
"Saya bukan lagi anak kemarin sore yang dengan gilanya mau pacaran sama kamu!"
"Dan aku adalah orang yang bakalan buktiin kalau Bapak memang anak kemaren sore yang gila itu!"
___
"Pak Raiz..." seru salah seorang siswi tertahan. Ia ingin mengabarkan peristiwa yang tengah terjadi di kantin, namun tidak jadi karena dilihatnya Raiz yang baru saja akan melahap makan siangnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Eehh, makan dulu Pak!" ucap siswi itu tidak senang.
Raiz menaruh kembali menu makan siang itu di kotak bekalnya, minum sedikit air mineral dan kemudian bertanya lagi, "Ada apa? Katakan saja!"
"Eemmh, terjadi keributan di kantin!" jawab siswi itu.
Mendengar itu Raiz langsung saja bergegas menuju kantin, ia ingin tau siapa kali ini yang berbuat onar, apakah Jilly lagi, dan kenapa lagi?
Raiz mengusap wajahnya kasar kala sudah sampai di kantin, tepat sekali dugaannya, lagi lagi Jilly, lagi lagi Jilly. Semenjak kedatangan Jilly ke sekolah ini tugasnya seolah semakin bertambah.
Memejamkan mata sesaat, lalu kemudian berlari menghampiri Jill.
"Jilly, kenapa lagi ini?"
"Eh?" Jilly terbengong melihat Raiz, mengapa sih setiap kali bertemu kadar ketampanan Raiz seolah semakin bertambah, dasar otak bucin gerutu Jill memarahi dirinya sendiri.
"Saya tanya, apa lagi? Mengapa mereka berempat duduk di lantai?" tanya Raiz lembut.
"Itu?" Jill menoleh sekilas ke arah putri dan yang lainnya.
Terlihat anak-anak juga tampak tegang menunggu jawaban Jill, apakah Jill akan mengakui pikir mereka.
"Nggak tau, Bapak bisa tanya ke mereka, ngapain betah aja duduk di lantai!" sahut Jill yang nyatanya tidak bergeming.
Raiz tidak menduga, Jill bahkan seberani ini.
"Kalian, kenapa?" tanya Raiz pada Putri dan teman-temannya.
"Ehh..."
Rasanya ingin sekali Putri berkata yang sebenarnya telah terjadi, namun lagi-lagi senyuman Jill yang begitu acuh tadi, seolah menegaskan untuknya tidak mengatakan apapun. Bagaimana bisa wajah seperti itu tampak begitu mengerikan dilihatnya.
"Tidak apa Pak, kami hanya... Hanya..."
"Sedang ingin duduk si sini saja Pak!" sahut Sasha cepat melanjutkan kebingungan yang lainnya, itupun spontan dirinya katakan karena tidak bisa menemukan jawaban yang mungkin dan masuk akal.
"Apa?" Raiz tidak percaya, mengapa bisa terima saja?
"Bukan karena Jilly?"
"Aahh... Bukan Pak... Kami emang lagi mau aja!" ucap Putri seperti menahan geram, mendengar nama itu disebutkan rasanya ingin sekali Putri menjambak rambut lurus Jill yang tampak santai itu.
Tunggu aja, gue nggak bakalan biarin ini, lo tunggu aja...
Putri meremas ujung bajunya kuat, ini adalah suatu penghinaan baginya, dia tidak akan membiarkan ini berlalu dengan mudah.
Raiz hanya bisa mengangguk pasrah, ia tau ini semua adalah ulah Jill, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi nanti saja ia akan menyelidiki. Raiz benar-benar harus bekerja ekstra, biasanya geng Putri lah yang suka menyebabkan masalah sebelum kedatangan Jill, namun melihat Putri dan rombongannya duduk pasrah di lantai tentunya Raiz sudah yakin bahwa Jill benar-benar yang terburuk.
Raiz berlalu meninggalkan kantin dengan hati yang bertanya, ini tidak bisa dibiarkan menurutnya.
Tak lama, makanan yang Jill pesan datang, Jill tampak menikmati makanannya itu dan sama sekali tidak merasa terganggu akan kasak-kusuk yang dirinya dengar, baik dari rombongan Putri maupun dari anak-anak lainnya di kantin itu.
Namun ternyata kejadian tadi sedang di kagumi oleh sepasang mata yang sedang berada di pintu kantin, ia tersenyum melihat tingkah Jill yang menurutnya menggemaskan. Tidak takut akan apapun, ia mengagumi itu.
"Lo tau kan dia anaknya siapa?" tanya seseorang yang adalah temannya.
"Tau! Hal itu juga yang buat gue penasaran!"
"Kalau gue bisa dapetin dia, keknya memiliki hubungan baik dengan keluarga Adrian adalah bonus besar buat keluarga gue!"
"Yaps! Tapi lo juga harus ingat, yang bakalan lo adepin itu Tuan Jason, kalau gue sih... Mending cari aman aja!"
"Lo ngeremehin gue?"
"Untuk yang kali ini, lebih tepatnya kek nasehatin, Jilly itu bukan cewek yang bisa lo mainin, gue bilang gini yaaa buat meringatin lo sebelum lo nanti nyesel!"
"Dan gue, sayangnya tetap milih nargetin Jill!"
"Serah lo deh, yang pasti sebelumnya gue udah kasih peringatan!"
"Jilly Almas, seberapa beda sih lo sama yang lain, gue bakalan buktiin kalau lo itu sama aja!"
Bersambung...