Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Winda mengganggu lagi.



Maafkan aku, jika kedekatan kita ini malah akan menyakiti salah satu dari kita, sungguh aku tidak berniat untuk melakukannya dengan sengaja.


^^^Raiz.^^^


___


Sore ini sepulang sekolah, Raiz dan Jill sengaja singgah ke supermarket apartemen, Raiz berencana akan berbelanja bahan makanan terlebih dahulu. Hari juga sudah sore jadi menurut Raiz lebih efektif jika malam nanti dia memasak di apartemen Jill saja.


"Kamu suka apa? Mau makan apa?" tanya Raiz.


"Apa aja, aku nggak milih-milih sih kalau makanan, cuma aku alergi udang!" sahut Jill.


"Hemmm, gitu ya!" Raiz mangut-mangut, lalu dia mengambil beberapa pcs daging dan sayuran, mengambil buah segar juga untuk persediaan.


"Kamu suka salad?" tanya Raiz lagi, bak pacar yang begitu perhatian. Walau memang benar sih, Raiz emang sedang mencoba menjadi pacar yang perhatian.


Jill menggeleng, "Kurang sih, aku itu sukanya makanan lokal indo, kayak yang kaya rempah gitu, paling suka nasi padang!" ujar Jill bersemangat.


"Oh ya?" Raiz antusias, dirinya juga suka masak makanan lokal dari yang sederhana sampai yang tingkat kerumitannya luar biasa, dia suka bermain dengan rempah.


Berarti bisa lah nantinya dia memanjakan Jill dengan keahliannya ini.


"Pak Raiz!" ujar seseorang, berhasil mengagetkan Jill dan Raiz.


Jill kenal suara itu, dia mendengus kesal lagi, lalu dengan santainya dia berbalik.


"Jilly!" seru wanita itu, Winda memang ingin berbelanja bulanan karena ini sudah tanggal lima dan dia belum sempat ke supermarket beberapa hari ini, namun siapa yang menyangka kalau dia juga akan bertemu dengan Raiz, sungguh keberuntungan baginya, namun apa ini? Mengapa di sebelah Raiz ada Jilly? Murid yang memang pernah membuat masalah padanya.


"Iya gue? Kenapa? Keget!" santai Jill.


Raiz menjadi salah tingkah, bagaimana dia bisa menjelaskannya, untuk ukuran orang yang tidak biasa berbohong sepertinya memang sulit jika dihadapkan dengan kondisi semacam ini.


"Belanja! Lo nggak liat apa pura-pura bego?" sahut Jill lagi, emang minim kesopanan, padahal Winda masih lembut saat bertanya padanya. Tapi Jill benar-benar tidak menyukai Winda, jadi dia tidak bisa bersua baik-baik saja.


"Jilly sudah!" lembut Raiz, dia seketika ingat pesan calon mertuanya, Jilly ini paling tidak suka dikasari, apa lagi membentak. Sebisa mungkin Raiz harus pandai mengambil hatinya dan jangan membuat masalah.


"Ada apa ini Pak Raiz?"


"Saya sedang berbelanja dan tiba-tiba bertemu dengan Jilly!" sahut Raiz, berbohong lagi, yah berbohong lagi.


"Ooohh, cuma tidak sengaja bertemu, gitu aja belagu!" gumam Winda kesal hampir tidak terdengar, namun dia juga merasa lega.


"Apa lo bilang?"


Apa dia mendengarnya? Gila!


"Tidak ada, mari Pak Raiz, aku juga mau belanja, apa kita bisa belanja bareng?" tanya Winda lagi.


Jill semakin memerah, mengapa di mana-mana selalu saja ada pengganggu, kemudian dengan mata sinisnya ia menatap Raiz, mengisyaratkan kalau pemuda itu jangan pernah berani macam-macam padanya. Apa lagi sampai menemani Winda berbelanja.


Jill pergi dari sana, ia juga tidak siap hubungannya dan Raiz sampai diketahui oleh banyak orang, apa lagi Winda ini salah satu guru yang terupdate. Oke, Jill masih bisa menahannya untuk kali ini.


Raiz tersenyum canggung, Winda sudah mendahuluinya berbelanja, mengajaknya bicara ini dan itu mengakrabkan diri, mungkin wanita itu merasa saat ini mereka sudah tidak berada di sekolah, jadi bisa lebih leluasa berbincang sesantai itu.


Sementara Raiz harus melihat punggung Jill yang semakin menjauh sembari memikirkan alasan yang tepat dan masuk akal, bagaimana caranya untuk dia bisa kabur dari Winda.


Bersambung...