Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
(Bukan) Malam pertama.



Dia terlalu menggoda, untungnya kali ini sudah halal!


^^^Raiz. ^^^


___


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, semua orang di rumah utama juga sudah menempuh kasur masing-masing, begitupun Raiz yang tampak bersemangat saat membuka pintu kamarnya dan Jill.


Namun sayangnya Jill malah tidak berada di sana, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, ternyata Jill di sana.


"Ay, kamu ngapain?" tanya Raiz, dibalik kamar mandi.


Tidak ada sahutan, namun tak lama Jill keluar sembari nyengir kuda.


"Kamu mau make?" tanya Jill.


"Enggak, aku cuma heran aja kali aja kamu udah lama di sana!" ujar Raiz.


"Ohhh!" Jill berlalu menuju meja rias, dia akan memanjakan wajahnya dengan skincare rutinnya.


"Ay!" panggil Raiz, dia sebenarnya ingin mengajak Jill melakukan malam pertama mereka, namun mengapa rasanya sulit sekali.


"Hemmm!" sahut Jill, sembari mulai mengoleskan krim wajahnya.


"Aku..." ragu Raiz.


"Apa?" Jill menoleh dan menatap Raiz menyelidiki.


"Nggak papa, nanti aja!" putus Raiz.


"Ihhh, apa sih, aku itu nggak suka penasaran yaaa!" Jill mengurai rambutnya yang panjang, kemudian mendekati Raiz di ranjang, dia harus bersiap untuk tidur.


Hening, keduanya terlibat kecanggungan.


"Ay!"


"Ay!"


Keduanya berucap bersamaan. Raiz menoleh ke arah lain, yang sebenarnya dia tidak tau bagaimana caranya memulai. Sementara Jill, dia teringat akan sesuatu.


"Kamu mau ngelakuin sesuatu nggak Ay?" tanya Raiz.


"Sesuatu? Apa?"


Jill kemudian tau arah maksud perkataan Raiz, dia mendekatkan tubuhnya pada Raiz, bagaimanapun kecanggungan ini harus segera dituntaskan.


"Aku lagi haid Ay!" jujur Jill, dan sejurus kemudian membuat Raiz melemas, sungguh dia sudah bersiap-siap untuk itu namun apa kenyataannya, istrinya malah sedang datang bulan.


Wajah Raiz berubah, terlihat mulai menyedihkan, masa malam pertama mereka belum bisa tayang. "Kamu serius?" tanyanya.


"Iya, aku tadi abis bersiin di kamar mandi!" jawab Jill yakin.


"Ya udah deh, dipending dulu!" pasrah Raiz.


Ia menepuk-nepuk bantal untuk tidur, mau bagaimana lagi kalau memang tidak bisa, tidak mungkin dipaksa kan.


"Ay..."


"Hemmm! Kenapa?" tanggap Raiz, ia tersenyum manis pada Jill, tidak ingin membuat Jill-nya merasa bersalah.


"Maafin aku ya!" ucap Jill sedih.


"Ya nggak papa kali Ay, masih ada lain waktu, kamu udah mau tidur?" tanya Raiz.


Jill mengangguk, "Tapi kamu kek sedih gitu, kamu udah nungguin yah?" tanya Jill betapa polosnya.


Raiz tidak menjawab, namun tangannya sudah mengambil alih tubuh Jill dan membawanya ke dalam pelukan, "Aku sayang kamu Ay!" ujarnya seolah tidak bisa berhenti mengatakan itu, karena cantiknya Jill, betapa menggemaskannya Jill, dia benar-benar beruntung.


Raiz memeluk erat tubuh Jill, menciumi lehernya, membaui betapa harum ceruk leher istrinya itu.


"Ay, apa ini!" tanya Jill spontan kala bokongnya tidak sengaja bersentuhan dengan milik Raiz.


Raiz memejamkan matanya lagi, nyatanya memeluk Jill seperti ini bukanlah hal yang tepat, anak didiknya itu bahkan sudah liar bereaksi.


Dengan cepat Raiz bangkit dan menuju kamar mandi, malam pertama mereka bahkan belum tayang namun sepertinya dia tetap akan keramas di malam hari yang sudah larut ini.


"Ay, kamu ngapain?" tanya Jill, karena Raiz terlihat buru-buru sekali.


Tidak ada jawaban dari Raiz, harus segera menjinakkan anak didiknya.


"Sial, mengapa cepat sekali beraksi? Benar-benar memalukan!" gumamnya saat sudah masuk ke kamar mandi.


Bersambung...