
"Sini dulu Ay!" pinta Raiz, ia menepuk pelan tempat di sebelahnya, menatap Jill dengan full senyum.
Namun, Jill yang mendapatkan reaksi semacam itu, tentunya merasa curiga, dia melihat Raiz tersenyum tidak wajar, seperti sedikit dipaksakan, jantungnya mulai berdetak tidak karuan, ia teringat akan omelan Shirleen, tapi bukankah sedari tadi dirinya bersama dengan sang kanjeng ratu, dan Shirleen pun tidak pernah menemui Raiz.
"Ada apa?" tanya Jill.
"Enggak ada apa-apa, cuma mau kamu duduk aja!" jawab Raiz.
"Hemmm!"
"Kamu ada PR nggak?" tanya Raiz kemudian, ia mengusap lembut puncak kepala Jill, kemudian mendaratkan kecupan singkat di sana. Harum shampo Jill menyeruak di indra pembaunya, seketika Raiz merasa tidak percaya dirinya kini sudah memiliki istri. Padahal, sebelum bertemu dengan Jill tidak ada sama sekali niatnya untuk mengakhiri masa lajang.
"Emmm! Enggak! Kan aku cuma setengah hari masuknya hari ini!" jawab Jill setelah benar-benar memastikan kalau dirinya tidak ada PR.
Tangan Raiz sudah melingkar di pinggang Jill, menjadikan bahu Jill sebagai tumpuan kepalanya bersandar, "Kamu cantik banget sih Ay!" puji Raiz, itu dia tidak berbohong, karena dia benar-benar melihat Jill sebagai pasangan hidup yang hampir sempurna dalam artian fisik.
"Bapak suka receh deh!"
"Yaaa kan dibilang receh lagi!" keluh Raiz, setiap kali dia memuji pastilah Jill akan mengatakan dia sedang menggombal. Padahal pujiannya itu memang tulus dari hati.
"Hemmm, ada apa Ay? Bilang aja!" ujar Jill.
"Aku nggak mau apa-apa, cuma mau gini!" Raiz mendaratkan kecupan lagi di telinga Jill, sayang sekali hari ini status Jill masih harus perawan karena banjir juga belum mereda, mungkin sebentar lagi akan mereda namun masih ada sedikit puing-puing yang tertinggal.
"Yakin?" selidik Jill.
"Haaaahh!" Raiz menghela napasnya berat sembari membetulkan posisi duduk, mengurai lingkaran tangannya di pinggang Jill, ia menatap Jill sedikit lama, lalu ia menunduk dan menarik napasnya lagi, benar-benar sedang mempersiapkan kata-kata supaya tidak membuat istrinya ini tersinggung.
"Ngomong aja Ay!" pinta Jill cepat, melihat reaksi Raiz yang seperti itu tentunya malah semakin membuatnya penasaran.
"Aku bakalan sedikit lebih tegas lagi sama kamu Ay!" ujar Raiz memulai debut memberi pemahaman pada Jill.
"Hemmm!"
Tuh kan bener! Kapan coba Mama ketemu Raiz selain tadi, apa... Astagah, apa mungkin Papa ganteng yang ngomong?
"Jadi maksud kamu aku nggak baik?" potong Jill.
"Memotong pembicaraan juga bukan hal yang baik!" sindir Raiz langsung.
Jill mendengus kesal, namun tetap juga menerima, salahnya juga masih suka terbawa-bawa kebiasaan suka mengintimidasi orang, memutuskan pensiun dini nyatanya tidaklah mudah.
"Gini, aku nggak maksa, kalau kamu belum bisa, tapi seenggaknya kamu ada niatan untuk nyoba!" lanjut Raiz, dia sama sekali tidak marah meskipun nada Jill menyahutinya tadi sudah naik satu oktaf.
"Maksudnya apa nih?" tanya Jill, sebaiknya sih Raiz menjelaskan sesuatu langsung saja pada intinya, mana yang harus diperbaiki. Dasar Jill padahal mah kalau boleh semuanya harus diperbaiki.
"Maksudnya itu..."
"Tentang cel*na dalam lagi?" tebak Jill.
"Haaaahhh!" Raiz menghela napas beratnya, kemudian tersenyum dan mengangguk.
Sementara Jill menunduk dalam, dia tau Raiz tidak akan memakluminya. Padahal sebelumnya tadi dia memang ingin mendiskusikan ini dulu pada Raiz, namun siapa sangka kalau Jason sudah memberikan warning sehingga mungkin saja suaminya ini sudah ketakutan duluan.
"Kamu coba ya!" pinta Raiz, "Untuk hal pribadi kamu, apa lagi misalnya yang termasuk nggak etis kalau aku yang ngerjainnya, aku harap kamu bisa ngerjain sendiri! Kecuali, kalau kamu emang nggak mampu ngerjain, aku nggak masalah kok Ay!" Raiz mencoba memberi pengertian, berharap saja Jill akan mengerti kalau dirinya melakukan ini semua juga demi kebaikannya dan juga kebaikan keluarga kecil mereka yang baru saja dimulai.
"Kamu nggak perlu ngerasa bersalah kok Ay! Maafin aku ya, aku selama ini nggak peka!" sesal Jill. Ia sadar, kalau tindakannya selama ini memang bukanlah hal yang benar. Matanya sudah mengembun, mungkin sebentar lagi air matanya akan mengalir karena tak kuasa menahan sesak, menyesali perbuatannya.
Raiz tersenyum manis, ia langsung memeluk Jill dengan sayang.
"Aku juga minta maaf ya, udah biarin kamu, nggak pernah mau ngajarin padahal hal kek gitu sepele, aku bahkan sampai lupa kalau hal kayak gitu itu nggak baik!" sesal Raiz juga yang seperdetik kemudian mendengar suara Isak tangis di dari seseorang yang sedang berada di pelukannya.
"Kita sama-sama belajar yaaa! Kamu jangan nangis dong Ay!" bujuk Raiz. Ia mengurai pelukannya, menciumi kedua mata Jill yang menangis, "Sayangnya Raiz jangan nangis dong!" rayunya lagi mengusap lembut pipi yang terkena lelehan air mata itu.
Namun bukannya berhenti, Jill malah semakin mengeraskan tangisannya, jujur ia terharu diperlakukan semanis itu.
Bersambung...