
Saat ini hanya satu permintaanku!
Aku hanya ingin mencintainya di waktu yang lama!
^^^Raiz.^^^
___
"Yakin nggak mau makan siang bareng?" Raiz menggoda Jill yang masih menekuk wajahnya, sembari tangannya juga sudah mengeluarkan beberapa makanan dari bungkusan kotak makan siangnya.
"Udah makan belum?" tanya Raiz, sebisa mungkin ia mengistimewakan Jill.
Jill mengulum senyumnya, ternyata Raiz memanggilnya ke sini bukan karena dirinya bermasalah namun karena calon suaminya ini ingin makan siang bersama.
"Dih senyum!" goda Raiz lagi, ia semakin gemas kala semburat merah di pipi Jill begitu kentara ia lihat.
"Apaan sih!" Jill benar-benar menjadi salah tingkah, dia tidak menyangka kalau akan sedekat ini dengan Raiz, bahkan minggu depan pemuda yang dicintainya ini akan menjadi suaminya.
"Nih makan! A'..." tangan Raiz tergantung memberikan suapan untuk Jill, dan Jill menyambutnya dengan suka rela. Sampai dia tidak menyadari apa yang saat itu disuapkan Raiz padanya, barulah ia terkejut saat makanan itu sudah menyapa lidahnya.
"Aahhh!" Jill langsung saja bangkit menuju kotak sampah, membuang makanan yang tersisa di mulutnya, Raiz heran melihat tanggapan Jill tentang makanannya, perasaan tadi dicicipinya masakan itu sangat enak, mengapa Jill memuntahkannya.
"Kamu kenapa?" tanya Raiz.
Jill panik, ia alergi udang, sebentar lagi mungkin akan timbul ruam kemerahan di tubuhnya, terutama bagian pipi dan tangan, ia benar-benar tidak melihat apa yang dirinya makan karena terlalu antusias saat Raiz ingin menyuapinya.
"Aku, alergi udang!" aku Jill, dan benar saja beberapa detik kemudian pipinya mulai memerah, namun kali ini bukan karena salah tingkah di goda Raiz, namun karena dirinya juga mulai merasakan gatal di bagian yang memerah.
"Astagah, kamu benar-benar nggak bisa makan udang ya, kenapa nggak bilang?" Raiz merasa bersalah, lalu ia mengambil jaketnya yang tergantung di kursi kerja, menyelimuti Jill dan membawa gadis itu keluar.
Raiz mengantar Jill ke parkiran, banyak siswa siswi yang melihatnya karena saat ini memang tengah jam istirahat, tapi Raiz tidak peduli, nanti saja akan dirinya pikirkan bagaimana akan menjawab tanya heran manusia kepo itu.
"Kamu tunggu di sini, aku mau izin dulu, sekalian juga ambil tas kamu!" ucap Raiz lagi.
Jill mengangguk, dia tidak lagi fokus pada Raiz, ruam merah itu benar-benar telah menyiksanya.
Sekitar lima menit berlalu, barulah Raiz kembali, menenteng tas Jilly, semakin membuat semua orang yang melihatnya bertanya-tanya.
Raiz tidak menghiraukan itu, baginya kesehatan Jill adalah nomor satu.
"Yuk! Aku antar kamu!" ajaknya.
Jill tersenyum samar di sela sakitnya, semua ini karena perasaan yang suka sulit dikondisikan saat berdekatan dengan Raiz, apa lagi sampai disuapi pemuda itu, jelas saja Jill jadi gelagapan dan akhirnya ceroboh pada dirinya sendiri, ini benar-benar bukan dirinya.
Akhirnya Raiz memutuskan untuk membawa Jill ke klinik terdekat menggunakan motornya, saat sudah sedikit jauh sekolahan, Raiz mengambil tangan Jill dan melingkarkan ke pinggangnya, tidak menyangka saja beberapa hari kemarin bahkan dia menolak saat Jill hendak memeluknya, keadaan sekarang seakan berbalik begitu cepat.
"Maafin aku yaaa..." ujarnya, sedikit keras karena suaranya yang beradu dengan angin, "Aku emang nggak tau apa-apa tentang kamu, gimana bisa tiba-tiba mau jadi suami, kamu malah harus sakit gini karena aku!" Raiz mengusap lembut tangan Jill yang memeluknya.
Nggak papa tau, aku rela merah-merah kek kepiting rebus asal bisa kamu perhatiin kek gini...
Jill benar-benar senang meskipun tubuhnya dilanda gatal-gatal karena ruam, kadang memang harus sedikit berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang memuaskan.
"Makasih ya!" ujar Jill dari belakang, kemudian tangannya semakin mengeratkan pelukan.
Bersambung...