
"Kamu kenapa nggak bilang sih Ay?" tanya Jill sedikit kesal saat mereka sudah di kamar, di luar sana masih ada Bunda dan juga Ayahnya, namun Jill ingin segera menyelesaikan urusannya dan Raiz di kamar.
"Aku udah bilang Ay, tapi kamu nggak denger!" bela Raiz.
"Masa? Kamu pikir aku tuli? Ihh, nyebelin banget sih kamu!" gerutu Jill.
"Udah udah, lain kali pokoknya ya dilihat-lihat lho Ay, kira-kira juga!"
"Jadi kamu nyalahin aku?" sahut Jill tak terima.
"Bukan gitu Ay, aku nggak ada nyalahin kamu kok!"
"Ih, nyebelin, sana keluar kamu!" usir Jill.
Raiz menghela napasnya pelan, beginilah jadinya jika mencintai ABG labil, selama masih bisa mengalah ya sudah dirinya akan mengalah.
"Kamu nggak mau keluar juga? Temuin Ayah sama Bunda, kan Bunda lagi hamil yuk kita temu kangen!" ajak Raiz masih sempatnya.
"Enggak!" ketus Jill.
Padahal belum ada setengah hari keduanya saling meminta maaf, namun Jill sudah membuat masalah lagi.
"Ay..." seru Raiz.
"Ih sana! Aku masih kesel!"
Raiz hanya bisa tersenyum saat terusir begitu, baiklah dia akan keluar.
"Ya udah, nanti kalau kamu nyari aku, kami semua di taman belakang!" ujar Raiz.
"Hemmm..."
"Aku pergi yaaa!"
Tidak ada sahutan, Raiz hanya bisa mengusap pelan dadanya, istrinya itu memang mudah ngambek, namun percayalah nanti juga sebentar lagi akan mencarinya sendiri, Jill nggak bisa lama-lama berjauhan dengannya.
...***...
"Udah ada daftar nama-nama yang akan menerima beasiswa?" tanya Jason pada Raiz, mereka sedang membicarakan perihal anak-anak berprestasi di pondok pesantren, yang akan diundang juga pada H-2 saat perayaan ulang tahun ARAD Group.
"Kemaren sih masih di urus Abi Pa!" jawab Raiz.
"Ohhh, ya sudah nanti kirim aja, lewat email atau via WA juga boleh aja langsung!" ujar Jason.
"Mau berapapun oke aja! Tapi yang benar-benar berprestasi, nah kalau yang nggak mampu juga boleh, nanti kamu urus Roy tambahin bukan cuma yang berprestasi, yang nggak mampu juga." lanjut Jason.
"Oh gitu, okelah Pa, nanti Raiz bilang lagi ke Abi!"
"Langsung WA Ayah aja, nanti Ayah yang bakalan urus soalnya!" jawab Jason, Roy ini memang serba bisa, sudah lumayan tua juga tapi masih begitu banyak rentetan pekerjaannya, ditambah ini ditambah itu, Jason benar-benar sulit untuk mempercayai orang lain, bayangkan saja sudah puluhan tahun Roy berada di posisi asisten pribadi. Jason sama sekali tidak berniat mencari pengganti Roy.
"Oke Pa!"
"Raiz, apa kamu berniat buat jadi guru selamanya?" tanya Jason.
Raiz tertegun, ada apa tiba-tiba Jason menanyakan perihal pekerjaannya.
"Raiz masih nyaman untuk kerja di sana, apa lagi ada Jilly yang harus diawasi." jawab Raiz.
Jason mengangguk lagi, kemudian dia menoleh ke arah Roy, melihat pergerakan asisten pribadinya itu, dan Roy pun mengangguk.
"Kamu mau nggak kalau Papa kasih satu perusahaan?" tanya Jason hati-hati, ia takut menyinggung Raiz.
"Hah?"
"Iya, perusahaan! Papa nggak maksa, tapi kalau mau Papa bakalan urus semuanya, Papa juga tau selama ini kegiatan bisnis kamu, kayaknya kamu cukup berpotensi, dan yah kenapa nggak ngelola perusahaan aja!" tambah Jason lagi.
"Emmm, Raiz..."
"Kamu bisa mikir dulu, Papa nggak minta kamu jawab sekarang, Papa ngerti mungkin mengelola perusahaan bukan passion kamu, cuma kalau bisa kamu pertimbangin aja!"
Raiz mengangguk, "Iya Pa!"
"Mau?"
"Eh! Belum tau Pa, masih mikir dulu kalau bisa, harus diskusiin dulu sama Jilly!" jawab Raiz.
"Ya sudah, memang sebaiknya begitu, atau mungkin kalau kamu mau, kamu bisa kerja di sekolah itu sampe Jill lulus dan bergabung sama Papa nantinya, itu juga boleh!" tawar Jason lagi.
Raiz tampak berpikir, pilihan itu sebenarnya tidak buruk sih, tapi jujur saja menjadi guru BK adalah mimpinya dulu, Raiz suka menghadapi beberapa karakter anak, selama ini dia sangat dekat dengan anak muridnya, hanya saat sudah menikah dengan Jill saja dirinya harus lebih menjaga diri.
"Akan Raiz pikirkan Pa!" sahut Raiz yang memang hanya bisa mengatakan itu, dia tentunya akan. berpikir matang-matang sebelum menerima tawaran itu, bertanggung jawab untuk satu perusahaan itu tidaklah mudah, jangan pernah menganggap remeh pekerjaan sekecil apapun itu, apa lagi sudah sebesar tanggung jawab yang diberikan mertuanya itu padanya.
Bersambung...