
Raiz begitu canggung, niat hati datang ke rumah utama untuk membicarakan perihal anak-anak berprestasi di pondoknya yang akan diundang H-2 sebelum acara ulang tahun ARAD Group, namun malah mendapatkan peringatan semacam itu. Ia sungguh jadi tidak nyaman.
"Apa gue emang kurang bisa ya didik istri!" ujarnya bergumam, sebenarnya dia memang tidak pernah menyuruh Jill untuk melakukan pekerjaan rumah, Raiz terbiasa mengerjakan itu sendiri selama ini, jadi jika hanya ditambah beberapa helai pakaian Jill sungguh dirinya tidak keberatan. Namun nyatanya apa yang dilakukannya juga masih salah.
"Kamu kenapa Ay?" tanya Jill tiba-tiba, menyadarkan Raiz dari lamunannya.
"Eh!"
"Udah selesai sholat magribnya?"
"Udah, baru aja! Kamu udah mandi?" tanya Raiz, karena melihat istrinya itu masih juga mengenakan seragam SMA.
"Ini baru mau, abis bantuin Mama!" jawab Jill, dia mengambil handuk baru dari rak dan kemudian masuk ke kamar mandi.
Raiz memilih menunggu saja, dia akan membicarakan perihal apa yang dikatakan Jason tadi. Sekalian juga, biasanya keluarga ini memang turun makan malam selepas isya.
...***...
"Gimana hari ini?" tanya Shirleen, sembari berbaring di pangkuan Jason, mereka baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah, Shirleen saja bahkan belum melepas mukenanya, rasanya mengenai masalah Jilly dan Jio dirinya ingin bermanja saja dengan suami berondongnya itu, melepaskan beban pikirannya sebentar. Atau misalnya, mendengar Jason yang menghiburnya dengan gombalan receh, itu lebih baik untuk suasana hatinya saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Jason, ia mulai membelai lembut pipi Shirleen.
"Nggak papa!"
"Sedih ya?" tanya Jason lagi.
"Kamu tau kan, kamu yang paling tau! Aku bahkan nggak bisa nyembunyiin apapun dari kamu!" ungkap Shirleen.
"Namanya juga anak-anak By, apa lagi di umur mereka yang masih muda, sedang membutuhkan perhatian khusus semacam itu!"
"Aku tuh bahkan ada pikiran, apa salah ya aku nikahin mereka, ini Jio juga udah mau nikah sama Cel, nanti gimana lagi sikap Jio ke Cel, sedang Raiz aja yang tau banget tentang agama, malah ngembiarin Jill dengan kebiasaan buruknya!" tanya Shirleen.
"Kamu nggak salah kok By, aku juga nggak salah, ya karena Jill emang maunya gitu, nggak ada yang salah, Raiz juga! Ini hanya perihal waktu!"
"Tapi kamu dulu beneran tanggung jawab banget By, aku bahkan sering mikir kenapa masih dewasaan kamu dari pada aku kek nya waktu dulu!"
"Ya itu karena aku nikahnya sama kamu, kamu yang udah siap dari segi apapun untuk menikah, kamu udah cukup umur, udah bisa ngurusin suami dengan baik, jadi nggak ada keraguan, ya aku tinggal mengimbangi!"
"Kamu nggak selalu manjain dia kok By, bahkan kamu perlakuin Jill sama kayak kamu perlakuin Misca!"
"Nah iya, tapi kan Kakak mau gitu belajar, nah Jill?"
"Heh, nggak boleh ngeluh By..." koreksi Jason.
"Iya, tapi kan..."
"Udah, Jill udah punya suami, sebagian tugas kita selesai, selama anak kita nggak disakitin kita nggak berhak urusin rumah tangganya!" ujar Jason, lalu dia memberikan kecupan di kedua mata Shirleen yang ternyata sudah menangis.
"Kamu kuat!" bisik Jason.
"Bisa nggak By, kamu bilang aja ke Jill, beri pengertian jangan kayak gitu, harus mulai belajar tanggung jawab, jadi istri yang baik, bisa diandelin, aku nggak mau By Raiz sampe protes kalau Jill nggak berubah, ya untuk sekarang emang mungkin Raiz masih oke oke aja, tapi gimana untuk sebulan kedepan, dua bulan, setengah tahun nantinya? Semua manusia pasti ada titik jenuhnya!" ungkap Shireen, ia meminta dengan sangat pada suaminya itu.
"Kamu mulai nggak yakin sama menantu kamu?" tanya Jason.
"Aku malah nggak yakin sama Jill!" jawab Shirleen.
"Yang kamu bilang, Raiz bakalan jenuh?"
"Ya kali aja kan!"
"Makanya aku bilang, apa itu artinya sekarang kamu udah mulai meragukan Raiz?"
"Aku berharap Raiz bisa mendidik Jill, lebih baik, lebih tau gimana tanggung jawabnya sebagai seorang istri!" ujar Shirleen.
"Ya sudah, buang ketakutannya urusin suami gantengmu ini aja, aku percaya kok sama Jill dan Raiz, kalaupun nggak tapi kita harus beri kesempatan kan? Ini baru beberapa hari lho By!"
Jason memeluk Shireen mesra, ia tau ketakutan seorang Shirleen, karena hidup dengan Athar dulunya bahkan istrinya itu sudah melakukan apapun namun tetap saja salah di mata mertua laknat, ia tidak mau Jill menjadi istri yang buruk, dia yang sudah berusaha dulunya pun begitu hina, apa lagi Jill yang tidak bisa mengerjakan apapun.
"By, apa di kasih pembantu aja ya?" tanya Shirleen lagi, yang sepertinya masih begitu takut akan rumah tangga Jill dan Raiz.
"Nggak usah, biar jadi urusan mereka berdua aja!" jawab Jason, mengusap lembut punggung istrinya.
Bersambung...