Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Penolakan Celia.



Satu hal yang gue nggak ngerti, kenapa gue tiba-tiba aja sesak saat liat dia nangis, kenapa gue nggak bisa liat air matanya jatuh? Dan kenapa gue merasa gue udah sangat sangat keterlaluan? Gue nggak mungkin jatuh cinta sama dia kan?


^^^Jio.^^^


___


"Lepasin gue!" bentak Celia, dia hendak menuju kelasnya, namun saat diparkiran dia sudah dicegat oleh Jio, banyak pasang mata yang menyaksikan itu namun Celia tidak peduli, baginya ia benci, benar-benar benci dengan Jio.


Sumpah, demi apapun dia tidak akan mengagumi cowok di hadapannya ini, yang selalu dipuja dan puji oleh seluruh ciwi-ciwi Guna Bhakti, tidak akan... Hanya ada kebencian yang sungguh memuakkan bagi Celia saat menatap wajah brengsek Jio.


"Lo nggak bisa nghindarin gue, ikut gue!" Jio menarik paksa pergelangan tangan Celia, dia tidak suka dibantah.


Celia terus memberontak, namun tenaganya lagi-lagi tidak sebanding dengan Jio, padahal Jill bilang Jio ini punya penyakit jantung dan mudah lelah, tapi kenapa yang dilihatnya Jio malah seperti orang kesetanan.


"Dasar gila! Brengsek, bajingan, an*ing lo ya, lepasin gue, lo mau apa lagi hah, belum puas lo ngancurin hidup gue?" teriak Celia saat Jio membawanya ke sebuah gudang.


"Teriak aja, biar dikawinin sekalian!" ancam Jio. "Atau lo emang sengaja ya, cari perhatian biar kegep di sini, kesempatan buat bisa sama gue!" ujar Jio percaya diri.


"Cuih!" Celia meludah di wajah Jio, "Lo pikir lo itu sungguh ganteng? Bisa nggak sih lo itu berpikiran layaknya orang normal? Otak itu dipake kalau mau ngomong, hati itu dipake biar sinkron, bukan cuma mulut doang, keren enggak bego iya!" lantang Celia.


Jio tersentak, niatnya untuk mencegat Celia tadi memang untuk minta maaf pada gadis itu, dan mengatakan siap jika sampai terjadi sesuatu pada Celia, tapi melihat Celia yang selalu melawan padanya Jio benar-benar murka.


Apa itu artinya, tidak ada sedikitpun perasaan Celia terhadap dirinya? Benar-benar gila, baru kali ini Jio menyaksikan seorang gadis yang terang-terangan mengaku tidak menyukainya.


"Gue bakalan tanggung jawab!" ucap Jio kemudian.


"Nggak perlu! Nggak ada yang bakalan terjadi sama gue!" Celia mencoba tegar, dia segera menghapus air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya, "Jadi gue minta dengan sangat sama lo, berhenti gangguin gue, dan sebisa mungkin jangan pernah lo nunjukin muka brengsek lo itu di depan gue!" ucap Celia dengan isak tangisnya. Semalam bahkan menjadi malam terkelam baginya, sekarang ini dia tidak lebih hanyalah seorang wanita kotor, karena Jio sudah dengan tega merampas kesuciannya.


"Cel..." lirih Jio, mengapa tiba-tiba dadanya sesak saat melihat Celia yang menangis, tangan Jio terulur hendak menghapus air mata Celia, namun sebelum tangannya sampai di wajah Celia sayangnya Celia sudah melangkah menuju pintu gudang.


Jio tersentak, apakah dia sudah keterlaluan, semalam dia memang lepas kontrol karena Celia yang terang-terangan menolaknya, mungkin lebih tepatnya selain ingin menjadikan Celia sebagai pelampiasan, Jio juga ingin membuktikan pada gadis itu bahwa Celia akan bertekuk lutut padanya, jadi dia memperlakukan Celia seperti itu.


Sebenarnya Jio tidak sedikit pun berniat untuk mengambil kesucian Celia, namun entah mengapa mendengar Celia yang menjerit memohon ampun dan meneriakkan namanya semalam sayangnya dianggap Jio seperti sebuah candu, katakanlah dia keterlaluan namun sungguh dia tidak bisa melepaskan Celia begitu saja semalam.


Dan hari ini, melihat gadis itu yang bertingkah semakin acuh padanya, terus terang bukan itu yang Jio mau, dirinya pikir setelah mengambil kesucian Celia, gadis itu akan tunduk padanya, akan berubah menjadi memohon padanya untuk sebuah pertanggungjawaban, namun nyatanya tidak, dia salah besar menganggap Celia adalah gadis yang sama dengan gadis-gadis lainnya yang begitu menggilainya selama ini.


Bersambung...