Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kemana Jason?



Hampir pukul setengah dua belas Jill belajar mengaji dengan Raiz, dan itu hanya untuk membuatnya lulus praktik membaca Al-Qur'an besok siang. Nyatanya memang benar sekolah dengan tingkat kedisiplinan melebihi Guna Bhakti ini tepat sekali seperti rumor. Jill sudah akan menyerah kalau saja Raiz tidak memperingatinya, mulai hari ini tidak ada lagi malas-malasan mengenai agamanya, bukan hanya untuk pelajaran di sekolah saja, Raiz mengatakan mulai besok malam Jill harus siap menyetorkan hapalan surat pendek.


"Ay..."


"Bisa... Yakin deh!" ujar Raiz menyemangati. Jill, masih saja ragu mengenai kemampuannya mengaji.


"Aku takut bikin malu Papa Ay!"


"Hah..." Raiz menghempaskan napasnya berat, "Bukannya udah biasa, nggak papa lah jika ditambah sekali lagi!" candanya.


"Ihh kamu!" kesal Jill. Dia cemberut, dari tadi Raiz selalu main-main menanggapi kegelisahan hatinya, kalau untuk kenakalan yang lain Jill tidak begitu peduli, namun jika tentang agama Jill merasa akan sangat memalukan jika nilai agamanya nol besar.


"Lah emang benar kan, bahkan Papa sendiri yang bilang kalau Papa langganan guru BK! Termasuk sampai yang kemaren juga!"


"Ihhh, tapi kan kalau nakal yang lain aku masih bisa ngelak, tapi kalau agama kan kayak bakalan dipertanyakan pendidikan agamanya di rumah, secara nggak langsung kan gitu!"


"Hemmm, jadi maksudnya takut sama netizen?"


Jill mengangguk, dia takut orang lain menilai Papanya buruk karena dirinya.


Raiz tersenyum miring, banyak orang yang takut untuk ditilai oleh netizen yang padahal kadang lebih seringnya menghakimi, yang kalau kita terlihat salah mereka akan berkomentar seolah mengetahui hal terkecil sekalipun dalam hidup kita. Kalau sudah seperti itu yang ditilai baik akan baik saja diagung-agungkan, lalu yang buruk akan semakin buruk dan terpojok seolah tidak ada pengampunan.


Padahal, di dunia ini ada yang lebih tau mengenai hidup kita, yang seharusnya harus selalu kita takuti, kita jaga perasaannya, kita agungkan Dia, kita dekati dan selalu ingat pada-Nya. Namun, sering kita lupakan, seperti Jill ini.


"Takut itu sama Allah Ay, ngapain takut sama netizen!"


"Hah?"


"Iya, tanemin dalam diri kamu, kalau kamu bisa baca Al-Qur'an, selain karena mau nilai yang bagus yang lebih pentingnya ya karena Allah!"


"Alhamdulillah diberi kesadaran dengan segera, umur masih muda, berarti Allah sayang sama kamu, dan kamu jangan sia-siain kesempatan yang diberikan Dia!"


Jill tidak jadi kesal, malahan dia malu saat Raiz menasehatinya begitu.


"Udah, yuk tidur! Yakin bisa kok besok!" ajak Raiz. Dia sudah tidak mood lagi untuk melakukan malam pengantin, ngantuk berat karena begadang mengajari Jill. Biarkanlah, besok Raiz berencana untuk mempersiapkan malam istimewa mereka itu dengan sebaik-baiknya.


"Ay..." seru Jill saat keduanya sudah siap untuk tidur.


"Hemmm!" sahut Raiz, ada apa lagi pikirnya, mata udah nggak kuat lagi untuk diajak melek namun istrinya ini malah memanggilnya terus.


"Kamu..."


"Apa Ay, udah... Tidur yuk!" ajak Raiz lagi, rasa ngantuk membuatnya langsung saja menyuruh Jill untuk tidur, tanpa bisa berpikir lagi mungkinkah Jill ingin mengajaknya beribadah.


Jill mengangguk pasrah, dia padahal ingin mengajak Raiz untuk melanjutkan keseruan yang tertunda, namun mau bagaimana lagi, dirinya juga harus mengerti mungkin suaminya itu juga lelah dan kelewat ngantuk karena berjam-jam mengajarinya.


Kemudian hanya dalam waktu beberapa menit saja, keduanya langsung pulas tertidur.


Sementara itu,


Shirleen meraba bagian sebelah tempat tidurnya, namun tangannya tidak juga menemukan tubuh Jason yang biasa dirinya peluk. Langsung saja matanya terbuka untuk memastikan sesuatu, benar sekali dugaan Shirleen tentang dirinya yang tidak bisa tidur jika Jason tidak berada di sampingnya, seperti kali ini.


"Kemana sih?" gumamnya dengan masih mengantuk.


"By..." serunya, barang kali saja Jason tengah berada di kamar mandi.


Tidak juga terdengar sahutan, membuat Shirleen langsung saja bangkit untuk memeriksa.


"By..." serunya sekali lagi.


Tangan Shirleen sudah terulur membuka kamar mandi, tidak menemukan Jason di sana, lalu ke mana perginya Jason?


Selarut ini? Nggak pernah juga Jason pergi tidak mengabarkan dulu padanya.


"By..." serunya lagi, seraya membuka pintu kamar, barang kali saja Jason berada di ruangan lainnya dan akan mendengar jika dirinya memanggil.


Bersambung...