
"Kenapa Bapak bisa kejam banget sama aku?"
"Lah, saya kenapa?"
"Udah bikin idup aku nggak pernah tenang semenjak kenal Bapak! Tiap ari mirikin Bapak, tapi sayangnya Bapak nggak pernah balik mikirin aku!"
___
Menikah? Dengan gadis pilihan orang tua? Jill tidak mengerti mengapa di zaman sekarang ini masih ada saja acara perjodohan, lalu apa Raiz mau saja jika dijodohkan?
Jill menenangkan dirinya di kamar, pintu sengaja ia kunci karena kalau tidak Jio pasti akan dengan mudah melenggang masuk.
Jill ingin berpikir bagaimana caranya supaya Raiz tidak menerima perjodohan itu. Meski Papanya mengatakan Raiz pasti akan menerimanya.
"Nggak! Gue nggak boleh biarin, enak aja mau ambil Raiz gue!" gumam Jill, ia benar-benar menyayangkan itu.
"Siapa sih cewek yang bakal dijodohin? Gue harus cari tau, kadang ada gunanya juga Papa selalu mata-matain gue, jadi hal kek gini malah nggak kelewat informasinya!"
Tapi di samping itu Jill juga memikirkan lagi apa yang tadi sempat dirinya bicarakan dengan Papanya. Apa ia dirinya harus mundur?
Flashback,
"Dia akan menikah!" ucap Jason.
"Apa?" Jill terkejut dengan apa yang baru saja Papanya itu katakan.
"Iya, menikah!"
"Tapi..."
"Bukannya informasi data pribadinya yang kamu dapet dari Bunda itu... Dia masih lajang? Tidak pernah pacaran? Dan nggak akan mau pacaran karena haram!" lanjut Jason yang seolah tau apa yang akan dikatakan putrinya itu.
"Papaaa..." Jill tidak percaya, Papanya itu benar-benar mengetahui apapun tentangnya, tentang Raiz dan mungkin tentang semua orang. Sia-sia saja dirinya memohon pada Bundanya supaya apa yang dirinya pinta kemarin jangan sampai diketahui oleh Papanya, karena kenyataannya sang Papa bahkan lebih mengatahui dari siapapun.
"Jill nggak bisa boongin Papa kan?" lembut Jason, ia menyuruh Jill untuk duduk di sampingnya.
"Dia dijodohin! Sama anak sahabat orang tuanya, mereka orang yang taat agama, seperti uncle Dareen, melarang keras pacaran, kamu tau tentang Kak Fahira?"
Jill mengangguk, Fahira memang sudah dijodohkan, anak dari Dareen itu sudah menemukan pasangan ta'aruf-nya dan berencana menikah dua tahun lagi.
"Pa, Jill mau dia!" rayu Jill.
"Ya usaha dong!" sahut Jason.
"Papa..." rengek Jill.
"Jill dia akan menikah, apa kamu mau ngerusak rencananya?" tegas Jason.
Benar-benar persis sepertinya kalau sudah menginginkan sesuatu, Jill benar-benar gambaran dirinya. Jason menggeleng pelan saat memikirkan itu.
Jill tertunduk, lalu dia malah berkata menanyakan sesuatu pada Papanya itu, "Apa jika Raiz nggak nerima perjodohan itu, Papa mau terima Raiz jadi mantu?" tanya Jill, pertanyaan itu seolah lancar saja keluar dari mulutnya.
"Jill!" heran Jason.
"Haahhh!" Jason menghempaskan napasnya berat, seperti inikah dulunya Papa Adrian menghadapinya saat ia ketahuan ngejar-ngejar Shirleen? Benar-benar sudah terbayar lunas, Jason juga sudah merasakannya. Pusing saat anaknya ini tidak bisa diberikan pengertian.
"Kau terlalu berpikir kejauhan sayang, jangan memaksakan kehendak!" ujar Jason mencoba membujuk Jill.
"Mengapa Papa juga tidak berpihak padaku?" keluh Jill.
"Hei..." Jason menjadi tidak tega saat putrinya sudah merengek begitu, apa lagi sudah mengeluh tentangnya "Apa sayangnya Papa ini benar-benar begitu menginginkannya? Menikah itu tidak gampang sayang, tidak hanya kalian yang menyatu dalam sebuah status pernikahan, tapi juga hati dan pola pikir masing-masing!"
"Cara kalian menghadapi masalah, bagaimana kalian mengambil sikap, dan juga jika sudah menikah kalian harus selalu siap memberi dan menerima!"
"Apapun keadaannya, susah, senang, harus kalian tanggung bersama, seperti Papa dan Mama..." ucap Jason memberi pengertian.
"Tapi aku nggak mau kehilangan dia!" kekeh Jill.
"Relakan saja dulu, bisa karena terbiasa, mulailah untuk tidak saling menyapa, tidak saling memedulikan, sebisa mungkin hindari berinteraksi dengannya, hal yang paling pertama harus Jill lakukan adalah berhenti membuat keributan di sekolah!"
"Uhhh, anak Papa udah dewasa, udah ngerasain jatuh cinta, mana sini Papa liat wajahnya!" goda Jason.
Flashback off.
Sungguh pilihan sulit menurut Jill, namun perkataan Papanya itu juga memang ada benarnya. "Baru pertama kali ngerasain jatuh cinta tapi kenapa kok dalem banget nancepnya? Pak Raiz sih kelewat ganteng kan aku jadi susah move on!" gerutu Jill semakin kesal kala isi kepalanya malah semakin di penuhi oleh pemikiran tentang Raiz dan Raiz lagi. Yah hanya Raiz saja!
Bersambung...