Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
"Bapak salting ya?"



Aku menginginkanmu, sungguh! Maksudku, aku sungguh mencintaimu!


^^^Jill.^^^


___


Raiz mengedarkan pandangannya sekeliling, matanya mulai mencari sosok yang tanpa dia sadari telah memenuhi ruang pikiranya. Yah, aneh saja karena seharian ini Raiz tidak melihat biang masalah itu.


Jantungnya juga masih selalu saja berdebat acap kali memikirkan Jilly, pertanyaan Jill yang selalu menyatakan ingin menjadi kekasihnya mulai terngiang-ngiang di telinganya, Raiz mencoba mengalihkan perhatian namun semakin gencar ia melakukan itu maka semakin gencar juga bayang-bayang Jill menghantuinya.


"Tidak!" ucapnya spontan, ia kembali ke ruangannya, memijit pangkal hidungnya pelan, mungkin setelah ini dirinya harus pergi ke spesialis jantung mengenai kondisi tidak normalnya di beberapa hari ini.


Raiz mulai duduk di kursi kerjanya, ia mengambil beberapa dokumen untuk dirinya kerjakakan, namun tak lama kakinya di bawah meja malah seperti terkena sesuatu.


"Ada apa sih?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Raiz mulai membungkuk untuk melihat sesuatu apa yang mengenai kakinya di bawah mejanya tadi, dan "Cup!" mata Raiz membulat kala bibirnya sudah menempel dengan bibir milik Jilly, kenapa... Kenapa tiba-tiba murid gilanya ini ada di ruangannya.


Dengan cepat Raiz melepaskan ciuman tak terduga itu, namun seolah tak cukup sampai di situ keterkejutannya karena saat hendak bangkit kepalanya tidak sengaja terkena sisi atas meja dengan keras, Raiz kehilangan keseimbangan dan sayangnya ia harus jatuh mengenai Jill. Raiz jatuh menindih tubuh Jilly, dan untuk kedua kalinya bibir mereka bertemu.


Jantung Raiz berdetak kencang, saat ini Raiz mulai menyadari kalau mungkinkah ia juga sudah jatuh cinta dengan murid gilanya itu?


Dengan sisa-sisa kesadarannya Raiz langsung saja dengan cepat menarik tangan Jilly untuk segera keluar dari kolong mejanya.


"Jilly apa-apaan kamu!"


"Maaf Pak! Aku nggak sengaja!" enteng Jill.


"Haaahhh!" Raiz menghempaskan napasnya kasar, "Ini masih jam pelajaran, ngapain kamu di ruangan saya?" tanya Raiz sembari merapikan kemejanya, entah mengapa ia mulai tidak mau terlihat berantakan di depan Jill dan sekalian juga ingin mengatasi kecanggungan yang tercipta akibat jackpot dua kali ciuman tak terduga tadi.


"Bolos!" lagi-lagi dengan gampangnya Jill menjawab. Dikiranya bolos itu kek ekstra kulikuler apa, bisa-bisanya ninggalin kelas dengan alasan bolos, mana jawabnya pake tampang gada dosa.


"Iya iya, mau ketemu Bapak aku, bukan bolos!" jawab Jill seolah memberikan pilihan lainnya, padahal hanya kedengarannya saja yang beda, intinya sih sama aja.


"Jilly kamu bandel amat sih, orang kalau bolos juga ke kantin, lah kamu nggak ada takut-takutnya sama saya!" gerutu Raiz.


"Lah kenapa harus takut, orang tampang Bapak aja ngangenin!" gombal Jill lagi.


"Oke!" Raiz menjeda ucapannya, ia menyuruh Jill untuk duduk, "Ada apa mau ketemu saya?" tanyanya kemudian.


"Emmm, ga da papa, kangen aja!" sahut Jill lagi yang sukses bikin gondok.


"Kamu kembali ke kelas, sebelum saya melayangkan tindakan!" pinta Raiz.


"Memangnya Bapak mau ngapain?" tanya Jill, bukannya takut, Jill malah semakin gencar menggoda Raiz, karena menurutnya guru BK tampan itu akan semakin terlihat menggemaskan jika sedang marah. Jatuh cinta emang aneh, padahal bagi siswa siswi lainnya wajah Raiz jika sedang marah itu lumayan menyeramkan walaupun sisi kegantengan yang emang nggak bisa ditinggal.


"Skors!"


"Bapak yakin?" Jill semakin mendekat ke arah Raiz, "Bapak kenapa sih suka marah-marah kalau sama aku?" tanyanya dengan jarak yang lumayan dekat. Ia tersenyum saat melihat bibir Raiz, bibir itulah tadi yang sudah dengan sengaja dirasainya. Jason tentunya akan malu jika mengetahui kelakukan anaknya seperti itu.


"Kamu nggak nyadar?" Raiz mencoba menetralkan perasaan gugupnya, jantungnya semakin berdetak lebih cepat.


"Bapak salting ya?" selidik Jill.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Jill melakukan itu, ia hanya ingin mengetahui perasaan Raiz terhadapnya, bagaimana jika Raiz berdekatan dengannya seperti ini, apakah Raiz juga merasakan hal yang sama sepertinya?


Dan benar saja, hal itu berhasil Jill buktikan kala tanpa sengaja mendengar detak jantung Raiz, meski samar ia tau Raiz saat ini sedang sulit mengendalikan diri.


"Aaa Apa maksud kamu?"


Bersambung...