
"Nih anak kamu! Masa iya celana d*lemnya nyuruh suami yang cuciin!" adu Shirleen.
Jason menoleh ke arah Jill, matanya menatap Jill gemas. Haruskah dia marah? Tidak, dia akan bertanya terlebih dahulu.
"Bener sayang?" tanya Jason.
"Bukan gitu Pa, lebih tepatnya itu Mas Raiz emang nggak pernah nyuruh aku buat cuci!" jawab Jill beralasan.
"Nggak pernah nyuruh kamu buat cuciin apa kamunya yang memang nggak peka!" tanya Jason.
"Eh!"
"Ya udah, nggak usah dibahas lagi! Kita nggak usah banyak tanya sama rumah tangga anak By, biar hal dalem jadi urusan mereka berdua, enaknya gimana!" ujar Jason lagi. Kemudian dia berlalu meninggalkan si bungsu dan istrinya itu, dia akan beristirahat sebentar di kamar kemudian selepas isya baru akan ke dapur untuk makan malam.
"Raiz!" seru Jason saat dia hendak ke kamar namun berpapasan dengan mantunya itu.
"Papa!" sapa Raiz, pemuda itu menanggukkan kepala sebagai tanda hormat, kemudian menyalami papa mertuanya.
"Gimana kabar kamu? Sehat?" tanya Jason lagi.
"Alhamdulillah! Papa gimana? Baru banget pulang kerja ini kayaknya?"
"Alhamdulillah sehat juga, iya... Untungnya nggak lembur malam ini, pas banget ada kalian!"
"Kenapa nggak bilang dulu?"
"Eh, agak dadakan juga sih Pa ke sininya, maaf jika nggak ngabarin dulu!" ujar Raiz.
"Nggak apa! Papa cuma tanya kok, cuma kalau ngabarin kan biar Mama kalian siapin buat makan malam, atau kita barbeque-an sebentar malemnya!"
"Ini juga untung nggak kena waktu lembur Papa, kalau kena bisa-bisa Papa nggak ketemu sama kalian malah!"
"Iya Pa!"
"Eh duduk-duduk!" Jason mempersilakan Raiz untuk duduk, karena mengobrol dengan posisi berdiri seperti ini cukup pegel bagi Jason untuk ukuran orang baru balik kerja.
"Iya Pa!" Raiz duduk di sofa ruang keluarga, kemudian Jason juga.
"Ya!"
"Gimana kamu sama Jilly? Sejauh ini ada keluhan?"
"Eh, enggak kok Pa, Alhamdulillah kami baik-baik aja!" jawab Raiz.
"Hemmm, Alhamdulillah, Papa berharap kalian selalu rukun, maafin Jill yah kalau dia terlalu manja, nggak bisa ngapa-ngapain, belum bisa jadi istri yang baik, itu karena Papa yang selalu manjain dia, Papa nggak tau dia bakalan nikah secepat ini!"
"Iya, nggak papa kok Pa!"
"Jangan sungkan, jangan bilang nggak papa mulu, Papa itu maunya Raiz kamu itu bisa lebih tegas dengan Jill, Papa nggak bakalan marah kok kalau kamu bersikap tegas untuk mendidik istri kamu itu ke jalan yang benar, malahan Papa mengharapkan itu!" ujar Jason, Raiz tersentak, ingat akan percakapannya dan Jill mengenai Jason, katanya mertuanya ini memang selalu mengawasi Jill, apapun yang Jill lakukan tentunya Jason akan selalu tau. Lalu, apa jangan-jangan mertuanya ini tau apapun tentang rumah tangganya? Tapi seingatnya mereka tidak pernah berantem di minggu pertama umur pernikahan mereka ini, jadi... Apakah karena waktu itu dirinya menegaskan tentang kesalahan Jill yang telah berbohong padanya, ah masa kesalahan sepele semacam itu bisa-bisanya jadi masalah yang harus dibicarakan.
"Bener kamu yang cuciin celana d*lam Jill beberapa hari ini?" tanya Jason, seketika berhasil menghentikan lamunan Raiz tentang Jason yang memata-matai rumah tangga mereka.
"Eh?"
Lah, apa sampai hal sedetil itu pun mertua gue ini tau? Gila, luar biasa! Apa dia juga pasang penyadap di rumah gue? Sialan emang ini mertua!
"Papa tidak melakukan apapun!" ujar Jason, seolah tau apa yang Raiz pikirkan.
"Aaaa apa?"
"Papa hanya bertanya, dan jika itu benar, tolong perbaiki, akan sangat memalukan kami yang menjadi orang tuanya, seperti telah gagal mendidik putri kami!" ujar Jason.
"Tapi, Raiz beneran nggak papa kok Pa! Cuma di mesin cuci doang, bukan masalah!" ujar Raiz, mencoba membela istrinya.
"Semakin kamu menganggap hal itu biasa, maka kedepannya semakin Jill akan merasa tidak perlu untuk bertanggung jawab, ini bukan perihal mudah atau tidaknya melakukan suatu hal, tapi perihal benar atau tidaknya! Papa tau, ini adalah urusan rumah tangga kalian, bahkan ini sangat int*m dan tidak bagus untuk kita membahasnya, tapi nak Papa malu jika kamu yang melakukannya sementara putri Papa begitu sehat, memiliki tangan dan otak yang sempurna, tidak kekurangan apapun." jelas Jason.
"Raiz minta maaf Pa!"
"Tidak perlu meminta maaf, Papa malahan bangga sama kamu, kamu adalah orang baik, yang tentunya sudah sangat bisa membedakan mana yang baik dan mana pula yang buruk, Papa harap kamu bisa lebih tegas lagi, dia itu istri kamu Raiz, sudah halal dan sah untukmu, Papa rasa sudah sewajarnya kamu bisa melakukan apapun padanya, yah itu tentu juga selama itu tidak menyakitinya!"
"Baik Pa! Nanti akan Raiz perbaiki!"
Bersambung...