Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Papa mertua yang mengetahui semuanya.



Raiz masih memikirkan perkataan Jill tentang Jio, menurutnya benar-benar tidak mungkin, yah meskipun bisa saja namun hal demikian benar-benar menyimpang.


Rasanya Raiz tidak habis pikir, dan jika memang Jio menikahi Celia hanya untuk dijadikan pelampiasan tentunya itu adalah juga hal yang sangat salah, akan ada korban untuk perasaan Jio, dan Raiz tidak bisa membiarkan itu.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Jason tiba-tiba.


Dia melihat Raiz yang berdiam diri di taman belakang, saat hari sudah larut bahkan Raiz masih betah sendirian ditemani angin malam.


"Papa!"


Raiz sedikit terkejut, karena dia pikir semua orang di rumah ini sudah tertidur, namun nyatanya tidak, Papanya ini masih segar tidak ada tanda-tanda orang yang terbangun dari tidurnya.


"Kamu ada masalah?" tanya Jason.


"Ah enggak Pa!" dusta Raiz yang lebih memilih menutupi masalahnya dan Jill, eh tapi tidak bisa disebut sebagai masalah juga sih.


"Jilly?" selidik Jason.


"Emmmh!"


"Kadang sebuah masalah ada kalanya memang harus dibagi, biar bisa berpikir luas, sekedar menanyakan apa solusinya, hanya saja tergantung bagaimana cara kita menyikapinya saja!"


"Papa..."


"Papa bukannya mau ngurusin rumah tangga kalian, tapi Jio memang sudah bisa dikatakan berubah, beberapa hari ini bahkan Papa bisa melihat cara dia menatap Celia seperti mendamba, bukan seperti apa yang kalian pikirkan!" ujar Jason lagi.


Raiz tercengang, matanya membulat sempurna, dari mana coba mertuanya ini tau apa yang sedang dirinya pikirkan.


Karena Jio jugalah Papa mengizinkan Jill untuk menikah muda, karena sebelum orang lain mengetahui apa masalah di keluarga kami, tentunya Papa sebagai orang yang paling bertanggung jawab di sini, harus mengetahui duduk permasalahannya.


"Jio sedikit berbeda, kesehatannya yang tidak begitu baik di waktu kecilnya membuat Papa dan Mama merasa harus benar-benar memberikan perhatian yang terkhusus untuk Jio kami!"


"Semua orang menyayanginya, tak terkecuali Jill yang rela melakukan apapun untuk kembarannya."


"Jio sakit?"


"Dulu jantungnya bocor saat lahir, hal itu masih terbawa sampai dia kelas satu SMP, saat di sekolah dasar, saat Jill sudah bisa mengerti akan rasa simpati, dia mulai merelakan juara kelasnya, hal itu dirinya lakukan hanya untuk Jio."


Raiz mengangguk seraya menyimak, dia juga merasakan itu, Jill yang dilihatnya memang seperti itu, istrinya itu hanya tidak suka diganggu, namun tidak pernah membuat masalah duluan. Dari situ saja Raiz sudah bisa melihat Jill itu gadis seperti apa.


"Sejak SMP bahkan nilai tata krama dan pelajaran Jill menurun, hukuman kedisiplinan hampir tiap hari didapatkannya, dan Jill selalu siap menjalani itu."


"Dia melakukan itu semua untuk Jio, dia ingin Jio-nya menjadi dominan, tanpa kami minta, tanpa Jio ketahui, Jill dengan rasa cintanya rela saja melakukan itu!"


"Jadi, Jill sebenarnya..."


"Tidak seburuk apa yang orang lain katakan, isukan!" lanjut Jason cepat sebelum Raiz menyelesaikan kata-katanya.


Raiz mengangguk lagi, "Dia benar istimewa!"


"Namun Jio menyalahartikan kebaikan Jill, diistimewakan begitu membuat Jio merasa tidak bisa hidup tanpa Jill, dia mulai bergantung pada Jill, dan mungkin tanpa bisa dicegah perasaan itu ada, perasaan yang tidak seharusnya."


"Jadi selama ini Papa udah tau?"


"Bukankah sebelum orang luar mengetahui masalah di rumah kita, seharusnya kita sudah bisa lebih memahami di mana letak permasalahannya!" jelas Jason.


"Ada sedikit ketakutan, aku hanya ngerasa gimana kalau Jio memang cuma jadiin Celia sebagai pelampiasan!" ucap Raiz, yang kini tampaknya sudah paham mertuanya ini sebenarnya begitu memahami permasalahan anak-anaknya, hanya saja bersikap diam seolah tidak mengetahui apapun.


"Kita nggak perlu berpikiran buruk pada sesuatu yang belum terjadi, ada baiknya kita lebih banyak berdoa, untuk keluarga kecil kita, keluarga kecil saudara kita!" jawab Jason, begitu bijak sekali, Raiz saja sampai malu, dirinya yang dibesarkan di lingkungan pondok pun kadang masih sering mengurusi hidup orang lain.


"Yah Papa benar, tidak seharusnya aku takut akan suatu hal yang belum terjadi!"


"Papa bukan mau mengurusi kalian, tidak sedikitpun niat Papa ingin memata-matai kehidupan kalian, tapi nanti jika sudah waktunya pasti akan Papa lepas selepas-lepasnya." ujar Jason lagi, menjelaskan bahwa dia mengetahui semua ini bukannya ini mengurusi.


"Iya Pa, Raiz mengerti!"


"Papa tidak akan mengganggu, hanya saja jika ada kesalahpahaman menyangkut keluarga Papa, Papa akan mengatasinya sebelum hal itu menjadi besar dan salah!"


Raiz memandang wajah bersih Papa mertuanya itu, bukankah Papanya ini menikah bahkan lebih muda darinya dulu, mengapa bisa sedewasa ini? Dirinya saja kagum, benar-benar kagum.


"Papa tinggal dulu, silakan jika masih mau menikmati angin malam!" pamit Jason kemudian benar-benar pergi meninggalkan Raiz.


Bersambung...