
Seperti yang Bapak tau bertepuk tangan dengan satu tangan kayaknya emang nggak bakalan berhasil, mungkin... Seperti itulah aku yang mencintai Bapak sendirian.
^^^Jill.^^^
___
Jill melipat kedua tangannya menelungkup di paha Raiz, lalu dia menaruh kepalanya untuk berbaring di sana, Raiz bergerak sedikitn memperbaiki posisi karena merasakan sentuhannya sementara Jill tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya kala Raiz menunduk hendak melayangkan protes.
"Ada apa?" tanya Raiz pada murid yang dibawa oleh Winda.
Anak murid itu tidak menjawab, dia masih saja diam.
"Tuh kan bener Pak Raiz, dia itu emang sulit buat diajak ngomong!" sambar Winda, dia seakan sudah menjadi juru bicara saja.
"Mungkin dia merasa tidak nyaman Bu, apa sebaiknya Bu Winda bisa keluar sebentar dan membiarkan aku bicara padanya berdua?" tanya Raiz langsung.
Winda tersenyum kecut, bagai hilang sudah kesempatannya untuk berbicara banyak dan dekat dengan Raiz.
Anak murid itu menoleh pada Winda, namun hanya sebentar setelah kemudian menunduk lagi.
"Ya sudah, Anisa Ibu tinggal dulu yaaa!" ujar Winda ramah.
Lalu mau tak mau Winda keluar dari ruangan Raiz, padahal tadi ia sudah berterimakasih sekali dengan muridnya itu, tapi ya sudahlah... Ini semua juga demi kebaikan muridnya, hal yang paling penting dari pada perasaannya menurut Winda.
Setelah Winda keluar, Raiz menyuruh anak muridnya itu untuk duduk berhadapan dengannya.
Murid itu menurut saja, lalu Raiz kembali menanyakan ada apa perihal diamnya murid itu.
"Katakan saja, tidak usah sungkan!" bujuknya.
"Anu Pak!" siswi bernama Anisa itu mulai mengeluarkan suara.
Suara itu berasal dari bawah meja Raiz, kepala Jill terantuk di sana, Raiz hendak tertawa saat melihat ekspresi Jill namun sebisa mungkin ia tahan untuk menjaga wibawanya.
"Ada apa Pak?" tanya Anisa memberanikan diri.
"Ah tidak ada, kaki saya mengenai meja!" jawab Raiz berbohong, benar kan semenjak mengenal Jill Raiz bahkan lebih sering berbohong, dasar! Umpat Raiz dalam hati.
"Lanjutkan!" pinta Raiz lagi.
Sementara Jill, dia terkejut karena mendengar suara anak murid yang dibawa Winda itu, makanya ia spontan bergerak dan kepalanya mengenai meja. Dengan menahan kesal karena Raiz menertawainya ia kembali pada posisi semula berbaring di paha Raiz.
Jill memikirkan sesuatu, suara itu seperti dia pernah mendengarnya. Tapi di mana?
"Anu..." Anisa tampak ragu-ragu menjawab, ia memang mempunyai masalah yang menurutnya begitu sulit, dia memang tidak punya teman untuknya berbagi, namun jika ia membagi masalahnya ini pada Raiz, rasanya Anisa juga belum cukup mempunyai nyali.
"Ada apa?" tanya Raiz lembut, "Apa ada yang mengganjal? Menyakitimu? Katakan saja, barang kali saya bisa bantu!" ujar Raiz.
Di bawah sana, Jill yang sedang berusaha mengingat siapa pemilik suara itu tanpa sadar menggenggam tangan Raiz dengan erat, dia terlalu benci saat sudah bisa mengingat siapa itu, hingga sayangnya tindakannya itu harus membuat Raiz mengaduh kesakitan. "Asshh!"
"Ada apa Pak Raiz?" tanya Anisa lagi, ia melihat dari tadi guru paling tampan di sekolahnya itu sedikit aneh.
"Ah tidak tidak, tidak apa!" jawabnya gugup.
Raiz menunduk, matanya memelototi Jill, namun kali ini Jill memberikan isyarat padanya, "Aku mengenal siswi itu? Aku tau siapa Anisa itu!" ucap Jill, berbicara dengan hanya gerakan bibir saja, Raiz yang tidak bisa mengerti apa yang Jill katakan pun mengernyit heran.
Jill menghela napasnya, kemudian ia menggerakkan jarinya meminta Raiz untuk lebih menunduk. Ia akan mengatakan sesuatu tentang siswi bernama Anisa itu.
Bersambung...