Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Ketahuan.



Mencintai sendiri begitu menyakitkan! Tapi meski begitu entah kenapa aku kembali lagi, mengulang hal yang sama lagi, mencoba denganmu, lagi dan lagi.


^^^Jill.^^^


___


"Aku?"


"Tidak bisa!" cegah Aliyah, entah punya keberanian dari mana dia, mungkin karena dirinya terlalu cinta pada Raiz hingga menguatkan nyalinya untuk melawan Jason Ares Adrian.


"Tidak bisa, Raiz sudah memutuskan untuk menjadi suamiku, kau... Dasar wanita pengganggu, seenaknya saja kau datang dan menghancurkan pernikahanku!" Aliyah setengah berteriak, ia marah pada Jill.


Jill tak ingin kalah, ia bangkit dan menghempaskan tangan Shirleen yang memeganginya, "Lo yakin? Gue rasa, gue datang di saat yang tepat, gue emang mau ngancurin pernikahan impian lo, tapi sekaligus menyelamatkan Raiz!" ujarnya tak kalah garang, menatap sengit Aliyah kental akan permusuhan.


"Jilly duduk!" tegas Jason. Dari tadi di apartemen, Jason dan Shirleen sudah menegaskan untuk Jill tetap tenang, namun karena memang sudah dasarnya bar-bar ya tetap saja Jill ini tidak bisa dikendalikan.


"Pa!" rengek Jill.


"Jilly Almas!" Jason menatap tajam Jill, jika sudah begitu Shirleen pun yang adalah satu-satunya pawang hanya bisa terdiam, cukup ngeri jika suaminya itu sudah serius.


Jill kembali duduk, Shirleen menenangkannya, entah bagaimana nantinya, apakah dia akan jadi mempunyai menantu dadakan atau tidak. Jason masih mengurusnya, terus terang Shirleen benar-benar terkejut mendengar permintaan Jill beberapa jam yang lalu, anak bungsunya itu malah dengan yakin mengatakan ingin menikah muda, dan calonnya adalah Raiz, pemuda yang baru saja dikenal dan dilihatnya, detik ini juga.


Jika ditilik dari penampilan, ya okelah, Shirleen bahkan bisa memahami apa yang membuat putrinya itu jatuh cinta, selera Jill benar-benar berkelas, namun Shirleen sedikit ragu karena keluarga Raiz adalah keluarga yang taat agama, sedang putrinya itu, oh ya Tuhan bahkan jika di suruh sholat saja Jill tidak akan kehabisan alasan untuk tidak mengerjakan. Bagaimana jadinya nanti?


"Bisa saya lanjutkan?" tanya Jason, karena suasana berubah menjadi hening saat ia meneriaki Jill tadi, Jason sedikit menyesal, hilang sudah imagenya sebagai CEO muda yang rendah hati. Padahal ia selalu ingin mendapatkan predikat itu.


"Silakan Nak Jason!"


"Ya!"


Sahut Kyai Ahmad dan Januar bersamaan.


"Roy!" Jason kembali memanggil Roy, Roy yang sudah tau apa tugasnya itu pun segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkan sesuatu itu di atas meja.


"Apa ini?" tanya Januar. Sementara Kyai Ahmad segera mengambil lembaran kertas itu untuk membacanya.


"Apa?" kaget Kyai Ahmad, ia menggeleng tak percaya, mengapa bisa seperti itu, memang benar apa yang dikatakan Jason, hal yang akan diketahuinya ini benar-benar memalukan.


Mendengar keterkejutan Kyai Ahmad, Januar pun segera membaca kertas itu, dan didapatinya lah sesuatu yang bagai hendak mencekik lehernya, putrinya itu bahkan dinyatakan sehat walafiat, tidak ada bukti yang terbaca di sana bahwa putrinya itu terkena kanker darah. Benarkah? Bukannya waktu itu bahkan dia begitu shock mengetahui kenyataan bahwa putrinya itu sedang sakit.


Raiz juga, dia yang ikut penasaran langsung saja melihat apa isi dari lembaran kertas yang diberikan Roy. Matanya membola kala mendapati kenyataan itu, pantas saja Jill mengatakan Aliyah telah menipunya.


"Semua keputusan di tangan Raiz, saya tidak memaksa dia mau menjadi menantu saya atau tidak, karena Jilly-ku sangat berharga untuk seorangpun pengecut yang tidak berani mengakui perasaannya." ujar Jason lagi, terang-terangan doa berbicara seperti itu ditujukan untuk Raiz.


Kyai Ahmad terperangah, pemuda di hadapannya ini benar-benar seperti rumor, terlihat tidak mengenali kata ampun dan acuh. Ia jadi takut jika harus berurusan dengan pria seperti itu, apa lagi jika sampai menjadi besan.


"Ada apa Abi?" tanya Ummi Hana penasaran karena semua orang tampak terdiam, ia mengambil lembaran kertas itu dan kemudian membacanya dengan teliti. Ummi Hana juga tidak percaya Aliyah tega menipu mereka.


"Raiz, Ayah minta maaf, Ayah sama sekali tidak mengetahui hal ini!" ungkap Januar, ia benar-benar tidak menyangka putrinya akan berani melakukan hal segila itu.


"Nak Aliyah, kenapa Nak, kenapa kamu tega berbuat demikian, jodoh, maut hanya Allah yang tau Nak! Mengapa kamu di sini seakan mendahului-Nya? Begitu banyak orang yang kesakitan dan meminta sehat dalam setiap hembusan napasnya, mereka berdoa untuk diberikan umur yang lebih panjang setiap harinya, bahkan ada orang yang ketika bangun pagi dia tak henti-hentinya bersyukur karena masih diberikan kehidupan, kesehatan, dia bersyukur atas nikmat Allah yang sangat sederhana itu, banyak orang yang tidak meminta lebih, hanya ingin sehat, karena dengan sehat mereka sudah menganggap Allah mengasihi mereka, telah memberikan nikmat yang tidak ada duanya, kamu tau? Kami sangat menyayangkan sifat kamu yang seperti ini, jika alasannya hanya karena anak bungsu kami Raiz, seharusnya Nak Aliyah tidak berlaku sejauh itu, katakan... Dengan baik-baik saja, katakan bahwa Nak Aliyah menginginkan Raiz, kami pasti akan mengerti, akan mempertimbangkannya!" ujar Ummi Hana, ia sesungguhnya kecewa terhadap Aliyah.


"Nak, suatu hubungan yang diawali dengan kebohongan itu, tentunya tidak akan baik, kalian akan menikah, saking menerima dan memberi satu sama lainnya, bagaimana bisa tumbuhnya sebuah pernikahan impian didasari dengan sebuah kebohongan? Ibarat tumbuhan, bibit jika ditanam dengan akar yang sudah busuk, maka jikapun tumbuh namun tidak akan sebagus bibit yang unggul, kami tidak meminta calon menantu yang sempurna, karena bukankah tidak ada yang sempurna selain-Nya, tapi setidaknya menantu kami adalah orang yang tau mana yang benar dan mana yang salah, jika dia sudah tau bahwa yang dilakukannya itu salah dan dia tetap melakukannya bagaimana bisa dia menjadi seorang istri yang akan mendampingi seorang suami, yang katanya siap akan resiko bagaimana baik buruknya kehidupan rumah tangga?"


Ummi Hana memegang pipi Aliyah lembut, "Semuanya Ummi serahkan pada Raiz saja, apapun Nak!" lanjutnya.


"Iya Raiz, Ayah minta maaf, sekarang terserah Raiz saja, mau memilih siapa?" sambung Januar.


"Nak..." Kyai Ahmad memegang pundak anak bungsunya itu, dia mengangguk pelan.


"Abi, Ummi, sebenarnya Raiz..."


Bersambung...