
Tidak peduli seberapa buruk yang kau lakukan, bagaimana orang-orang menilaimu!Tapi aku hanya akan melihatmu saja!
^^^Raiz.^^^
___
"Apa?"
"Ya, jelas saja saya menolak! Apa kau memanggil calon mertuamu dengan sebutan Tuan? Bagaimana kau akan berhadapan denganku nantinya?" lanjut Jason, ia sedikit bercanda akan penolakan. Lagi pula dia ingin sedikit membalas penolakan Raiz waktu itu pada putrinya, ada sedikit dendam yang harus segera dirinya balas, yah hanya sedikit.
Tuan Muda ini benar-benar membuat orang kelimpungan saja, becanda anda tidak tepat Tuan!
Roy mendesah pelan kala mendapati Tuan Mudanya itu tidak serius menolak, dia sudah melihat raut wajah masam Raiz tadi, namun melihat itu sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga tampaknya bersyukur, memang sedikit mempunyai dendam karena beberapa hari kemarin anak ustadz itu telah dengan tega menolak putri kesayangannya.
Kali ini, dua orang yang adalah sama-sama orang tua Jill itu nyatanya bisa kompak juga.
"Eehe... Heh, heh!" Raiz tertawa dipaksakan, jantungnya serasa mau lepas karena terkejut, dan calon mertuanya ini malah dengan tanpa bersalah mengatakan itu, bercanda sih bercanda tapi tidak diwaktu yang seperti ini.
"Jadi..."
"Panggil aku Papa seperti panggilan Jill, dan... By, kau tidak menyapa calon mantumu?"
Shirleen langsung saja beringset maju, ia menampilkan senyumnya, lalu saat ia hendak berkenalan Jason malah membisikkan sesuatu padanya, "Kau tau kan aku nggak suka senyumanmu itu jika ditujukan buat orang lain, jangan terlalu ramah bisa nggak sih?" bisik sang suami nggak ada akhlaknya.
Siapa juga yang mau dengan Raiz, Aku ini sudah sangat tua, bukankah terlalu memaksa jika menyukai seorang anak muda semacam Raiz, kalau mau cemburu ya setidaknya dipikir dulu wajar apa tidaknya, dasar suami gila! gerutu Shirleen dalam hati.
"Aku Mamanya Jilly!" sapa Shirleen, tidak ada basa basi meramahkan diri lagi, ada cctv yang tengah mengawasinya.
Lalu Shirleen beralih menuju Ummi Hana dan juga Ibunya Aliyah, ia melihat Aliyah yang terus menangis, kemudian mengusap lembut lengan gadis itu, "Sayang, maafkan Jilly ya, maaf jika kamu harus mengalah, Mama yakin suatu hari nanti kamu akan dapetin pengganti Raiz, bahkan bisa saja yang lebih dari Raiz! Kita hanya bisa berencana, namun di dunia ini Tuhanlah yang menentukan, semoga kamu bisa segera menerima dengan ikhlas, tidak terlalu larut dalam kesedihan, kecewa itu pasti, tapi bisakah Mama Ilen meminta untuk kamu memaafkan, Jilly, Raiz, dan juga kami semua!" ujar Shirleen berpesan pada Aliyah, ia tetap ingin memberikan nasihat meski yang dilihatnya Aliyah menatapnya penuh kebencian.
Mungkin gadis itu hanya tidak bisa mengungkapkannya terlalu berlebihan mengingat keberadaan Jason yang begitu dominan, tentunya Shirleen tau betul suaminya itu sulit untuk mengendalikan diri jika menyangkut dirinya.
"Jadi Tuan Januar, apakah masalah kita sudah selesai?" tanya Jason, dia mengisyaratkan Roy untuk mempersiapkan semuanya.
"Saya benar-benar tidak mengetahui hal ini bisa terjadi, jujur ini sangat membuat saya malu, tapi mau bagaimana lagi, saya juga tidak bisa memaksakan kehendak Raiz, jika Raiz inginnya seperti itu, maka saya juga hanya bisa merestuinya!" ujar Januar.
"Dan untuk Raiz, Om harap kamu tidak membenci Aliyah, untuk kedepannya jangan ada sungkan pada keluarga kami, jangan sampai kejadian ini bisa memutuskan tali silaturahmi keluarga kita, Kyai Ahmad juga, maafkan keteledoran saya, mungkin saya kurang mengawasinya putri saya hingga dia bisa melakukan hal sejauh itu, kedepannya saya akan membimbingnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" lanjutnya.
"Saya rasa sudah, semoga kita juga bisa memiliki hubungan yang baik kedepannya!" Januar mencoba untuk menyalami tangan Jason, seorang pengusaha muda yang juga sangat dikaguminya.
"Tentu, kami menunggu kedatangan keluarga anda di rumah!" jawab Jason. Januar benar-benar tidak menyangka seorang Jason akan menyambut uluran tangannya. Ini benar-benar diluar dugaannya.
Bersambung...