Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kedatangan orang tua Raiz.



Jika hati ini sudah bertaut padamu, bisakah kau juga mempertahankanku? Bukan apa, hanya supaya aku tidak berjuang sendirian!


^^^Jill.^^^


___


Raiz dikejutkan oleh kedatangan orang tuanya saat pagi-pagi sekali tepatnya saat ia baru saja menyelesaikan sholat subuh.


"Abi..." serunya kaget.


"Kenapa? Lihat Abi sendiri kok seperti melihat hantu?" tanya Kyai Ahmad, Abinya Raiz.


"Ummi..." seru Raiz kemudian pada Umminya.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Ummi Hana sembari mengusap punggung Raiz pelan kala anak bungsunya itu mencium tangannya.


"Baik Ummi, Abi!" jawab Raiz.


"Kenapa tidak memberitahu Raiz terlebih dahulu, Raiz kan bisa menyiapkan sesuatu untuk menyambut Ummi dan Abi!" ucap Raiz.


"Aahhh, sayang... Tidak perlu acara penyambutan segala, Ummi kan mengunjugi anak Ummi sendiri!" ucap Ummi Hana sembari langkahnya memasuki rumah Raiz.


"Tapi, ini kan pertama kalinya Ummi dan Abi berkunjung!" sesal Raiz.


"Tidak apa Nak! Masyaallah rumahnya anak Ummi rapi sekali!" puji Ummi Hanna saat melihat sekeliling, perabotan di ruangan itu memang tertata dengan rapi, Raiz begitu menyukai kebersihan tidak heran jika ia bisa merawat kediamannya itu dengan baik.


"Ummi dan Abi pasti lapar, sebentar! Aku akan menyiapkan makanan." Raiz benar-benar terkejut akan kedatangan kedua orang tuanya, bahan makanan di kulkasnya juga tidak begitu lengkap, ia menyesalkan itu.


"Tidak apa Nak, santai saja!" ucap Kyai Ahmad, dirinya ke sini memang sengaja tidak mengabari Raiz karena suatu masalah yang mendesak, namun hal itu masih enggan dirinya bicarakan, tunggu keadaan menjadi tenang dahulu, lalu dia akan mengungkapkan tujuannya datang menemui anak bungsunya itu.


Raiz berkutat di dapur, ia membuatkan Abi dan Umminya beberapa camilan dan juga teh hangat, hanya itu yang dirinya punya, hari senin nanti setelah pulang sekolah baru rencananya ia akan pergi berbelanja melengkapi kebutuhan pangan untuk beberapa minggu ke depan karena dirinya memang belum sempat belanja bulanan, namun karena kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba sepertinya nanti siang Raiz akan pergi berbelanja saja.


"Silakan dinikmati Abi, Ummi!" ucap Raiz sembari meletakkan satu piring goreng pisang dan juga teh hangat.


"Anak Ummi..." bangga Ummi Hana, Ummi Hanna rasanya tidak perlu khawatir akan kelangsungan hidup anak bungsunya itu selama berada jauh darinya karena melihat Raiz yang begitu pandai.


Kyai Ahmad dan Ummi Hanna menikmati sekedarnya hidangan yang disuguhkan Raiz, mereka berbincang santai sembari sesekali tertawa kecil melepas rindu.


"Iya, Raiz senang menjadi guru, ada apa Ummi?" tanya Raiz yang entah mengapa dari tatapan mata Umminya ia bisa merasakan sebuah keseriusan, apa ada yang akan Ummi dan Abinya itu bicarakan padanya.


"Alhamdullilah kalau hari-hari anak Ummi menyenangkan!" ucap syukur Ummi Hana.


"Raiz, anak bungsu Abi sudah dewasa, tentunya sudah bisa membedakan apa yang baik dan mana yang buruk bukan?" ucap Kyai Ahmad mulai serius.


"Ada apa Abi?" tanya Raiz langsung.


"Yang akan Abi tanyakan ini, jangan pernah Raiz jadikan sebuah beban, jika Raiz menyetujuinya maka barulah Raiz bisa mengambil sikap, mengerti?" lanjut Kyai Ahmad.


"Iya Abi! Tapi ada apa?"


"Apa anak bungsu Abi sudah ada keinginan untuk menikah?" tanya Kyai Ahmad.


Hening,


Hening,


Hening,


Raiz masih mencerna apa yang baru saja dirinya dengar, menikah? Mengapa tiba-tiba Abinya menanyakan perihal ibadah yang sakral itu, bukannya apa jika boleh dirinya jujur... Sebenarnya dia tidak siap untuk menikah, namun dikarenakan selama ini dirinya bukanlah anak pembangkang jadi baiklah ia akan mendengarkan lebih dahulu apa yang selanjutnya akan dikatakan Abinya itu.


"Ada apa Abi? Mengapa tiba-tiba membahas perihal menikah?"


"Abi hanya tanya, jika Raiz sudah siap maka bukankah lebih baik Raiz menunaikan ibadah itu!"


"Karena pernikahan adalah sebuah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah, maka tentu saja Raiz akan mengamalkan sunnah Beliau! Jika Raiz sudah siap lahir maupun batin maka Raiz juga akan bisa menyempurnakan separuh ibadah Raiz dengan menikah!"


"Jadi, apakah sekarang Raiz sudah siap?" tanya Kyai Ahmad.


"Insyaallah, tentunya setelah Raiz mengetahui untuk tujuan apa Raiz menikah, jika tujuannya semata-mata hanya karena Allah, maka Raiz akan memantapkan hati untuk menunaikannya!" angguk Raiz.


Bersambung...