Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Makan siang.



Aku akan selalu mengingat, hari di mana kau menciumku, pertama kalinya, akan aku ingat hingga aku tidak bisa melupakannya bahkan saat kita dilanda pertengkaran. Sungguh, aku akan menjadikannya alasan untuk bertahan!


^^^Raiz.^^^


___


Hari ini senin, baik Jill maupun Raiz berangkat menuju sekolah dengan hati yang teramat senang, apa lagi Jill dia tidak menyangka guru BK yang sedari dia masuk sekolah ini telah ditetapkan olehnya untuk menjadi kekasih, malah akan menjadi pendamping hidupnya sebentar lagi.


Jill bisa berfokus pada pelajaran sekolah, dia benar-benar menjadi murid teladan, alasannya simpel katanya tidak ingin menyusahkan Raiz.


Sementara Raiz, pemuda itu sedang menatap bekal makan siangnya, sebenarnya dia sudah mempersiapkan satu bekal lagi untuk Jilly, tapi bagaimana caranya dia menyuruh Jill datang, sementara hari ini Jilly benar-benar tidak membuat masalah dan tidak ada alasan untuk Raiz menyeretnya ke ruang BK.


"Apa gue terlalu antusias ya?" gumam Raiz. Ia hendak memulai ritual makan siangnya, namun serasa ada yang kurang karena sedari tadi pagi dia belum juga melihat calon istrinya itu.


Lalu dia melihat salah satu teman sekelas Jill, dia ingat itu karena beberapa hari kemarin saat dia memperhatikan Jill, gadis itu duduk di depan Jill, Raiz malah tanpa pikir panjang lagi langsung menyeru gadis itu.


"Ya Pak?" tanya gadis itu, ia begitu bingung ada apa guru BK ini memanggilnya.


"Kamu teman sekelas Jilly?" tanya Raiz langsung.


"Eh iya Pak!" si gadis berusaha tersenyum, tersirat kelegaan saat yang ditanyakan adalah Jilly, itu berarti pastilah Jilly yang membuat masalah.


"Tolong panggilkan dia, suruh dia segera menemui Bapak di ruangan!" ujar Raiz.


"Ohh, baik Pak!" sahut gadis itu, benar mungkin Jilly yang membuat masalah, mengingat betapa buruknya reputasi teman sekelasnya itu.


Raiz memang baru pertama kalinya merasakan jatuh cinta, meskipun umurnya sudah dua puluh empat tahun, namun ini adalah pengalaman pertama baginya. Semenjak SMA lalu kuliah, dia bukannya tidak memiliki teman cewek tapi Raiz benar-benar tidak merasakan getaran seperti saat dia berada di dekat Jill, seperti saat Jill menggombalinya, Jill bagai memberikan kejutan dan ledakan di hidupnya yang flat ini.


Lagi pula Ummi dan Abinya memang tidak menyetujui pacaran, yah meskipun dia juga bisa melakukannya secara diam-diam sih, tapi Raiz tetap tidak memiliki minat ke arah sana saat kemarin, baru dengan Jilly lah dia bisa merasakan bagaimana jika dia mencintai orang lain dan dia juga ingin orang itu membalasnya.


Tok tok tok!


Terdengar ketukan pintu dari arah luar, Raiz segera keluar dari toilet, ia akan membukakan pintu, tentunya itu pasti adalah calon istrinya yang menggemaskan.


Ceklek! benar saja, saat pintu dibuka Raiz sudah disuguhkan oleh wajah cemberut istrinya, entah apa yang membuat Jill menekuk wajah di hadapannya.


"Masuklah!" ujar Raiz datar, sebisa mungkin tampak berwibawa.


Jill menjadi semakin kesal, lalu gadis itu pun masuk dan langsung mendaratkan bokongnya di sofa, sebenarnya dia sedikit mengantuk dan salah satu teman sekelasnya memberitahukan kalau ia dipanggil oleh Raiz, katanya ada masalah yang harus dirinya selesaikan, dan itu membuat Jill tidak mengerti kemudian memberengut kesal.


"Ada apa sih?" tanya Jill, dia menatap sinis Raiz, bulannya beberapa hari ini dia tidak membuat masalah.


"Nggak ada apa-apa, kenapa emangnya? ini muka gemesin banget minta diuyel-uyel hah?" Raiz memang gemas, karena saat Jill menekuk wajahnya cemberut begitu, pipi Jill akan terlihat chubby, dan itu menggemaskan sekali.


"Katanya aku bikin masalah lagi? Perasaan aku udah berusaha jadi anak teladan!" dengus kesal Jill. Oh Raiz mengerti sekarang, ternyata pesan yang diberikan oleh Raiz pada gadis itu tadi pastilah sudah dilebih-lebihkan, jadilah Jill tampak menekuk wajah saat menghadapinya.


Raiz mengambil kotak makan siangnya dan juga untuk Jill, ia meletakkan di meja dan kemudian duduk di sebelah Jill. "Yakin nggak mau makan siang bareng?" tanyanya merayu.


Bersambung...