Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Jill dan Jio.



"Hubungan gue sama Celia, nggak ada hubungannya sama lo!" sanggah Jio ketika Jill menanyakan perihal Celia yang akan menjadi istrinya itu.


"Lo nggak bakalan nyakitin dia kan?"


"Urus keluarga lo sendiri, bukannya lo yang mau nikah sama itu cowok, ya lo urusin dia jangan lagi urusin gue!"


"Yo!"


"Lo udah nikah, gue rasa nggak bagus kalau lo ngurusin pernikahan orang!"


"Oh ya? Gue malahan semakin yakin, ada sesuatu sampe kenapa lo bisa nikahin Cel!" tuding Jill.


"Munafik!"


"Plakkk!"


Tamparan itu mendarat di pipi Jio, Jill ingin segera menyadarkan kembarannya itu, Jill takutnya Jio melakukan ini hanya untuk mencari pelampiasan, bilang cinta sama Celia, itu hanya bulshit!"


"Bagus... Lo, bahkan berani nampar gue!"


Jill menggeleng pelan, "Gue nggak mau lo nikahin Celia cuma gara-gara lo nggak puas, ditinggalin gue! Kasarnya gitu kan? Denger, sekali gue tau lo nyakitin Cel, gue bakalan bikin perhitungan sama lo, sekalipun ini adalah aib yang nggak patut banget diceritain, gue nggak peduli! Gue bakalan bilang ke Papa kalau lo cuma manfaatin Celia karena gue!" ancam Jill.


Namun Jio semakin mendekatinya, tidak sedikitpun tergambar ketakutan dari wajahnya.


"Kalau lo emang punya pemikiran kek gitu, kenapa nggak jadi saksi dalam perjalanan cinta gue, dan liat apa yang bakalan gue lakuin sama Celia!" ancam balik Jio.


"Yo!" berang Jill.


"Hahahahaha!" Jio tertawa keras, kemudian berlalu meninggalkan Jill, hari ini dia lelah sekali, sedikit memaksa Celia untuk bisa mencoba beberapa baju kebaya untuk pernikahan mereka nyatanya bukanlah suatu hal yang mudah, gadisnya itu benar-benar sulit ditaklukkan, dan sungguh rasanya Jio semakin suka.


Malam ini dia akan memikirkan Celia tidak ada habisnya sebelum tidur, melihat wajah Celia yang menatap garang padanya namun yang dilihat Jio malah mengemaskan, isi kepalanya hari ini benar-benar dipenuhi oleh Celia.


...***...


"Kamu kenapa lagi Ay?" tanya Raiz.


Jill hanya diam, tangannya mengepal ingin sekali ia mendaratkan tinju di wajah Jio tadi, namun tidak dirinya lakukan karena takut ketahuan Papanya.


Kalau Jio adalah orang lain, tentunya Jill tidak akan segan untuk menghabisi Jio.


"Ay..." seru Raiz lagi.


"Kenapa?" tanya Raiz, mengusap lembut punggung Jill.


"Salah nggak sih kalau kita ngurusin sodara kita sendiri?" tanya Jill, ia akan mencoba terbuka dengan suaminya ini.


Raiz menyergit heran, ada apa? Mengapa tiba-tiba Jill menanyakan itu, namun seketika dia ingat pesan Jacob saat mereka berbincang santai waktu itu, Jill dan Jio adalah dua orang yang saling berketergantungan, bahkan katanya Jio tidak bisa hidup tanpa Jill, dan mungkinkah memang benar, Jill tampak tertekan jika menyangkut perihal Jio.


"Ya tergantung apa masalahnya Ay!" jawab Raiz.


"Misal... Aku yang nggak rela dia nikah, maksudku gini lho Ay," Jill membenarkan posisinya, kini ia sudah duduk saling berhadapan dengan Raiz, dia benar-benar ingin mencurahkan ketakutannya pada suaminya itu. "Aku takutnya Jio nikahin Celia cuma buat pelampiasan!" ungkap Jill.


"Pelampiasan?"


"Waktu itu, beberapa hari pas aku pindah ke SMA kamu, aku sama Jio pernah bertengkar hebat, kalau saja hari itu Jio nggak bisa ngendaliin emosinya mungkin aku nggak bakalan pernah nikah sama kamu!" jujur Jill.


"Kenapa? Jio nggak setuju?"


"Lebih dari itu, cara dia mandang aku hari itu kayak aku bukan lagi adik, bukan lagi kembarannya, dia cinta sama aku Ay!" aku Jill, "Kehilangan yang dia rasain, cara dia cemburu sama kamu waktu itu, sebenarnya itu bener-bener dia rasain, dia benar-benar nggak suka aku sama kamu!"


Raiz membulat mendengar pengakuan Jill, apa ada seorang kembaran berlaku seperti itu terhadap kembarannya, bukankah tidak mungkin, Jill dan Jio adalah saudara.


"Tapi kamu nolak kan?" panik Raiz.


"Aku masih normal kali Ay, ya iyalah! Tapi Jio nggak semudah itu nerima!" jawab Jill.


"Terus?"


"Ya itu, setelah aku nikah malah kita denger info dari Bunda katanya Jio juga mau nikah sama Celia, sedang kamu tau Ay? Celia sama Jio itu adalah dua orang yang nggak bisa disatuin, Celia adalah satu-satunya cewek yang nggak suka sama Jio, dan Jio juga pernah bilang Celia bukan seleranya, jadi ya aku kek ngerasa janggal aja gitu!"


"Hemmm, tapi..."


"Aku sih berharapnya yang terbaik Ay, kita coba liat aja dulu, perasaan orang kan bisa berubah, contohnya aku yang nggak mau nikah cepet tapi setelah ketemu kamu malah mau-mau aja!" ujar Raiz. Ia mencoba menenangkan Jill meski dirinya juga tidak puas akan jawabannya sendiri.


"Hemmm, gitu ya Ay!"


Raiz mengangguk dan mengacak gemas puncak kepala Jill, membawa istrinya itu kedalam pelukan, ada rasa cemburu saat mengetahui Jio pernah menyukai Jill sebagai seorang wanita. Meskipun hal itu tidak mungkin, dan juga Jill dan Jio tidak bisa bersama, namun tetap saja kedepannya jika dirinya bertemu dengan Jio pastinya akan didera canggung.


Bersambung...