz benar-benar tidak bisa percaya, apakah istrinya ini bidadari? Dia sampai ingin menangis karena berhasil menikahi Jilly. Sungguh!


MasyaAllah, sungguh kesempurnaan hanya milik-Nya, namun istriku ini diciptakan memang mendekati sempurna, semoga akhlaknya sebaik rupanya yang menggetarkan hati. Amin!


Jill duduk di samping Raiz lalu mengecup punggung tangan suaminya itu, Raiz merasakan gelenyar yang menggetarkan hatinya, sungguh dia benar-benar bahagia. Raiz mencium kening Jilly dan kemudian tangannya memegang puncak kepala Jilly untuk mendoakan pernikahan mereka.


Cekrek, cekrek, cekrek!


Jacob dengan sigap mengabadikan moment itu, kemudian pasangan yang baru saja sah itu diminta untuk bersalaman pada kedua orang tua mereka, pada kedua belah pihak yang telah menyatu menjadi sebuah keluarga besar itu.


"Aku mencintaimu Ay!" bisiknya dengan lembut.


Jill hanya bisa tersenyum canggung, bukankah ini yang dirinya mau, namun mengapa tiba-tiba dia gugup sekali.


Jill beralih menuju Jason dan Shirleen diikuti Raiz, keduanya sungkeman dan meminta restu.


"Jill tetap anak Papa, pundak Papa selalu ada untuk Jill bersandar!" ucap Jason, setitik air mata yang menggenang di pelupuk akhirnya luruh juga. Dia mengecup lama dahi bungsunya itu, "I love you, Papa sayang banget sama Jill!"


Jill tidak bisa membendung tangisnya, karena dibandingkan dengan Shirleen dirinya memang sangat dekat dengan Jason, tentunya saat Jason mengatakan itu terang saja tiba-tiba dadanya sesak diikuti rasa haru menyeruak.


"Anak Mama, udah jadi istri orang sekarang ya, makasih ya udah bahagiain Mama selama ini, anak istimewanya Mama, cintanya Mama, Mama pasti akan selalu dukung apapun jika itu baik untuk Jill, kalian harus saling menjaga, saling menguatkan!"


"Ingat pesan Papa ya Raiz, Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa, tidak menyalahgunakan kepercayaan Papa!" ucap Jason untuk Raiz.


"Mama yakin, kamu bisa jaga Jill dengan baik, titip Jill ya, dia memang sedikit istimewa!"


"Selamat datang di keluarga baru, ini Abi, tidak perlu ditakuti, tidak perlu sungkan, karena mulai hari ini kamu adalah bagian dari keluarga kami, Abi merestui kalian!"


"Sayangnya Ummi! Masyaallah cantik sekali, beruntung sekali Ummi punya mantu secantik Jilly, selamat datang di keluarga kami ya nak!"


"Lo nangis Junedi?" sergah Afik, ia juga sebenarnya terharu sih, tapi mungkin karena Jilly bukan anaknya jadi dia tidak sampai menangis, melihat kenyataan Jason yang menangis karena Jilly menikah ia jadi membayangkan Celia, putri sulungnya itu bagaimana jika nanti menikah, tentunya dia juga akan terharu kan.


"Fik, tissue dong!" pinta Jason.


Angga dengan sigap memberikan satu kotak tissue pada Jason, saat ini mereka sedang berada di sofa yang masih terletak di ruang keluarga Jason yang sungguh luas. Ada Yudha, Afik, dan Angga yang tengah menggendong Ivanna, hot Papa itu sudah bertransformasi menjadi Papa siaga.


"Terharu banget ya emangnya?" tanya Angga penasaran.


"Enggak!" sahut Jason, "Kaki gue keinjek! Ya iyalah beg*, pake nanya lagi, lo kalau Ivanna nikah ntar juga pasti seterharu ini!" sahut Jason kesal, sahabatnya itu sudah tau malah pake nanya lagi.


"Ya beda lah, meskipun sama-sama anak ya menurut gue kalau anak cewek itu ya gimana gitu!" sambung Yudha, karena tadi dia juga merasakannya, memikirkan bagaimana nantinya jika Oliv yang menikah.


"Halah, sama aja Men, gue juga kalau Kai nikah mungkin bakalan terharu!" kekeh Angga.


"Ga, lo ngerasa nggak sih, kita ini apa nggak terlalu melo ya?" tanya Afik.


"He'eh!" Angga mengangguk. Meski Jilly bukan anaknya pun tapi menyaksikan sendiri Raiz mengucapkan ijab qobul untuk menghalalkan Jilly, mereka seterharu ini. Apa lagi dirinya yang sudah lama menanti kehadiran anak cewek sebelum lahirnya Ivanna, Angga sangat menyayangi Jill dan juga Celia, menganggapnya bagai anak sendiri.


"Gue ngerasa kayak ada sesuatu yang lepas, nggak mesti hilang sih, kayak lepas dan gue belum sepenuhnya merelakan!" ungkap Jason, dia jujur saja pada ketiga sahabatnya itu.


"Gue masih ingat banget gimana Jio sama Jill lahir, gue tau perjuangan istri-istri Lo pada ngelahirin juga pasti punya cerita masing-masing, tapi... Lo tau lah gimana Ilen ngelahirin kedua anak gue waktu itu!" lanjutnya.


"Sabar, semuanya kan udah berlalu!" sahut Afik.


Tidak tau saja mereka, Jason menyimpan rapat rahasia tentang kelahiran Jio dan Jill, hanya Roy, dirinya dan Tuhan yang tau, lewat sebuah mimpi Jason tau betul bagaimana keduanya tidak ingin lahir ke dunia waktu itu, dan rasa bersalah itu kadang masih juga menghantuinya bagai sebuah hukuman.


Hukuman karena dirinya yang terlalu kejam dulunya, hukuman karena hatinya yang sudah mengeras bak batu. Dia selalu menyesal jika mengingat itu.


"Tuan Muda, Tuan Darren mencari Tuan Muda!" ujar Roy mengabarkan ditengah-tengah keharuan empat hot Papa itu.


Jason bangkit, dia akan menemui Darren tentunya, sudah lumayan lama juga dia tidak bertemu sahabat kecilnya itu.


"Ada besan Tuan Muda juga berkumpul di sana!"


"Iya Roy, aku mengerti! Tadi aku hanya mencari hiburan sebentar jadi bergabung dengan para laknat itu!"


"Baiklah Tuan Muda, saya hanya mengabarkan!"


Jill tengah berada diantara Shakira dan Shirleen, di dekatnya juga ada Ummi Hana serta ketiga kakak Raiz, Kyai Ahmad duduk tak jauh dari istrinya, semetara Dareen, Sri dan juga Fahira ternyata baru bergabung, bahkan ketiganya belum sempat duduk.


Jason menyalami Dareen karena lama tidak bertemu, Sri yang memang sudah memakai niqab itu hanya menyatukan kedua tangannya sebagai salam, Fahira pun sama.


"Selamat ya Bro! Gila nggak nyangka lo emang selalu duluan, gercep banget!" ujar Darren. Dia kalau sama Jason jangan heran, berbicara memang suka kelewat santai.


"Ternyata Nak Jason mengenal keluarga Kyai Safar?" tanya Kyai Ahmad antuasias.


"Ah iya Kyai, kebetulan saya dan anaknya ini berteman dekat, dulu kami tetanggaan saat masih sekitar umur tujuh tahunan." jujur Jason.


"Ooo!" Kyai Ahmad mengangguk mengerti.


Bersambung...