Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Pertemuan Jason dan Raiz.



"Apa Bapak menyukaiku?"


"Jilly, kamu ini dibiarin malah makin kurang ajar ya!"


"Apa maksud Bapak... Kurang ajar karena udah bikin Bapak senyum-senyum sendiri?"


___


Raiz menarik napasnya dalam untuk memulai pembicaraan, semua untaian kata yang telah rampung ia susun sebaik-baiknya untuk menghadapi Jason pun bagai lenyap tak bersisa akibat kedatangan Jason yang diluar dugaannya.


Mana pagi ini dirinya belum sarapan karena terlalu buru-buru, seketika perutnya tidak bisa dikompromikan, rasa tidak nyaman itu semakin membuatnya gugup bukan main.


Berkali-kali juga Raiz meneguhkan hatinya, dia adalah seorang guru, dan seorang guru harus mempunyai wibawa, apa lagi untuk seorang guru BK sepertinya. Meski yang dirinya hadapi seorang presiden sekalipun, ia tidak boleh gentar.


"Baiklah, sebelumnya saya berterimakasih karena Tuan sudah menyempatkan diri Tuan untuk datang ke sini, apa Tuan sudah membaca suratnya?"


"Hemmm..." jawab singkat Jason dengan anggukan.


Sementara Jill di sebelahnya tampak tenang, matanya bagai kilatan yang siap mengawasi Raiz.


Mendengar jawaban Jason yang sekenanya Raiz mendamaikan hatinya untuk tidak mudah tersinggung, benar-benar seperti rumor yang beredar, sungguh minim ekspresi.


"Anak Bapak sedikit istimewa, di pelajaran terakhir kemarin Jilly dikabarkan oleh Bu Winda selaku guru yang mengajar di kelasnya pada pelajaran terakhir, beliau mengatakan Jill pamit untuk ke toilet saat pelajaran berlangsung, namun hingga bel pulang berbunyi sayangnya Jilly tidak juga kembali."


"Langsung saja, saya sudah mendengar semua kesalahannya dari Jill." potong Jason.


"Baiklah..."


Bukannya tadi udah gue tanyain apa udah baca suratnya, dan ini orang jawabnya cuma 'hemmm', makanya jangan pake bahasa isyarat dong Pak, gue kagak ngarti!


"Saya akan memberikan sanksi tegas jika Jilly masih mengulanginya!" lanjut Raiz.


"Silakan!" sahut Jason. Ia tidak masalah, dan Jill pun sama.


"Apa kau bisa minta maaf sayang?" tanya Jason lembut pada Jill.


"Nggak!" sahut Jill pasti.


Raiz hanya bisa tersenyum miris, bagaimana bisa ia memberi pengertian pada siswi keras kepalanya ini.


"Minta maaf itu memang tidaklah mudah Jilly, tapi kamu bisa memperbaiki hubungan dan juga dirimu sendiri jika kau bisa dengan tulus meminta maaf!" saran Raiz.


"Aku memang mengakui kesalahan, tapi sayangnya aku tidak bisa jika harus meminta maaf, apa lagi dengan Winda!" tolak mentah Jill.


"Jilly, Bu Winda..." tekan Raiz, lembut namun Jill bisa melihat rasa tidak senang Raiz dari wajah yang dilayangkan.


"Dia bukan siapa-siapa aku, jadi untuk apa aku memanggilnya sehormat itu!" Jill masih duduk di samping Papanya, baginya untuk mengakui kesalahan masih bisa dirinya lakukan, tapi untuk meminta maaf, apa lagi dengan Winda... Mimpi pun tidak akan dirinya lakukan.


"Anak saya tidak mau meminta maaf!" ujar Jason, "Bagaimana jika hukum saja dia?" lanjutnya menyarankan.


"Tapi Tuan Jason, saya tidak bisa memberikan pilihan, karena di sini Jilly lah yang sudah memulainya." ucap Raiz tidak kalah tegas. Sudahlah, dia bagai sudah punya nyawa cadangan saja dengan beraninya menentang Jason. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya adalah seorang guru, batinnya menolak jika saja harus mengabaikan perlakuan Jill terhadap Winda kemarin.


"Saya hanya tidak mau menimbulkan masalah di kemudian hari dengan memaksanya!" ucap tenang Jason.


Raiz tampak berpikir, ia tersentak, mungkin memang benar apa yang dikatakan Jason. Ia memang sudah mengerti sedikit sifat Jilly selama beberapa hari ini, menghadapi anak seperti Jilly sebenarnya susah-susah gampang, Jill benar-benar membutuhkan perlakuan khusus untuk bisa mengambil hatinya.


"Saya harap anda bisa memberi pengertian, baik dengan anak saya ataupun dengan korbannya. Saya yang paling mengerti sifatnya saja kadang masih sering berbuat kesalahan, jadi... Anda sebagai pengganti orang tua di sini, haruslah berhati-hati karena ada murid yang benar-benar sensitif, seperti luka yang tergores, ada sebagian orang yang tidak bisa menahannya namun tak jarang juga, bahkan ada banyak yang mengabaikan luka itu hingga sembuh sendiri!"


"Saya tidak membela Jill di sini, hukum saja Jill-ku dengan apapun yang menurut anda pantas, selama itu tidak menyakiti hatinya, saya bisa terima!" ucap Jason, lalu kemudian ia bangkit dan pamit untuk menyudahi pertemuan mereka.


Sebelum berlalu, ia mengacak puncak kepala Jill dengan sayang, "Papa udah liat dia!" ucapnya sembari mengedipkan mata.


Jill terperangah, apa itu... Apa itu artinya Papanya benar-benar tau kalau dia menyukai si guru BK? Haruskah Jill mengagumi Papanya sekali lagi, Papa terhebatnya?


Bersambung...