
Salah satu pekerjaanku adalah mengurus istriku sendiri. Yah benar, istri istimewaku!
^^^Raiz. ^^^
___
"Lo kenapa?" tanya Oliv, hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di SMA Guna Bhakti, dia sengaja memilih sekolah yang sama dengan Celia, tujuannya yaa tentu sudah pada tau, Yap! Hanya supaya bisa memandangi Jio setiap hari.
"Lo udah dateng?" tanya Celia, terdengar lemah bahkan matanya saja sembab, karena semalam dan tadi dia tidak bisa berhenti menangis.
"Gue udah dari tadi, tapi gue cari-cari lo nya nggak ada, padahal kan kelas kita sama!" ujar Oliv.
"Gue sulit berteman di sini, lo jangan ninggalin gue dong! Gue malu!" lanjutnya lagi.
Celia mencoba tersenyum, ia pun mengangguk, sebisa mungkin menutupi kesedihannya. Kemudian keduanya berjalan menuju kelas, sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi.
Celia tidak ingin Oliv mengetahui kesedihannya, biarlah semua yang terjadi padanya ia simpan dalam, karena dia tau kalau gadis yang berjalan di sebelahnya ini sungguh menyukai Jio, akan sangat keterlaluan jika dia merebut Jio dari Oliv, yah meskipun Oliv dan Jio sebenarnya juga tidak memiliki hubungan khusus sejauh ini, namun Celia merasa dirinya tetap harus memiliki hubungan baik dengan Oliv.
"Mata Lo kenapa sembab? Nangis? Bukannya lo nggak ada pacar, seharusnya nggak ada alasan untuk nangis kejer kan?" tanya Oliv.
"Heh, emangnya orang yang punya pacar aja yang bisa nangis kejer, jomblo juga bisa kali saat meratapi nasibnya!" dusta Celia untuk menghibur diri.
"Gue nonton Drakor, sad ending, nangis kejer dah gue!" lanjutnya.
"Hemmm, itu dia, makanya gue kalau nonton Drakor pasti nggak mau yang sad ending, gagal move on pokoknya!" tambah Oliv, dia setuju saja untuk alasan Celia menangis.
...🍓🍓🍓...
Sebentar lagi jam istirahat, Raiz segera menghubungi ibu kantin untuk memesan dua porsi nasi goreng untuknya dan Jill, di waktu istirahat nanti dia akan menyuruh Jill ke ruangannya, selain karena rindu yang melanda alasan lainnya adalah karena Raiz harus menanyakan suatu tentang Anisa pada Jill.
📨 Makan siang bareng?
Raiz mengirimkan pesan singkat pada Jill lewat aplikasi hijau miliknya. Setelah itu ia mencari dokumen yang pernah diberikan oleh Winda tentang Anisa, barang kali saja ada informasi yang bisa membantunya.
Drettt drettt drettt,
Ponsel Raiz kembali berdering, Raiz merutuki kebodohannya kala teringat bahwa ini masih di jam pelajaran, karena saking antusiasnya dia malah tidak menyadari itu. Kemudian dia melihat isi balasan dari Jill, istrinya itu berani sekali membalas pesan saat pelajaran berlangsung.
💌 Memangnya Ay udah pesen?
Sudut bibir Raiz lagi-lagu tertarik, aahh Jilly betapa menggemaskan istrinya itu.
Raiz hanya membaca, tidak akan membalas karena takutnya Jill malah bermain ponsel di jam pelajaran.
Ia kembali mengamati data Anisa, rumahnya ternyata tidak begitu jauh, baiklah nanti akan ia buatkan jadwal untuk bertemu keluarga Anisa. Raiz juga mendengar satu minggu kemarin Anisa juga tidak masuk, hal itu semakin memperkuat dugaannya bahwa benar ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada gadis itu.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Raiz, dia langsung saja melihat ke arah jam dinding, namun jam istirahat masih sekitar hampir satu jam, berarti bukan Jilly yang mengetuk.
Raiz segera bangkit untuk membukakan pintu, dan alangkah terkejutnya ia kala mendapati siapa yang datang, ini gila mengapa jadi seperti ini?
Bersambung...